Sendiri

“Saya selalu sendiri, Bu.”  Perempuan muda di hadapan saya berkata lirih.  Air mata membayang di wajah sendunya.

“Dia tidak pernah peduli.  Saya benar-benar sendiri,” lanjutnya dengan suara bergetar, terasa pilu.

Saya dengarkan ia bercerita.

“… bahkan waktu saya sakit, saya nggak berdaya… dia nggak bantuin saya…”  Air matanya tumpah.  Bulir bening mengalir deras di raut yang sedari tadi terbalut mendung.

Sedih, kecewa dan marah seakan bercampur dalam derasnya air mata.  Sosok yang diharapkan sebagai tempat bersandar bersikap jauh dari harapan.  Wanita muda ini terluka, dan lukanya sangat dalam. 

Luka hati yang ditoreh belasan bulan lalu masih menyisakan perih.  Seolah setiap peristiwa menggores kembali luka itu.  Ia merasa lemah, sepi dan sendiri.  Tidak ada siapa-siapa.  Tak ada yang peduli. 

“Bagaimana Mbak melewati hari-hari itu?” saya bertanya setelah tangisnya reda.

“Ada orang baik yang menolong.  Orang lain, bukan dia,” jawabnya.

“Alhamdulillah.”

“Alhamdulillah saya bisa sembuh.  Tapi dia tetap nggak peduli.  Saya bisa bertahan karena ada orang-orang baik yang menolong.  Saya tetap sendiri, Bu.  Benar-benar sendiri.” 

Ia menekankan kata sendiri dalam kalimatnya, seakan ingin menegaskan keadaan sunyi dan menyakitkan yang dialaminya. 

“Siapa yang menggerakkan orang-orang baik itu?”  Saya bertanya.

Matanya membulat.  Ada nada tanya di sana. 

Saya mengulangi pertanyaan, “Siapa yang menggerakkan mereka untuk menolong Mbak?”

Ia menunduk. 

Beberapa saat berlalu.  Saya menunggu.

Ia mengangkat wajah dengan mata berkaca-kaca, “Allah?”

Saya mengangguk, “Allah yang mengirim semua orang baik itu.  Allah yang menggerakkan mereka untuk membantu.  Allah yang membuat mereka hadir di sana pada saat itu.”

“Ya Allah, Ibu…  Kenapa saya nggak ingat ini?  Ya Allah…” Ia kembali menangis.  Namun tangisnya berbeda.  Rona wajahnya berubah.

“Kita tidak pernah benar-benar sendiri.  Selalu ada Allah.”

“Iya, Bu.  Ada Allah.  Selalu ada Allah.  Ya, Allah.  Terima kasih, Ibu.”  Ia menatap saya, secercah senyum hadir di wajahnya.  Meski pipinya basah, ada binar di matanya.  Sebuah nyala kecil, sebuah harapan.  Alhamdulillah.  Tabarakallah. 

=============

Terkadang, kita lupa bahwa apa yang kita alami terjadi atas izin Allah.  Allah yang Maha Melihat mengetahui setiap kejadian.  Di situasi sesulit apa pun, kita tidak pernah sendiri.  Menyadari kehadiran Allah dalam hidup adalah kekuatan yang mampu membuat kita bertahan menghadapi setiap ujian.  Meyakini dekatnya pertolongan Allah membuat kesabaran in syaa Allah terasa lebih mudah, selalu ada harapan.  Semua ini akan menghadirkan ketenangan hati dalam menjalani hari, in syaa Allah.

Di Ramadan ini, di saat kita semua berlomba dalam kebaikan, masjid-masjid diramaikan, shalat sunah ditegakkan, Alquran dibaca siang malam, semoga kehadiran Allah dapat lebih kita rasakan.  Segala hal yang kita alami bukanlah kebetulan.  Ia tidak terjadi begitu saja.  Semua terjadi atas izin Yang Kuasa.

Di bulan mulia ini, semoga kita dapat lebih memahami bagaimana Allah mengatur segala hal baik yang kita dapatkan.  Semoga kita dapat lebih menyadari bagaimana sebuah keburukan telah dijauhkan dan bagaimana sebuah lintasan keinginan menjadi kenyataan atas izin Allah. 

Semoga semua bentuk ketaatan yang kita lakukan lebih mendekatkan kita pada Allah, dan mampu membuat kita lebih merasakan rahmatNya yang selama ini tercurah.  Dan atas semua itu, seperti teladan Rasulullah , semoga membuat kita menjadi lebih bersyukur.  In syaa Allah.   

Mutiara, 23 Februari 2026/ 5 Ramadan 1447 H
Dian L Izwar


Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

QS. Al-Baqarah: 214

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *