Menuju Al-Aqsha: Kairo (bagian kedua)
Setelah menikmati city tour di Oman, kami menuju Bandara untuk melanjutkan perjalanan ke Kairo. Perjalanan ke Kairo kami tempuh menggunakan maskapai yang sama, namun kali ini penumpang pesawatnya penuh. Kami jadi tak bisa tidur-tiduran di pesawat.. hehehe.. tak apalah, karena durasi terbangnya juga lebih singkat, 3 jam 20 menit.
Pesawat mendarat menjelang magrib di Bandara Internasional Kairo. Bandara ini berada di daerah El Nozha. Pada saat antri di imigrasi, saya mendengar suara wanita berteriak-teriak dalam bahasa yang saya tidak mengerti. Nadanya antara marah dan putus asa. Saya berusaha tenang tapi deg-degan juga, tak biasa mendengar suara seperti itu. Apa yang terjadi? Mengapa wanita itu berteriak? Saya memasang telinga berusaha mendengar suara lain untuk memahami situasi. Namun yang terdengar hanya suara wanita itu saja. Saya tetap tak bisa memahami bahasanya. Hanya suasana tak nyaman yang terasa.
Akhirnya antrian sampai pada giliran saya. Sebelum pemeriksaan paspor, setiap penumpang diukur suhu tubuhnya dengan alat yang diarahkan ke dahi. Mungkin wanita itu terdeteksi demam dan harus dikarantina tapi ia tidak terima. Sampai saya berjalan melewatinya dan meneruskan langkah ke area pemeriksaan paspor, saya masih mendengar teriakannya. Sementara itu juga ada 2 pria yang melangkah dalam diam diiringi petugas menuju ruang karantina, sepertinya mereka juga terdeteksi sedang demam.
Kairo sudah memberlakukan standar pemeriksaan suhu tubuh pada penumpang yang akan masuk ke kota itu. Alhamdulillah semua rombongan kami dapat melalui proses imigrasi ini dengan baik. Saat itu saya tidak tahu bahwa ternyata pada tanggal 14 Februari 2020 pemerintah Mesir telah mengumumkan adanya 1 kasus Corona di Mesir. Itu merupakan kasus Corona pertama yang dilaporkan di benua Afrika.
Pada tanggal 10 Maret malam, setelah mengunjungi beberapa obyek bersejarah di Mesir rombongan kami dikumpulkan di lobi hotel. Pihak travel agent di Mesir menyampaikan dengan suara sedih bahwa ia tahu kami semua ingin berkunjung ke masjidil Aqsha. Mendengar kalimat pembuka ini saya merasa ada sesuatu yang berat akan disampaikannya, bukan berita yang menyenangkan.
Dugaan saya benar. Israel menutup perbatasan dengan Mesir.
“Setelah Israel menutup perbatasan dengan Mesir, kami berusaha agar kita dapat masuk ke Israel melalui Yordania. Namun baru saja saya medapat informasi bahwa Yordania juga telah menutup perbatasannya dengan Mesir.” Demikian ia menyampaikan kabar.
Saya terdiam. Yang diisolir Mesir. Mengapa?
“Negara-negara itu mencegah masuknya Corona dari Mesir ke negara mereka setelah ditemukannya beberapa kasus Corona di Mesir.”
Saya tertegun. Ada Corona di Mesir. Andai saya tahu hal ini sebelumnya. Entah mengapa saya tak mencari tahu berita tentang ini saat masih berada di tanah air. Allah menutupi informasi ini dari saya, mungkin agar saya tetap ikut dalam perjalanan ini.
Berita penutupan perbatasan dari 2 negara ini membuat kecil kemungkinan rombongan kami dapat masuk ke Jerusalem. Beberapa orang langsung ingin pulang ke Indonesia.
“Tujuan kami adalah Al-Aqsha jika tidak mungkin untuk mengunjungi Baitul Maqdis tersebut – yang saat ini memang terasa jauh, seperti namanya – lebih baik segera pulang ke tanah air,” ujar mereka.
Beberapa yang lainnya ingin menghabiskan waktu di Mesir saja. “Mumpung sudah ke Mesir, jalan-jalan saja di Mesir. Kan banyak juga yang bisa dilihat di Mesir,” dalih mereka.
Saya tidak ikut bicara. Saya hanya berdoa agar Allah memudahkan kami semua untuk kembali ke Indonesia dengan segera. Saya memohon agar semua orang dalam rombongan ini selalu sehat dan selamat sampai ke Jakarta dan seterusnya tetap sehat.
Pada tanggal 11 Maret 2020 ketua rombongan memutuskan bahwa kami semua akan ke Yordania pada tanggal 12 Maret dengan pesawat udara dari Kairo. Ternyata Yordania masih menerima turis dari Mesir yang datang melalui jalur udara. Sesampainya di Yordania, rombongan dapat melanjutkan ziarah sesuai itinerary di Yordania atau segera pulang ke Indonesia. Hal ini akan diputuskan nanti setelah sampai di Yordania.
“Tiket pulang kita dari Yordania, akan lebih mudah memajukan tanggal kepulangan jika kita tetap berangkat dari Amman daripada harus re-route untuk pulang dari Kairo,” demikian penjelasan yang diberikan.
Saya menghargai pendapat ketua rombongan untuk membawa kami ke Yordania, ia berusaha memberikan yang terbaik untuk semua orang. Namun saya tetap berdoa agar kami bisa segera kembali ke Indonesia karena berjalan-jalan di situasi seperti ini bukanlah pilihan saya. Ya Allah, aku serahkan semua urusan kepadaMu, saya hanya dapat memohon kepadaNya. (bersambung ke bagian tiga)
Mutiara, 17 Maret 2020
Dian L Izwar
Catatan: tulisan ini saya buat setahun yang lalu.
“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
QS. At-Taghabun ayat 11

Berserah diri padaNYA adalah yang terbaik…
Iya.. yakin akan kasih sayang dan perlindunganNya.