Kebenaran
Beberapa waktu yang lalu tukang yang sedang melakukan renovasi rumah kami mengusulkan agar anaknya ikut bekerja sebagai kenek selama proses renovasi ini.
“Anakmu yang mana?” tanya saya.
“Yang kedua, Bu. Yang dulu pernah saya ajak ke sini,” ujarnya.
Saya mengangguk. Saya ingat anaknya itu. “Dia lagi nggak kerja?”
“Katanya kontraknya nggak diperpanjang. Dari pada nganggur kan mending dia bantuin saya di sini,” jelas pak tukang. “Lulusan SMA susah juga cari kerja zaman pandemi ini,” lanjutnya.
“Ya, nanti saya bilang Bapak,” ujar saya menutup percakapan.
Bagi saya tidak ada masalah jika ada tambahan tenaga, semoga renovasi rumah kami segera selesai. Apalagi ini anak tukang langganan kami yang sedang tidak punya pekerjaan, semoga ia juga terbantu. Namun sebelum mengambil keputusan, saya mendiskusikan hal ini terlebih dahulu dengan suami saya.
“Tukang kita mau ngajak anaknya kerja di sini jadi kenek,” demikian saya memulai percakapan.
“Anaknya yang mana?”
“Yang kedua, yang dulu pernah dia ajak ke sini.”
“Oya, nggak apa-apa. Mau dia jadi kenek?” tanya suami saya.
“Mau. Kata Bapaknya susah cari kerjaan sekarang, apalagi cuma lulus SMA.”
“Lulus SMP” ujar suami saya.
“Bapaknya bilang dia lulus SMA,” saya meluruskan.
“SMP. Ingat nggak, waktu itu dia datang ke sini pas baru banget lulus SMP. Dia bilang dia mau kerja aja habis lulus SMP ini, nggak lanjut sekolah lagi. Dia cerita waktu kita ajak makan ayam geprek malam-malam habis belanja. Ingat?” suami saya menegaskan pendapatnya.
Saya mengangguk. Saya ingat semua yang disampaikan oleh suami saya. Saya juga merasa anak tukang saya ini lulusan SMP. Tapi kenapa Bapaknya bilang dia lulus SMA? Mana yang benar? Seperti biasa, untuk masalah-masalah yang tidak prinsipil saya tidak menyampaikan argumen. Diskusi menyenai lulus SMP dan SMA ini tidak berlanjut. Yang penting adalah kami sepakat bahwa ia boleh bekerja membantu bapaknya.
Meski demikian, saya masih penasaran. Mana yang benar, lulusan SMP atau SMA? Suami saya menyampaikan pendapatnya dengan sangat yakin, saya pun ingat dengan cerita itu. Jadi besar kemungkinan ia benar. Tukang saya adalah ayah dari anak itu, apa mungkin ia salah mengenai pendidikan anaknya? Apa ia keliru dalam mengingat? Saya tahu bahwa anak sulungnya lulus SMA. Apa dia mengingat pendidikan anak sulungnya saat membicarakan anak keduanya? Apa iya dia sampai keliru seperti itu?
Beberapa hari kemudian sang anak datang ke rumah kami. Sesuai dengan standar prosedur di RT kami, saya meminta foto KTPnya untuk disampaikan pada ketua RT bersama dengan pemberitahuan bahwa ada kenek baru yang akan bekerja dan menginap di rumah kami. Pada saat membicarakan KTP itu saya menanyakan pendidikan terakhirnya.
“SMA, Bu,” jawabnya.
“Bukannya waktu dulu ke sini itu kamu lulus SMP?” tanya saya.
“Iya, Bu. Waktu itu saya baru lulus SMP. Sempat nganggur setahun, habis itu saya sekolah lagi. Sekarang dah lulus SMA,” jelasnya.
Saya tersenyum. Suami saya benar. Tukang saya juga benar. Mereka mempunyai kebenarannya sendiri. Suami saya menganggap anak tukang saya ini lulusan SMP karena itu adalah informasi terakhir yang diketahuinya mengenai anak itu. Ia tidak mendapatkan informasi lain. Ia benar. Tukang saya memiliki informasi bahwa anaknya sudah lulus SMA. Ia juga benar. Mereka berdua benar berdasarkan informasi yang mereka miliki.
Kadang kala ketidak samaan informasi yang dimiliki oleh beberapa pihak dapat berujung pada sebuah perdebatan, bahkan pertengkaran. Terutama saat mereka hanya berpegang pada informasi yang mereka ketahui dan bersikukuh untuk tidak menerima informasi yang disampaikan oleh pihak lain. Mereka terlalu yakin bahwa hanya pendapat merekalah yang benar (dan mungkin memang benar). Mereka lupa bahwa ada kebenaran lain yang mungkin belum mereka ketahui. Alhamdulillah saya tidak berargumentasi dengan suami saya atau pun tukang saya.. 😊
Saya menemui suami saya dan menceritakan bahwa si anak yang kemarin kami bicarakan sekarang sudah lulus SMA. “Dia sekolah lagi setelah kembali ke kampungnya, “ ujar saya.
“Oo, baguslah. Jadi sekarang dia dah lulus SMA ya?” suami saya mendapatkan informasi baru dan ia memperbaharui apa yang ia ketahui mengenai anak itu. Keterbukaannya dan kepercayaannya pada informasi yang saya berikan memperkaya wawasannya mengenai status pendidikan anak tersebut.
Kadang kala ada pihak yang tidak mau membuka diri untuk menerima informasi baru. Mereka enggan melihat dari sudut pandang orang lain untuk mendapat gambaran yang lebih lengkap mengenai sesuatu. Pada kelas-kelas pelatihan saya sering mencontohkan hal ini dengan mengambil sebuah buku. Sambil memegang buku tersebut saya meminta peserta yang duduk di sebelah kanan untuk menyampaikan apa yang ia lihat. Ia akan menceritakan ilustrasi sampul depan buku tersebut berikut judul buku yang biasanya dapat terbaca dengan jelas. Selanjutnya saya akan meminta peserta yang duduk di sebelah kiri untuk menyampaikan apa yang ia lihat. Ia akan mengatakan bahwa ia melihat banyak tulisan kecil-kecil dan mungkin juga sebuah foto. Berbeda dengan apa yang dilihat oleh peserta yang berada di sebelah kanan. Kemudian saya menanyakan pada peserta lain pendapat mana yang benar? Mereka menjawab keduanya benar. Keduanya melihat sisi yang berbeda dari sebuah buku. Yang satu melihat sampul depan sementara yang lainnya melihat bagian belakang. Keduanya adalah bagian dari buku itu. Orang yang melihat buku itu secara utuh tahu bahwa mereka berdua benar, namun orang yang melihat dari satu sisi saja hanya mengetahui informasi dari sisi yang ada di hadapannya. Tidak pada setiap kesempatan kita dapat melihat sebuah buku dengan utuh. Kita perlu membuka hati agar dapat melihat kebenaran lain di samping apa yang telah kita ketahui.
Setiap orang mempunyai kebenarannya sendiri. Ketika kita mendengar sesuatu yang berbeda dengan apa yang kita persepsi, tugas kita adalah memahami bagaimana ia bisa sampai pada pemahaman tersebut, bukan langsung membantah atau menghakimi bahwa apa yang disampaikannya adalah salah. Boleh jadi kitalah yang belum memilki informasi yang cukup mengenai hal tersebut. Wallahu a’lam.
Mutiara, 25 September 2020
Dian L Izwar
Dari Aisyah, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling Allah benci adalah orang yang suka membantah lagi sengit.”
HR. Muslim no.2668
