Terbang Lebih Cepat

Hari ini setahun yang lalu saya berencana mengikuti acara Islamic Psychology Convention (IPC) di kampus Universitas Gajah Mada Yogyakarta.  Acaranya 2 hari, tanggal 26-27 Oktober pukul 08.00 – 16.00 WIB.  Saya ingin sekali mengikuti acara ini dari sesi pertama.  Pengalaman saya mengikuti berbagai konferensi, pembicara pertama atau terakhir biasanya memberikan materi yang penting dan menarik.  Sesuai dengan kaidah psikologi yaa.. yang pertama dan terakhir cenderung lebih diingat.

Agar bisa mengikuti sesi pertama, saya sudah harus berada di kampus UGM pada pukul 08.00 pagi tanggal 26 Oktober 2019.  Ada dua pilihan untuk memenuhi hal ini.  Yang pertama adalah saya berangkat ke Yogya sehari sebelumnya sehingga tanggal 26 pagi saya sudah berada di UGM.  Konsekuensinya saya meninggalkan rumah selama 2 malam, tanggal 25 dan 26 Oktober.  Hmm.. untuk setiap kegiatan keluar kota yang bukan bersama keluarga saya berusaha untuk meminimalkan hari menginap.  Jadi ini adalah pilihan terakhir.

Pilihan kedua adalah saya terbang dengan pesawat pagi pada tanggal 26 Oktober sehingga pukul 08.00 sudah bisa berada di kampus UGM.  Untuk pilihan ini saya harus berangkat dari Bandara Soetta karena pesawat ke Yogya dengan estimated time of arrival kurang dari pukul 08.00 hanya ada dari Soetta.  Nah, untuk bisa sampai di Soetta pukul 05.00 guna mengejar pesawat dengan estimated time of departure pukul 06.00 saya perlu berangkat dari rumah sekitar pukul 03.00 dini hari.  Saya merasa hal ini juga bukan pilihan karena saya harus bangun setidaknya 1 jam sebelumnya dan kemungkinan tidak akan tidur lagi sepanjang perjalanan.  Ini bukanlah awal yang baik untuk belajar.  Tujuan saya ke Yogya adalah untuk menimba ilmu dan itu butuh konsentrasi yang baik.  Saya perlu tidur yang cukup.

Setelah mempertimbangkan kedua alternatif di atas akhirnya saya sampai pada pilihan ketiga: berangkat pagi hari pada tanggal 26 Oktober dengan pesawat dari Bandara Halim Perdana Kusuma.  Pesawat paling pagi ke Yogya yang berangkat dari Halim adalah pukul 07.30 WIB dengan estimated time of arrival pukul 08.40 WIB.  Lapangan terbang ini lebih dekat dari rumah, jadi saya tidak perlu berangkat dini hari namun saya harus rela untuk tidak ikut pemaparan materi di sesi awal.  Meskipun di dalam hati saya sangat ingin mengikuti sesi pertama pada konferensi ini, saya merasa ini adalah pilihan yang paling rasional yang bisa saya ambil.  Bismillah, saya memesan tiket.

Pukul 06.00 WIB saya sudah duduk manis di ruang tunggu menanti boarding pukul 07.00 WIB.  Saat sedang asyik membalas chat di sosial media, panggilan boarding menggema memenuhi ruang tunggu.  Saya melirik jam di ponsel.  Angka 06.25 tertera di sana, lebih awal dari yang tercantum di boarding pass.  Mungkin semua penumpang telah check-in, pikir saya seraya bangkit menuju pintu keberangkatan.  Setelah semua penumpang naik, pesawat pun lepas landas.

Saya menikmati penerbangan ini sambil membayangkan apa yang harus saya lakukan agar perjalanan ke kampus UGM dapat efisien dari segi waktu.  Saya masih berharap dapat mengikuti sesi pertama meskipun mungkin tidak dari awal.  Saya masih asyik dengan rencana bagaimana agar tiba di UGM dengan segera saat pramugari mengumumkan agar para penumpang menegakkan sandaran kursi.  Alhamdulillah, kami akan segera mendarat di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. 

Begitu pintu pesawat dibuka saya segera turun sambil menenteng koper kecil yang segaja saya bawa ke kabin.   Begitu sampai di ruang kedatangan, saya menyalakan ponsel.  Jam di sana menunjukkan pukul 08.22 WIB.  Pesawat yang saya tumpangi mendarat lebih cepat dari jadwal yang seharusnya.  Sebagai trainer, saya cukup sering terbang.  Saya bahkan pernah terbang 53 kali dalam setahun.  Namun baru kali ini saya terbang dan mendarat lebih cepat dari jadwal.  Saya bergegas menuju konter taksi.  Alhamdullillah, beberapa saat kemudian saya sudah berada di taksi menuju kampus UGM.  Harapan untuk dapat menghadiri sesi pertama kembali mengisi hati saya. 

Saya mempercepat langkah saat memasuki gedung tempat konferensi berlangsung.  Tidak banyak orang yang terlihat.  Saat saya mengisi daftar hadir, panitia menyampaikan acara telah dimulai.  Tentu saja,  jam di ponsel saya menunjukkan 10 menit menuju pukul 09.00 pagi. 

Saya melangkah ke ruang konferensi, tak lagi berharap banyak.  Di bagian depan tampak dua orang sedang berdiri memandu jalannya acara.  Saya mencari tempat duduk yang kosong dan menajamkan telinga.  Tepat saat saya siap mengikuti acara, pembicara pertama dipersilakan maju untuk memulai sesinya.  Ma syaa Allah.  Berarti tadi masih acara pembukaan.  Alhamdulillahi rabbil’alamin.  Allah yang Maha Mengatur telah membuat saya hadir di sana tepat pada waktunya.  Allah mengabulkan keinginan saya untuk dapat mengikuti sesi pertama di konferensi ini meskipun secara hitungan saya sebagai manusia hal itu tidak mungkin.  Allah membuat pesawat yang saya tumpangi terbang dan mendarat lebih cepat,  acara pembukaan pun seolah-olah diatur agar selesai setelah saya hadir di ruangan.  Mungkin sebagian orang menganggap ini hanya sebuah kebetulan.  Namun bagi saya rangkaian dari peristiwa ini adalah jawaban dari doa saya.  Segala sesuatunya sangatlah mudah bagi Allah. 

Dari pengalaman ini saya belajar bahwa jika kita benar-benar menginginkan sesuatu dan itu adalah rezeki kita, Allah akan memudahkan jalannya.  Semoga kita dapat menjadi hambaNya yang senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang kita terima.  In syaa Allah. 

Mutiara, 26 Oktober 2020

Dian L Izwar


“Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.”

(QS. Ath-thalaq ayat 12)


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *