Melati Pagi

Saat berjalan kaki tadi pagi, mata saya terpikat pada kuntum mungil yang mekar di pagar hidup sepanjang sisi rumah. Wangi ringan tercium terbawa angin, menyebarkan aroma khas melati.  Saya senang memetik kuntum-kuntum putih itu dan meletakkannya di kamar sebagai pewangi ruangan.

“Nanti dipetiknya dalam perjalanan pulang saja,” pikir saya saat melintasi jejeran kuntum putih di antara dedaunan hijau. Saya pun melanjutkan olah raga sembari menikmati pagi.

Usai berjalan pagi, saya kembali melewati rute sisi kiri rumah agar dapat memetik si putih yang wangi itu. Membayangkannya saja saya sudah senang, apalagi menaruhnya dalam genggaman lalu menikmati wanginya sepanjang hari.  Bayangan indah ini seketika sirna saat saya sampai di depan pagar melati. Dedaunan itu tampak sangat hijau. Hanya hijau, tak ada kuntum putih yang tadi bermunculan di sela dedaunan. Terlihat bekas-bekas tangkai yang memberi isyarat bunganya telah dipetik, entah oleh siapa.  Rasa kecewa hadir tanpa diminta.

Saya menarik napas.  Meski pohon melati ini adalah bagian dari taman yang saya rawat, letaknya di bagian luar rumah.  Siapa saja bisa lewat dan menikmati bunganya.  Mungkin seseorang juga senang dengan kuntum-kuntum mungil ini kemudian memetiknya.  Memikirkan hal ini membuat saya ingat sebuah hadis yang mengatakan bahwa tanaman yang dimakan binatang atau dimanfaatkan oleh orang lain adalah sedekah bagi penanamnya.  Ma syaa Allah.  Ingatan mengenai hadis ini memberi rasa baru di hati saya.  Pagi ini saya telah bersedekah!  Alhamdulillah.  Rasa kecewa yang tadi hadir tiba-tiba hilang, berganti rasa syukur di hati.  Saya tidak dapat menikmati wangi melati hari ini tetapi saya yakin Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.  Semoga Allah menerima kerelaan saya akan bunga-bunga yang telah dipetik itu sebagai sedekah terbaik.  “Izinkan hamba menikmatinya kelak di surgaMu ya, Allah,” pinta saya sambil melangkah menuju rumah dengan hati ringan.

Peristiwa hilangnya melati pagi ini memberikan gambaran bagaimana pikiran memengaruhi perasaan.  Saat saya berpikir bahwa melati yang saya rawat itu milik saya dan hanya sayalah yang berhak menikmatinya, saya kecewa.  Namun saat saya berpikir bahwa ada orang lain yang mungkin juga menyukainya kemudian memetiknya, saya maklum.  Saat saya berpikir bahwa bunga melati yang hilang itu bernilai sedekah, saya bahagia.  In syaa Allah ada “bekal” yang dibawakan oleh sang pemetik melati untuk kelak dinikmati di kehidupan abadi.  Dalam hitungan menit, rasa hati saya berubah.  Berpindah dari rasa kecewa menjadi syukur ternyata bisa dan terasa sangat indah.  Ma syaa Allah.  

Saya bersyukur karena pagi ini dapat bersedekah.  Sesuatu yang tidak saya rencanakan tetapi Allah bukakan peluang.  Saya hanya perlu menerima hilangnya si melati, menerima rasa kecewa yang hadir dan menganalisa mengapa saya merasa kecewa kemudian mengubah apa yang saya pikirkan mengenai kejadian itu untuk menghadirkan rasa baru.  Kuncinya ada pada apa yang saya pikirkan.  

Apa yang kita pikirkan menentukan apa yang kita rasakan.  Dalam psikologi, kemampuan untuk mengatur pikiran sangat erat kaitannya dengan kesehatan mental.  Semakin positif pikiran kita mengenai suatu hal, semakin sehat pula mental kita, in syaa Allah.  Kemampuan mengolah pikiran ini juga dikenal dengan istilah reframing, yaitu memberi bingkai baru pada sebuah peristiwa.  Kejadiannya tetap sama, tetapi cara kita memandang kejadian itu dapat kita ubah sehingga menghasilkan pikiran dan perasaan yang lebih positif.

Namun demikian, berpikir positif tidak berarti menafikan rasa tidak nyaman yang ada.  Bila sedih, kecewa atau marah hadir di hati, kita perlu menerima rasa itu lalu renungkan pikiran apa yang membuat kita merasa demikian.  Kemudian, ubah cara pandang kita terhadap kejadian tersebut untuk mendapatkan pikiran dan suasana hati yang lebih positif.  Berbaik sangka kepada Allah adalah langkah awal dalam mengubah cara pandang.  Yakinlah selalu ada kebaikan dalam setiap hal yang Allah berikan pada kita.  In  syaa Allah.

Mutiara, 19 April 2026
Dian L Izwar


“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau tanaman, kemudian dimakan oleh burung, manusia, atau hewan ternak, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya.”
(HR. Bukhārī: 2320 & Muslim: 1553)


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *