Tenang

Seorang sahabat mengirim pesan.  Suaminya dirawat di rumah sakit.  Saat ia bercerita lebih banyak, saya tahu sakitnya cukup berat.  Saya berdoa bagi kesembuhan sang suami.  In syaa Allah beliau telah mendapatkan penanganan medis yang baik. 

Saya memikirkan sang sahabat.  Terkadang mendapati orang yang kita sayangi sakit rasanya lebih menyesakkan dari pada jika kita sendiri yang sakit.  Saya ingin menemaninya melewati masa sulit ini.  Saya ingat pengalaman saat orang yang saya sayangi jatuh sakit.  Saya menulis pengalaman ini untuknya.  Saya ingin memeluknya dalam tulisan ini, semoga ia dapat merasakan saya hadir menemani.


Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kabar bahwa orang yang saya sayangi jatuh sakit.  Hati saya langsung tidak tenang.  Rasa cemas berkecamuk.  Saya ingin segera mengetahui keadaannya tapi saya berada di kota yang berbeda.  Komunikasi telepon mengisyaratkan bahwa beliau tidak baik-baik saja.  Andai saja saya bisa segera ke Bandara dan terbang dengan pesawat pertama.  Namun di masa pandemi bepergian keluar kota bukanlah hal yang dapat dilakukan dengan serta merta.  Banyak syarat yang harus dipenuhi.  Saya harus  menunggu. 

Waktu bergerak lambat.  Saya stres berat.  Kecemasan menguat.  Saya tidak berdaya.  Saya sepenuhnya sadar tidak ada lagi yang bisa saya lakukan dari ibu kota.  Semua usaha yang mendukung ke arah kesembuhan telah diupayakan.  Yang dapat saya lakukan adalah menunggu dan itu membuat saya sangat tidak tenang.  Melihat ponsel setiap saat, menunggu kabar dari kerabat, terkadang bayangan tak menyenangkan berkelebat.  Pikiran saya tak menentu.  Saya tak berselera makan, rasanya juga tak ingin beristirahat.  Saya mengerjakan sesuatu tapi pikiran saya tidak di situ.  Hati saya gundah.  Berada jauh dan tidak dapat berbuat apa-apa untuk seseorang yang sangat saya sayangi membuat saya merasa sangat lemah.

Saya sadar bahwa saya harus melakukan sesuatu agar dapat berpikir jernih.  Saya juga punya tanggung jawab yang harus diselesaikan sebelum meninggalkan ibu kota.  Saya harus mengerjakan beberapa hal karena saya tidak tahu akan berapa lama saya berada di luar kota.  Kegelisahan yang meraja akan mengganggu pengambilan keputusan dan menghabiskan energi.  Saya harus tenang tapi hati saya dipenuhi kekhawatiran.

Yang kemudian saya lakukan adalah bicara padaNya, berdoa sepenuh hati.  Saya memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa.  Saya sampaikan harapan dan kecemasan yang menumpuk di dada.  Saya curahkan semua.

Beberapa saat setelah itu, ingatan saya dipenuhi oleh sebaris ayat.  Laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa.  Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.  Ayat terakhir surat Al-baqarah ini seakan menjadi jawaban bagi semua kecemasan saya.   

Allah yang Maha Penyayang tidak akan memberikan cobaan kepada seseorang kecuali orang itu dapat menanggungnya.  Pemahaman ini membuat hati saya tenang.  Saya tidak perlu terlalu khawatir karena orang yang saya sayangi akan baik-baik saja.  Allah tidak akan memberikan penyakit yang tidak mampu beliau tanggung.  In syaa Allah beliau akan mampu melewati semua ini.  Sebuah keyakinan yang membuat dunia saya kembali bersinar. Demikianlah kekuatan dari rasa percaya. 

Saya percaya bahwa apa pun yang Allah berikan adalah yang terbaik.  Saat Allah memberikan sakit, maka pastilah itu yang terbaik.  Ada hal yang Allah ingin saya pelajari dari kejadian ini.  Saya tidak perlu cemas berlebihan karena Allah telah menetapkan segala sesuatu sesuai dengan takarannya.  Keyakinan ini benar-benar menenangkan hati dan membuat saya kembali dapat berpikir jernih dalam mempersiapkan segala hal yang berhubungan dengan keberangkatan saya.  Berbekal keyakinan ini pula saya melewati masa-masa kritis beliau dengan rasa cemas yang terkendali.    Alhamdulillah saat ini beliau telah pulih.

Semoga Allah juga memberikan ketenangan untuk sahabat saya yang saat ini tengah mendampingi suaminya dan semoga Allah segera pulihkan suami terkasihnya.  Aamiin.

Mutiara, 23 November 2021
Dian L Izwar


“Barang siapa yang dikehendaki Allah kebaikan, maka Dia akan mengujinya.”
  HR. Bukhari


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *