OILA

Oila adalah cucu Bella.  Apa yang istimewa dari Oila? Ia sangat mirip Bella.  Sudah lama Bella tidak punya anak atau cucu yang mirip dengannya.  Kehadiran Oila memberikan nuansa baru dalam deretan kucing-kucing berbulu kuning, putih dan abu-abu.  Bulu Oila belang tiga.  Dia anak kucing yang cantik.

Di samping cantik, Oila juga lincah.  Ia tidak semanja Nela yang mengikuti saya kemana-mana dan menggeser-geserkan kepalanya ke kaki saya.  Oila juga tidak sepemalu Seti yang langsung menjauh saat saya mendekat.   Meskipun mereka bersaudara, ketiga cucu Bella ini mempunyai karakter yang berbeda.  Oila datang bila dipanggil, ia senang dibelai tapi tidak haus belaian seperti Nela.. 😊

Pekan lalu, seperti kebiasaan saya saat baru sampai di rumah, saya langsung memanggil Bella dan anak cucunya.  Sungguh menyenangkan melihat mereka berlari datang saat mendengar suara saya.  Bertemu mereka menghilangkan kepenatan di perjalanan.  Saya memberi mereka makan.   Bella, Kueva, Seti, Nela, Alip… mana Oila?  Saya tidak melihat Oila.  Saya memanggilnya.  Tidak ada yang datang. Saya menunggu lalu memanggil lagi. Saya masih menunggu.  Oila tetap tidak muncul.  Kemana dia?  Apakah dia sakit? Apakah dia main ke jalan lalu tertabrak mobil?  Saya mulai khawatir.  Saya menuju garasi, biasanya Oila senang tidur di sana.  Saya memanggil lagi dan menengok ke tempatnya biasa tidur.  Oila tidak ada.

“Oila kemana ya?” tanya saya pada supir kami.

“Sejak Ibu pergi kemarin saya nggak lihat Oila.  Saya juga nyariin tapi nggak ketemu,” jawabnya.

Saya tertunduk sedih.  Saya pergi hari Jumat dan kembali Ahad.  Apa yang terjadi pada Oila selama saya pergi?  Saya ingat saat memberi makan sebelum berangkat Oila makan tidak selahap biasa.

“Apa Oila sakit, terus mati?” saya bertanya pada supir kami.  Sesungguhnya itu pertanyaan yang tidak bisa ia jawab juga.  Saya bertanya hanya untuk menghilangkan resah yang saya rasakan.  Saya cemas memikirkan Oila.

“Diambil orang kali, Bu,” jawabnya.

“Diambil orang?”

“Iya, kucing belang tiga kan jarang.  Mungkin ada yang suka terus dibawa.  Bulunya kan bagus,” lanjutnya.

Saya mengangguk.  Kemungkinan itu bisa terjadi.  Oila memang cantik.  Sangat mungkin ada yang suka padanya.  Oila juga cukup ramah dan mau dekat dengan orang, termasuk orang asing.  Mudah saja ia ditangkap apabila ada yang ingin membawanya.  Memikirkan kemungkinan ini menenangkan hati saya.  Saya lebih tenang saat membayangkan Oila saat ini berada bersama dengan orang yang sayang padanya.  Semoga ia juga senang. 

Sampai hari ini, saya tidak pernah melihat Oila lagi.  Saya kangen padanya.  Saat saya ingat Oila, saya berpikir bahwa ia saat ini berada bersama dengan orang yang juga menyayanginya.  Saya menjadi tenang.  Jauh lebih tenang dibandingkan dengan memikirkan bahwa Oila sakit atau tertabrak mobil saat main ke jalan.  Saya merenung, kita banyak mendengar saran untuk berpikir positif.  Saat ini saya merasakan bahwa pikiran positif ini secara langsung memang memberikan dampak yang lebih baik bagi saya.  Saya merasa lebih tenang saat memikirkan Oila baik-baik saja. 

Faktanya adalah saya tidak tahu Oila saat ini berada di mana.  Saya hanya bisa berasumsi.  Saya bisa berpikir Oila tidak muncul karena ia mati akibat sakit atau tertabrak mobil.  Pikiran ini menimbulkan rasa sedih.  Sedih membayangkan ia menderita lalu mati.   Saya juga bisa berpikir bahwa ia tidak muncul karena seseorang suka padanya dan ingin memeliharanya.  Oila saat ini sedang bersama dengan orang yang sayang padanya.  Pikiran ini menenangkan.  Saya merasa tenang karena Oila baik-baik saja.  Saya bisa memilih apa yang saya pikirkan.  Apabila saya berpikir hal yang positif maka saya merasakan dampak yang positif juga, demikian pula sebaliknya. 

Alhamdulillah, Allah memberikan kebebasan pada kita untuk mengendalikan pikiran-pikiran kita.  Allah memberikan kita kesempatan untuk memilih, ingin merasakan ketenangan atau kegelisahan.  Saya merasa Allah mengingatkan hal ini pada saya melalui Oila.  Wallahu a’lam.

Mutiara, 16 Agustus 2020

Dian L Izwar.


“Hati-hatilah kalian terhadap prasangka (buruk) karena prasangka (buruk) adalah perkataan yang paling dusta.” (HR. Muslim)


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

2 thoughts on “OILA”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *