Mahkota untuk Nenek
Kejadiannya sudah lama. Kala tadi mendengar kajian Nouman Ali Khan mengenai keistimewaan Ramadan sebagai bulan Alquran, saya terkenang kisah ini.
Suatu ketika, seorang sahabat bercerita bahwa anaknya khatam juz 30. Tentu saja ia senang dan bangga. Namun yang membuatnya sangat terharu adalah tekad sang buah hati untuk terus menghafal Alquran.
“Aku mau kasih mahkota untuk Ayah dan Ibu. Kata Ustadz, kalau anaknya menghafal Alquran nanti orang tuanya akan dikasih mahkota dari cahaya. Aku mau hafal terus sampai 30 juz biar bisa kasih mahkota untuk Ayah dan Ibu.” Kurang lebih demikian ungkapan tekad yang disampaikan.
Ibu mana yang tak terharu mendengar ini. Sang sahabat merasa sangat bersyukur Allah telah membukakan hati putranya untuk menjadi penjaga Alquran. Dipeluknya ananda dengan penuh kasih. Diciuminya dengan rasa sayang dan syukur. Kira-kira begitulah ia mengungkapkan haru yang menyelimuti hati.
Di tengah suasana haru tersebut, sang buah hati bertanya, “Ibu nggak mau kasih mahkota juga buat Nenek?”
Selama ini sang sahabat memang berusaha agar anak-anaknya menjadi penghafal Alquran. Pertanyaan lugu yang baru saja terdengar mengusik hatinya. Ia seolah diingatkan lagi akan perannya sebagai anak. Sang sahabat pun membulatkan tekad. Ia belajar pada sebuah lembaga tahfiz Alquran dan kini menjadi guru yang mengajarkan cara membaca Al-Furqan. Meski latar belakang pendidikannya tidak dari sekolah agama, ia berusaha dengan sungguh-sungguh meningkatkan kemampuannya dalam membaca dan menghafal Kalamullah. Ma syaa Allah.
Sebagai orang tua, terkadang kita sangat fokus pada pendidikan anak sehingga lupa memikirkan diri sendiri. Padahal belajar hendaklah sepanjang hayat, apalagi mempelajari kitab mulia yang menjadi pedoman hidup setiap muslim. Mungkin kita tidak bisa menjadi guru yang mengajarkan Al-Haqq seperti sahabat yang saya ceritakan di atas tapi minimal interaksi kita dengan Alquran senantiasa meningkat. Iqra, kata pertama yang mengawali turunnya Alquran adalah perintah yang seharusnya kita laksanakan seumur hidup.
Iqra dalam bahasa Indonesia dimaknai sebagai perintah membaca; bacalah! Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, baca atau membaca adalah sebuah kata kerja yang antara lain berarti (1) melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati) (2) mengeja atau melafalkan apa yang tertulis (3) mengucapkan. Merujuk pada definisi di atas maka membaca Alquran berarti lebih dari sekedar melafalkan ayat-ayat yang tertulis. Membaca juga berarti memahami makna yang terkandung di dalam setiap ayat. Pemahaman yang baik akan makna Al-Bayan in syaa Allah akan memudahkan kita dalam mengamalkannya.
Ramadan sebagai Syahrul Quran adalah saat yang tepat untuk mulai meningkatkan interaksi dengan mushaf yang selalu terjaga ini. Di bulan suci yang disambut penuh suka cita, kita diingatkan untuk kembali pada Kitabullah. Membaca, menadabur, menghafal dan mengamalkan Al-Huda adalah aktivitas yang dianjurkan sebagai kegiatan pengisi Ramadan. Intensitas yang tinggi dalam relasi dengan Ar-Rahmah selayaknya mendatangkan cinta dan rindu. Mudah-mudahan Ramadan tahun ini membawa kita makin dekat dengan Al-Hikmah.
Selamat menyambut datangnya Ramadan, Sahabat. Semoga Allah mudahkan kita menjadi sahabat Alquran sampai nanti tiba waktunya kita kembali pada Sang Pemilik Kalam. Aamiin.
Mutiara, 21 Maret 2023 / 2 hari menjelang Ramadan 1444 H
Dian L Izwar
“Barangsiapa yang membaca Alquran dan melaksanakan apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orang tuanya pada hari kiamat nanti akan dipakaikan mahkota yang sinarnya lebih terang dari pada sinar matahari di dalam rumah-rumah di dunia, jika matahari tersebut ada diantara kalian, maka bagaimana perkiraan kalian dengan orang yang melaksanakan isi Alquran?”
HR. Abu Daud
