Kado Pernikahan-1: Mindset
“Mbak.. bolehkah aku minta kado nasihat pernikahan.. Alhamdulillah 15th anniv ku hari ini.” Tulis seorang sahabat 2 pekan silam.
Saat itu saya belum senggang untuk bisa menulis panjang, jadi saya kirimi ia puisi. Namun saya berniat untuk memberinya kado sebuah tulisan. Bismillah. Tulisan ini untukmu, Adinda. Semoga Allah berkahi pernikahanmu.
====
Pernikahan yang langgeng, damai dan penuh cinta adalah cita-cita kita semua. Setiap pasangan umumnya mempunyai niat untuk menghadirkan hal ini dalam pernikahan. Namun terkadang tidak tahu caranya atau keliru dalam mengambil langkah. Tulisan berusaha menghadirkan upaya yang bisa kita lakukan secara mandiri untuk mencapai sakinah dalam rumah tangga, in syaa Allah.
Bila hendak melakukan sesuatu, ada 2 hal yang perlu dipersiapkan. Pertama mindset, yang kedua skill. Tulisan ini akan membahas tentang mindset, sementara skill akan diulas in syaa Allah pada tulisan berikutnya.
Mindset merupakan kerangka berpikir yang terbentuk dari keyakinan tentang sesuatu. Kerangka berpikir ini akan memengaruhi cara kita memandang dunia dan memberi makna pada apa yang kita temui. Kerangka pikir juga akan mengarahkan harapan dan sikap terhadap sebuah peristiwa, termasuk pernikahan. Ada 3 mindset yang perlu dimiliki dalam sebuah pernikahan, yaitu memberi dengan tulus, senantiasa berbuat baik dan fokus pada kebaikan pasangan.
Memberi dengan tulus adalah mindset utama dalam pernikahan. Ia merupakan kunci kebahagiaan dalam relasi suami istri. Saat warna utama pernikahan adalah keinginan memberi, gelombang tinggi pun akan dapat dinikmati ayunannya. Sebaliknya bila keinginan untuk meminta (apalagi menuntut) lebih tinggi dari keinginan memberi, riak kecil dapat terasa bagaikan badai. Niatkan keinginan memberi sebagai amal saleh menuju rida Allah. Bukankah sebaik-baiknya pribadi adalah yang baik pada keluarganya?
“Jadi, dalam pernikahan kita nggak boleh minta? Nggak boleh berharap dia akan bikin kita bahagia?” Pertanyaan ini kerap muncul.
Beberapa orang menyandarkan kebahagiaannya pada pasangan, padahal bahagia ada di dalam diri. Rasa bahagia muncul dari makna yang tepat atas sebuah peristiwa. Saat seorang ibu merasa bahagia memandang bayinya tertidur di pangkuan, dari mana rasa bahagia itu hadir? Rasa bahagia datang dari apa yang ibu tersebut berikan untuk bayinya. Kenyamanan yang dirasakan sang bayi menumbuhkan rasa bahagia di hati ibunya. Ma syaa Allah.
Kerangka pikir kedua adalah selalu berbuat baik dalam situasi apa pun. Jangan berubah hanya karena harapan tak terpenuhi atau mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Guru saya berpesan, “Kita tidak perlu menurunkan level hanya karena cara orang lain memperlakukan kita.” Bila kita telah menjadi orang baik, tetaplah di level itu. Tetaplah menjadi baik karena tidak ada balasan dari kebaikan kecuali kebaikan.
Kerangka pikir ketiga adalah fokus pada kebaikan pasangan. Tentu saja setiap orang memiliki kekurangan tapi pasti ia juga memiliki kelebihan. Fokuslah pada kelebihan pasangan. Lihat sisi baiknya. Bila belum ketemu, cari lebih teliti. Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan, jadi pasti ada kebaikan dalam setiap hal. Betapa pun sulitnya sebuah keadaan, berupayalah untuk melihat kebaikan yang ada di dalamnya. Bila pikiran kita senantiasa terarah pada kebaikan, in syaa Allah akan segera hadir kebaikan-kebaikan yang lain.
Memulai pernikahan dengan kerangka pikir memberi dengan tulus in syaa Allah akan membuat kita tidak mudah kecewa, karena kita tidak berharap apa-apa. Demikian pula kebiasaan untuk senantiasa berbuat baik in syaa Allah akan menghadirkan kebaikan. Ini sunatullah. Kita hanya perlu melakukan kebaikan secara konsisten dan menjaga hati tetap ikhlas. Fokus pada kebaikan pasangan akan membuat kita lebih mudah bersyukur. Bagaimana pun, Allah pasti memberikan kebaikan pada sesuatu yang dimulai dengan niat baik dan dilakukan dengan cara yang baik. In syaa Allah ketiga kerangka pikir ini akan membantu kita mengarungi samudera pernikahan dengan hati lapang dan bahagia, menjalani ibadah terpanjang bersama sang kekasih menuju surgaNya.
Argo Muria, 31 Oktober 2025
Dian L Izwar
“Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).”
QS. Az-Zariyat: 50
