Apakah Semua Ibu Menyayangi Anaknya?
Hari ini tanggal 22 Desember 2020. Hari yang diperingati sebagai Hari Ibu. Banyak anak yang mengirimkan tanda cintanya pada ibu, memberi hadiah, berkirim surat, menelepon, datang berkunjung, mengajak makan keluar dan beragam kegiatan lainnya. Semua ini dilakukan karena sang anak yakin bahwa ibu adalah orang yang sangat menyayanginya. Apakah semua ibu demikian? Pernahkah Anda mendengar tentang ibu yang tak peduli pada bayinya? Terganggu dengan kehadiran si kecil yang menangis sepanjang waktu? Bahkan ingin menyakiti tubuh mungil itu?
Proses menjadi seorang ibu bukanlah hal yang mudah, pun tidak terjadi secara instan. Seorang wanita membawa janin di dalam rahimnnya selama lebih kurang sembilan bulan. Selama kehamilan itu ia membiasakan diri dengan kehadiran sang anak. Berbagai perubahan dilalui demi menjaga janin kecil yang sedang berkembang. Rasa tak nyaman ditahan dan semua nutrisi diberikan bagi pertumbuhan sang buah hati. Secara fitrah, ibu telah memberikan diri seutuhnya pada sang penerus generasi.
Menghadirkan sang buah hati ke dunia adalah perjuangan. Rasa sakit – yang segera mereda saat mendengar tangisan bayi mungil – pasti ada. Intensitasnya berbeda pada setiap wanita. Mengapa rasa sakit ini ada? Agar ibu merasa bahwa bayinya berharga. Apakah seseorang akan menyia-nyiakan sesuatu yang ia hadirkan dengan pertaruhan nyawa?
Menyusui tidak selalu mudah, tak pasti juga menyenangkan. Mengikuti nalurinya, bayi akan mengisap puting susu ibu, ia memiliki insting untuk itu. Ibu pun secara alami membutuhkan bayi untuk menyusu padanya. Menyerasikan dua irama naluri ini tak selamanya mulus namun ibu perlu melalui tahap ini. Menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak. Kapan pun si kecil haus, ibu siap dengan ASInya, tak kenal waktu tak tentu tempat.
Menyusui adalah sarana yang membuat ibu merasa berharga. Ibu merupakan satu-satunya sumber nutrisi terbaik bagi bayi. Selama 6 bulan bayi tak butuh makanan apa pun selain air susu ibunya. Bayi bisa digendong ayah, bermain dengan nenek atau dimandikan tante namun saat haus ia hanya butuh ibu. Selama menyusui proses ikatan batin antara ibu dan bayi terjadi. Jalinan kasih sayang yang tak akan putus oleh waktu, tak akan hilang oleh jarak. Tidak ada ibu yang tidak sayang pada anaknya. Tidak ada ibu sehat mental yang tak ingin mengasihi dan merawat bayinya.
Apabila Anda merasa tidak nyaman dengan kehadiran bayi mungil dalam dekapan Anda. Apabila Anda tak ingin menyusuinya atau marah karena ia menangis terus-menerus. Anda perlu tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi sehingga perasaan sayang Anda terkikis. Anda tidak sendiri. Gangguan mood pada ibu sehabis melahirkan bisa saja terjadi. Hal ini biasanya akan hilang dengan sendirinya seiring dengan adaptasi tubuh ibu dengan keseimbangan hormon yang baru pasca melahirkan. Namun jika keadaan ini berlangsung lebih dari 2 minggu, Anda perlu bantuan! Bicaralah pada orang yang Anda percaya atau hubungi tenaga profesional. Psikolog, dokter dan bidan in syaa Allah dapat membantu Anda.
Demikian pula apabila Anda mendengar ada ibu yang tak ingin mengurusi bayinya. Apabila Anda melihat seorang ibu seakan terganggu dengan kehadiran si kecil di dekatnya, bantulah ia. Terkadang ibu tak menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Dekati ibu tersebut dengan prinsip Pychological First Aid (PFA).
Tiga prinsip PFA adalah Look (amati), Listen (simak), Link (hubungkan). Saya senang menyingkatnya dengan ASiH karena dasarnya adalah rasa kasih, perhatian kepada sesama. Pada langkah pertama, amati apa yang terjadi pada si ibu. Bagaimana hubungannya dengan bayi dan bagaimana reaksinya terhadap bayi tersebut. Pada tahap kedua, dekati ibu dan ciptakan suasana menyenangkan yang mengundang ibu untuk bicara tentang peran barunya sebagai ibu. Simak cerita ibu sehubungan dengan relasinya dengan bayi, apa yang dirasakannya, apa yang ditakutkannya, apa yang diharapkannya. Dengan pemahaman mengenai situasi yang dirasakan ibu, hubungkan ibu dengan orang yang sekiranya dapat membantu. Mungkin keluarga, teman dekat atau tenaga profesional.
Jangan menganggap ibu yang tak mengurusi bayinya sebagai wanita yang tak bisa jadi ibu. Kata-kata sering melukai lebih dari pedang. Jangan biarkan ibu berjuang sendiri menghadapi depresi pasca persalinan. Mereka butuh bantuan kita. Seorang klien menangis saat bercerita bagaimana dulu ia membuang air susu yang melimpah namun tak mau menyusui bayinya. Enam belas tahun ia membawa luka dan rasa bersalah sampai akhirnya menyadari bahwa saat itu ia mengalami depresi pasca melahirkan. Ingatlah bahwa setiap ibu menyayangi bayinya. Seorang ibu akan berjuang untuk merawat anaknya sebagaimana ia telah berjuang untuk menghadirkannya di dunia. Wallahu a’lam.
Mutiara, 22 Desember 2020
Dian L Izwar
“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”
(QS. Ar-Rahman ayat 60)
