Meneladani Rasulullah dalam Mengelola Kesehatan Mental
Beberapa hari yang lalu sahabat dari Forum Pengkajian dan Pengamalan Islam (FPPI) Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia menghubungi saya untuk menjadi narasumber dalam acara kajian bagi civitas academica FIK-UI. Tema yang diminta adalah meneladani Rasulullah
dalam mengelola kesehatan mental, topik yang sangat berkaitan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia tanggal 10 Oktober besok.
Saat diminta untuk menyampaikan materi tersebut, langsung terlintas dalam ingatan saya peristiwa turunnya ayat pertama di Gua Hira. Ketika itu Rasulullah
yang sedang menyendiri di dalam gua diminta malaikat Jibril untuk membaca. Rasulullah
yang tidak dapat membaca menjawab bahwa beliau
tidak bisa. Jibril kemudian mendekap Rasulullah
dengan sangat erat hingga beliau
merasa tidak berdaya, melepaskan dekapannya dan kembali meminta beliau
untuk membaca. Hal ini berulang tiga kali hingga Jibril membacakan surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5.
Kedatangan Jibril di gua Hira itu merupakan kejadian luar biasa yang dialami Rasulullah
. Beliau
pulang dalam keadaan gemetar dan takut. Rasulullah
bergegas menemui Khadijah dan minta diselimuti. Rasulullah
kemudian menceritakan peristiwa tersebut pada Umul Mukminin yang mendengarkan dengan penuh perhatian. Khadijah binti Khuwailid juga menenangkan suaminya dengan kata-katanya yang bijak, “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, karena engkau adalah orang yang menyambung silaturahmi, seorang yang jujur dalam tutur kata, menolong yang lemah, memberi orang yang tak punya, engkau juga memuliakan tamu dan membela kebenaran.”
Kemudian Khadijah mengajak Rasulullah
menemui Waraqah bin Naufal, sepupu Khadijah yang berilmu tinggi. Waraqah bin Naufal mendengarkan cerita Rasulullah
dan menjelaskan bahwa itu adalah malaikat yang pernah mendatangi Nabi Musa dan Rasulullah
akan menjadi seorang Nabi.
Dari gambaran peristiwa yang diceritakan oleh Aisyah dalam riwayat Bukhari yang shahih menurut ijma para ulama ini, saya belajar bahwa saat berada dalam keadaan tidak nyaman secara psikologis, yaitu saat diri kita tidak mampu menanggung beban yang sedang dihadapi, kita butuh seseorang untuk berbagi. Seseorang yang kita percaya dan memahami kita dengan baik. Sosok yang hadirnya memberi ketenangan, pelukannya menghangatkan, dan genggamannya menguatkan. Pribadi yang menerima kita apa adanya dan tahu apa yang kita butuhkan. Ma syaa Allah, Khadijah dihadirkan Allah bagi Rasulullah
untuk memberi teladan bagaimana pentingnya mempunyai seseorang yang dekat dan dapat diandalkan.
Di zaman yang serba cepat sekarang ini, relasi antar manusia telah banyak berubah. Persahabatan kerap terasa hanya di permukaan. Terkadang waktu lebih banyak dihabiskan di dunia maya daripada mengenal seseorang secara mendalam. Hubungan dengan sesama lebih bersifat transaksional. Interaksi yang mendekatkan hati semakin berkurang. Hal ini secara tidak sadar menghilangkan ruang untuk bersandar di kala letih.
Manusia bukanlah makhluk sempurna dan kehidupan memang hadir sebagai ujian. Dalam keadaan hati yang berbolak balik dan iman yang terkadang turun naik, kita butuh seseorang – sosok nyata yang kuat dan terpercaya. Ia tidak bisa digantikan oleh artificial intelligence yang sekarang marak dijadikan “sahabat”. Kehangatan dan kebijaksanaan tidak dapat diberikan oleh mesin.
Menemukan sahabat sejati memang tidak mudah, perlu proses dan waktu – dua hal yang saat ini semakin langka. Berproses dan meluangkan waktu untuk saling mengenal dengan baik adalah kunci dalam menemukan sahabat yang tepat. Lebih dari itu, dalam pencarian sahabat ini kita juga perlu melatih diri untuk menjadi seseorang yang dapat diandalkan. Belajar mendengarkan dan berempati, mengasah kemampuan mengenali emosi dan memperluas wawasan adalah beberapa hal yang dapat dilatih dengan sengaja. Dengan kemampuan ini kita akan menjadi sosok yang dicari. Mengembangkan diri menjadi pribadi yang bisa diandalkan in syaa Allah akan membawa kita dekat dengan sosok yang juga dapat diandalkan. Jiwa-jiwa yang senada biasanya akan berjalan bersisian, saling menguatkan dalam badai dan saling mengingatkan bila lalai.
Kembali pada tema kesehatan mental, Rasulullah
adalah teladan bagi kita semua. Dari satu kisah ini saja, saya belajar bahwa mengakui kita butuh pertolongan adalah sebuah kebesaran jiwa yang mengarah pada kesehatan mental. Meminta bantuan bukanlah kelemahan, menemui seseorang yang lebih ahli dapat menjadi salah satu solusi kegelisahan hati.
Seperti Rasulullah yang datang menemui Waraqah bin Naufal, kita juga dapat menghubungi psikolog, psikiater atau konselor kesehatan mental lainnya bila masalah yang ada tak lagi dapat kita selesaikan sendiri. Tentunya dengan selalu menyandingkan segala ikhtiar dengan doa karena hanya atas rahmatNyalah semua masalah bisa diatasi.
Bismillah, semoga Allah mudahkan kita meneladani Rasulullah
dalam mengelola kesehatan mental dan menjadi pribadi yang bisa diandalkan. Salam sehat mental, Sahabat. There is no health without mental health.
Mutiara, 9 Oktober 2025
Dian L Izwar
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
Q.S. Al-Ahzab: 21
Catatan hadits:
Hadits Bukhari No. 3, Kitab Permulaan Wahyu, Bab Bagaimana Permulaan Turunnya Wahyu kepada Rasulullah, Buku Fathul Bari karangan Ibnu Hajar Al-Asqalani. Diunduh dari aplikasi Hadith Encyclopedia.

Terima kasih bu dian sudah berbagi, sehat selalu ibu ❤️
Sama-sama. Semoga kita selalu sehat yaa… ❤️