Kayak Nabi
Pagi ini sebuah stasiun televisi menayangkan berita mengenai pandemi covid-19. Keponakan saya ikut menonton tayangan tersebut bersama orang tuanya.
“Kayak nabi kali nih,” komentar murid taman kanak-kanak itu.
Ayah dan ibunya saling berpandangan. Berusaha memahami maksud dibalik deretan kata yang keluar dari bibir mungil putri mereka.
“Apa, Kak?” tanya sang ibu.
“Iya. Nabi dikasih sakit sama Allah, masih beriman. Nah, ini dikasih covid sama Allah, masih beriman nggak?”
Ma syaa Allah. Saya yang mendengar kejadian ini merasa takjub. Bagaimana anak yang baru melepaskan status balitanya itu dapat mengungkapkan kalimat tersebut.
Saya ingat sebuah pepatah yang mengatakan bahwa lisan adalah ibarat mulut teko. Ia hanya mengeluarkan apa yang ada di dalam teko tersebut. Prinsip ini juga berlaku pada anak-anak. Mereka menilai lingkungannya berdasarkan informasi yang ada dalam pikiran mereka.
Keponakan saya senang mendengarkan cerita 25 nabi yang dibacakan padanya. Ia sering meminta kita untuk bercerita mengenai kisah tersebut, lagi dan lagi. Ia tak pernah bosan, terkadang kita yang lelah memenuhi permintaannya. Gadis cilik ini selalu bersemangat ingin mendengarkan cerita.
Buku memang telah diperkenalkan padanya sejak ia mulai bisa duduk. Awalnya ia hanya melihat-lihat saja, bermain-main dan membalik-balik halaman buku. Selanjutnya ia mengamati gambar yang menjadi ilustrasi cerita. Kemudian ia minta diceritakan. Lalu minta dibacakan. Begitulah ia berkembang bersama buku-buku tersebut.
Pada waktu berusia sekitar 3 tahun ia bisa menceritakan kisah nabi-nabi berdasarkan gambar-gambar yang dilihatnya. Tentunya dalam bentuk potongan-potongan singkat dan interpretasinya sendiri saat melihat gambar yang ada. Lama-lama, ia memiliki pemahaman yang utuh mengenai cerita tersebut.
Saat ini ia telah dapat menceritakan kisah nabi Adam dan nabi-nabi lainnya kepada saya. Cerita favoritnya adalah nabi Nuh yang punya kapal dan nabi Yunus yang masuk ke dalam perut ikan. Kisah-kisah ini telah mengisi pikirannya, termasuk kisah nabi Ayub.
Saat melihat tayangan di televisi tadi pagi, gadis kecil ini berusaha memahami apa yang terjadi menggunakan pengetahuan yang ada padanya. Ia tahu sudah hampir setahun ia harus mengenakan masker saat keluar rumah karena adanya virus corona ini. Ia mengolah informasi tersebut dengan mengacu pada informasi-informasi yang telah ada dalam ingatannya. Rujukannya adalah kisah nabi Ayub karena inilah kisah yang paling dekat dengan fenomena yang ingin ia mengerti. Cerita ini yang paling pas menjelaskan apa yang sedang terjadi di layar televisi tadi pagi.
Mengapa ia tidak merujuk kepada hal lain? Mengatakan bahwa pandemi itu adalah sebuah kelalaian, misalnya. Karena saat ini pengetahuan itu belum ada di dalam memorinya. Ia tidak dapat menggunakan sesuatu sebagai rujukan jika ia belum mengetahuinya. Jadi ia akan menilai dan memberi arti pada dunia berdasarkan pengetahuan yang telah tertanam di ingatannya. Ia akan memandang dunia melalui “isi tekonya”, bank data pengetahuan yang kita perkenalkan padanya.
Sebagai orang tua, apa yang akan kita masukkan ke dalam “teko” anak-anak kita? Wallahu a’lam.
Mutiara, 7 Februari 2021
Dian L Izwar
“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.”
(HR. Al Hakim)
