Ramadan & Adiksi
“Selama Ramadan, rokoknya berhenti, Pak?” tanya saya pada salah seorang peserta Smoking Cessation Program. Kala itu saya tengah mendampingi beberapa karyawan dari sebuah perusahaan untuk berhenti merokok.
“Kalau puasa berhenti, Bu.” Jawaban ini diberikan oleh 100% peserta yang berpuasa.
Beberapa dari mereka menjauhi rokok selama Ramadan, sementara yang lain berhenti merokok dari subuh hingga magrib. Meski tidak semua peserta menghentikan perilaku merokok secara total, mereka dapat menahan keinginan mengisap rokok selama sekitar 14 jam saat melakukan ibadah puasa. Hal ini menunjukkan bahwa sejatinya setiap orang mempunyai kendali atas perilakunya.
Kendali atas perilaku ini kerap terlupakan. Yang terjadi kadang sebaliknya, kita diseret oleh adiksi. Kita tak dapat menahan diri untuk selalu melihat ponsel, misalnya, atau tak bisa berhenti scrolling. Ramadan hadir membawa perubahan. Aktivitas khusus selama Ramadan mengubah rutinitas harian seorang muslim. Bangun dini hari untuk sahur bukanlah kebiasaan setiap orang, Ramadan membuat kita melakukan hal ini selama sebulan. Kemudian Ramadan menetapkan waktu berbuka tepat saat magrib setelah keharusan menahan diri selama lebih dari setengah hari.
Dalam perintah puasa, Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan untuk mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka. Apa hikmahnya? Kita akan bangun untuk sahur dan makan pada waktu yang sama selama sebulan. Rutinitas ini membentuk sebuah irama baru di dalam diri.
Bila diperhatikan, kita masih akan mudah terjaga di waktu sahur selama beberapa waktu setelah Ramadan berlalu. Berapa orang langsung menarik selimut lagi. Mereka akan segera kembali pada kebiasaan tidur sebelum Ramadan karena perilaku bangun sahur yang baru terbentuk tidak diteruskan. Sebaliknya, bila rutinitas bangun di waktu sahur dipertahankan, aktivitas ini akan berkembang menjadi sebuah perilaku yang menetap.
Penelitian menunjukkan bahwa dalam pekan pertama pembentukan sebuah perilaku, seseorang masih akan merasa terpaksa melakukannya.
Pada pekan kedua, seseorang butuh usaha secara sadar untuk terus melakukan perilaku tersebut.
Pada pekan ketiga, perilaku sudah mulai dapat dilakukan dengan santai. Kita tentu menyadari bahwa bangun sahur di pekan ketiga tidak lagi terasa seberat hari-hari sebelumnya.
Pada pekan keempat, perilaku mulai menjadi otomatis. Tubuh sudah menyesuaikan diri dengan pola baru. Dalam kajian neurosains, telah terbentuk jalur sinap yang kuat di daerah yang bertanggung jawab terhadap kendali diri dan pengambilan keputusan. Inilah yang menyebabkan di hari-hari awal usai Ramadan kita akan mudah terbangun pada waktu sahur. Tugas kita adalah tetap bangun minimal 30 hari berikutnya bila bangun dini hari ini ingin dijadikan kebiasaan yang menetap.
Pola pembentukan perilaku seperti bangun sahur ini terjadi pada semua kebiasaan baru yang kita lakukan selama Ramadan, misalnya berdoa sebelum makan, mendengar kajian, shalat tepat waktu, tilawah Al-Qur’an, bersedekah, menahan marah, menjaga lisan, bersabar, bersilaturahmi, membatasi durasi online, mengurangi frekuensi bermain games sampai berhenti merokok.
Beberapa klien yang memilih untuk benar-benar berhenti merokok selama Ramadan lebih mudah melanjutkan kebiasaan baik ini setelah Ramadan. Hal ini karena semua perilaku yang awalnya dipaksakan sudah menjadi hampir otomatis di akhir Ramadan. Ramadan mempersiapkan kita untuk lebih mudah berubah melalui pola rutinitas yang telah kita jalani di bulan ini. Dengan melanjutkan pola yang sama di bulan Syawal, perilaku yang kita pilih akan menjadi kebiasaan yang menetap, in syaa Allah.
Sunah meneruskan puasa Ramadan dengan puasa di awal Syawal merupakan salah satu sarana untuk mempertahankan pola menahan diri yang tercipta di Ramadan. Seolah “Ramadan” berlanjut di bulan Syawal. Semakin sering sebuah perilaku diulang, akan semakin kuat pula perilaku itu tertanam dalam diri. Tak heran bila seseorang yang menyambung puasa Ramadan dengan puasa 6 hari di bulan Syawal akan merasa lebih ringan juga untuk melanjutkannya dengan puasa Senin – Kamis. Puasa sudah menjadi kebiasaannya.
Satu hal menarik yang saya temukan saat mempelajari bahasa Arab adalah kata Id dalam Idul Fitri berasal dari akar kata ع ي د yang berarti kembali (pada keadaan semula) dan juga dapat berarti kebiasaan (sesuatu yang dilakukan berulang sehingga menjadi jati diri) atau hari Raya (yang berulang setiap tahun dan membuat orang kembali berkumpul). Ma syaa Allah, pemahaman mengenai akar kata Id ini membuat saya memaknai Idul Fitri sebagai hari penting yang menentukan apakah sesuatu yang kita lakukan berulang selama Ramadan akan menjadi jati diri kita yang baru atau tidak. Idul Fitri menjadi hari penentuan apakah kebiasaan menahan diri selama Ramadan akan kita teruskan di hari-hari berikutnya atau akan menghilang dengan berlalunya bulan mulia ini.
Memaknai Idul Fitri sebagai titik penentuan membuat saya memahami mengapa di ujung ayat perintah puasa digunakan kata la’alla. La’allakum tattaquun berarti semoga kamu menjadi orang yang bertakwa, belum pasti takwa. Tersirat makna bahwa tidak semua orang berpuasa akan bertakwa. Boleh jadi gelar takwa baru akan tersemat pada orang-orang yang secara sadar meneruskan perilaku bentukan Ramadan hingga menjadi sebuah perilaku yang menetap setelah Ramadan berlalu. Kata la’alla mengindikasikan adanya pilihan dan pilihan itu ada di tangan kita.
Bismillah, semoga Allah tuntun kita mengambil pilihan terbaik. Semoga kita memperoleh kemenangan yang hakiki. Selamat menyambut Idul Fitri, Sahabat. Taqabbalallahu minna wa minkum.
Mutiara, 18 Maret 2026/ 28 Ramadan 1447 H
Dian L Izwar
“…, sesungguhnya amalan yang dicintai oleh Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.”
HR. Bukhari No. 6464
