Merumuskan Judul Penelitian Kuantitatif
Saat menulis skripsi, mahasiswa biasanya akan mengajukan judul penelitian pada dosen pembimbing. Harapannya adalah sang dosen menyetujui judul tersebut dan penelitian dapat segera dilaksanakan. Pada kenyataannya tidak selalu sebuah judul langsung disetujui, bahkan ada mahasiswa yang diminta pembimbing untuk mencari judul baru hingga beberapa kali. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Meskipun namanya judul dan ditulis di paling awal dari sebuah laporan penelitian, proses menemukan judul penelitian tidaklah instan. Judul yang dibuat tanpa persiapan yang matang akan sering ditolak. Untuk menghindari hal itu, ada 4 langkah yang perlu dilakukan peneliti sebelum mengajukan judul penelitian.
Langkah pertama adalah menentukan topik penelitian. Topik ini sebaiknya merupakan hal yang cukup dipahami, ingin diketahui lebih jauh dan disukai oleh peneliti. Meneliti hal yang disenangi akan meningkatkan motivasi dan memudahkan peneliti dalam membaca literatur yang dibutuhkan untuk merumuskan masalah. Sebagai contoh, saya ingin tahu lebih banyak tentang depresi. Maka saya menetapkan depresi sebagai topik penelitian saya.
Setelah memilih topik, saya perlu mempersempit lagi area yang akan saya ulas mengenai depresi. Saya bisa memilih tentang insiden depresi, penyebab depresi, dampak depresi pada mahasiswa, atau hal-hal lain seputar depresi. Topik yang telah dipersempit ini membuat peneliti lebih fokus untuk melakukan studi literatur atau pengamatan fenomena yang terjadi di masyarakat. Tak perlu mengumpulkan puluhan jurnal namun akhirnya bingung sendiri karena topik bahasan yang meluas.
Langkah kedua adalah menuliskan latar belakang masalah. Bagian ini berisi argumentasi peneliti mengenai pentingnya masalah yang diangkat. Mengapa masalah ini perlu dikaji? Apa manfaatnya bagi pengetahuan? Bagaimana aplikasi praktisnya di lapangan? Latar belakang masalah juga dapat berisi kesenjangan antara teori dan fenomena yang terjadi di masyarakat, hasil-hasil penelitian terdahulu yang bertentangan atau data-data lain yang membuat masalah tersebut penting untuk diteliti.
Kembali pada contoh depresi, saya mempersempit topik penelitian menjadi insiden depresi. Saya mengamati bahwa tingkat depresi di daerah perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan (pengamatan saya ini harus didukung oleh data yang bisa dipertanggung jawabkan – misalnya hasil riskesdas 2018 atau laporan penelitian lainnya). Selanjutnya juga saya mengamati bahwa orang yang tinggal di kota lebih jarang bergerak secara fisik dibandingkan dengan orang yang tinggal di desa (sekali lagi, hasil pengamatan ini harus ditunjang oleh data yang sahih). Dihadapkan pada dua data pengamatan ini, saya lalu berpikir apakah kebiasaan gerak fisik berpengaruh pada tingkat depresi?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya mencari teori yang lebih lengkap mengenai depresi. Saya menemukan ada 18 faktor yang berhubungan dengan rendahnya kejadian depresi pada seseorang dan salah satunya adalah rajin berolah raga (Factors that affect depression risk | National Institutes of Health (NIH)). Informasi ini sejalan dengan pertanyaan yang saya pikirkan saat mengamati insiden depresi di perkotaan.
Langkah berikutnya adalah membuat rumusan masalah penelitian, yaitu: “Apakah ada pengaruh kebiasaan berolah raga terhadap kejadian depresi?” Saya ingin tahu apakah benar orang yang rajin berolah raga tidak mudah mengalami depresi. Ini merupakan tujuan dari penelitian saya.
Setelah merumuskan masalah, peneliti perlu memikirkan subyek penelitian. Siapa yang akan menjadi sampel dari penelitian ini? Standar emas penelitian adalah pengambilan sampel secara acak dari populasi, tetapi kita bisa juga menggunakan metode non-probabllity sampling jika penggunaan metode probability sampling dirasa lama dan sulit.
Untuk kemudahan pelaksanaan penelitian, saya memilih sampel mahasiswa psikologi semester 6. Dengan demikian rumusan masalah penelitian saya menjadi: “Apakah ada pengaruh kebiasaan berolah raga terhadap kejadian depresi pada mahasiswa semester 6 Fakultas Psikologi Universitas X?”
Dari rumusan masalah ini, peneliti perlu menetapkan variabel penelitian. Variabel terikat (dependent variable) adalah kejadian depresi dan variabel bebas (independent variable) adalah kebiasaan berolah raga.
Langkah terakhir sebelum menetapkan judul adalah operasionalisasi variabel. Pada penelitian ini saya berencana menggunakan skala DASS-21 (Depression Anxiety Stress Scale-21) untuk mengukur depresi dan menggunakan kuesioner tertutup untuk mengukur kebiasaan berolah raga. Operasionalisasi variabel penelitian ini penting karena judul yang ditetapkan harus bisa diukur. Jika tidak bisa diukur, dosen pembimbing akan meminta kita mencari judul baru. 🙂
Nah, setelah semua ini tertuang dalam draf penelitian, barulah peneliti menuliskan judul penelitian. Judul diambil dari rumusan masalah dengan menghilangkan kata tanya. Judul penelitian saya adalah: Pengaruh kebiasaan berolah raga terhadap kejadian depresi pada mahasiswa semester 6 Fakultas Psikologi Universitas X.
Jadi, sebuah judul penelitian ditetapkan setelah peneliti membuat rancangan penelitian, bukan sebaliknya. Dengan demikian, judul yang diajukan merupakan hasil pemikiran yang matang dan dapat dipertanggung jawabkan pada sesi bimbingan dengan dosen. Tidak perlu mengajukan banyak judul, cukup satu judul yang telah dipersiapkan dengan baik. Dalam proses diskusi, dosen pembimbing akan melihat hal-hal yang masih perlu dilengkapi dan mengarahkan peneliti untuk melakukan riset secara lebih optimal, in syaa Allah.
Secara sederhana, langkah perumusan judul penelitian dapat dilihat pada bagan berikut.

Artikel ini saya tulis untuk para peneliti muda, para mahasiswa tingkat akhir yang akan memulai penelitian. Siapkan dirimu sebelum bertemu dosen pembimbing. Pahami topik yang akan diteliti, banyak membaca dan seringlah berdiskusi dengan sesama rekan mahasiswa. Bismillah, semoga Allah mudahkan kalian dalam belajar dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
Mutiara, 21 Agustus 2024
Dian L Izwar
“Ya Allah, berilah manfaat ilmu yang Engkau ajarkan kepadaku dan ajarilah aku ilmu yang bermanfaat bagiku serta tambahkanlah aku ilmu.”
HR. At-Tirmidzi
