Deadline

Siang tadi suami saya mengikuti uji kompetensi instruktur pelatihan jarak jauh.  Uji kompetensi ini diselenggarakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) guna mendapatkan sertifikat kompetensi yang diakui oleh Badan Nasional Sertifikasi Kompetensi (BNSP).  Untuk dapat mengikuti kegiatan uji kompentensi, ada sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi.  Semua prasyarat tersebut wajib diserahkan sebelum ujian.  Apabila peserta uji tidak dapat menunjukkan bukti-bukti yang menjadi prasyarat, mereka tidak diperkenankan untuk mengikuti uji kompetensi. 

Singkat cerita, kemarin malam adalah deadline untuk mengumpulkan semua bukti yang menjadi prasyarat untuk mengikuti ujian.  Semenjak dua hari yang lalu suami saya telah sibuk membuat dan mengumpulkan bukti yang dibutuhkan.  Selama dua hari itu pusat perhatiannya adalah memenuhi prasyarat yang ditetapkan.  Energinya terfokus pada pengumpulan bukti tersebut. 

Ia belajar untuk dapat membuat sebuah kurikulum pembelajaran yang sesuai dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).  Ia berlatih berbagai hal untuk meningkatkan kompetensinya sebagai instruktur pembelajaran jarak jauh.  Ia mengeksplorasi beberapa Learning Management System (LMS) untuk memilih LMS mana yang paling tepat digunakan sesuai dengan tujuan pelatihan dan kriteria calon peserta.  Pengetahuannya meningkat, pengalamannya bertambah, tidurnya berkurang 😊.  Dua malam kemarin ia tidur lebih larut dari biasa.

Tampaknya waktu di siang hari tak cukup baginya untuk membuat rancangan program pelatihan, kurikulum, silabus, modul, lession plan, session plan, story board dan media pembelajaran.  Ia merelakan waktu istirahatnya untuk menyempurnakan slide power point yang akan digunakan pada saat pelaksanaan micro teaching – salah satu syarat uji kompetensi.  Ia juga terjaga untuk membuat buku informasi, buku kerja dan buku penilaian. Semua harus harus diunggah ke LMS agar dapat diakses secara daring, termasuk pretest, posttest dan evaluasi pelatihan.  Saya hampir lupa, ia juga mempersiapkan desain sertifikat pelatihan yang akan diberikan kepada peserta.  Kemampuan admistrasi dan artistiknya benar-benar diuji.

Ia juga berselancar di dunia maya untuk menemukan referensi bahan ajar yang dibutuhkan.  Satu referensi saja tentu tidak cukup.  Ia meluangkan waktu untuk mempelajari berbagai referensi.  Setelah merasa cukup memiliki informasi mengenai materi yang akan diajarkan, ia menuangkan pengetahuannya ke dalam lession plan dan membuat media pembelajaran yang sesuai.  Ia begitu serius mempersiapkan semua ini, tak tampak oleh saya ia bersantai. 

“Ini semua harus selesai sebelum Sabtu,” demikian ia memberi penjelasan mengenai tenggat waktu yang harus dipenuhinya. 

Ia bekerja keras untuk mengirimkan seluruh persyaratan yang diminta oleh LSP sebelum deadline yang ditetapkan.  Begitu bersungguh-sungguhnya ia hingga sebagian besar waktunya dari 48 jam kemarin ia habiskan di depan laptop.  Saya memberi dukungan dengan menyediakan camilan di meja kerjanya karena ia melewatkan waktu makan akibat terlalu asyik bekerja.  Ternyata seseorang yang sedang serius tak butuh banyak camilan dan tampaknya juga tak terlalu merasa lapar.  Deadline mengubah pola makan, pola aktivitas dan pola istirahatnya.  Prioritas memang dapat mengubah seseorang.

Sore ini suami saya telah menyelesaikan uji kompetensi tersebut dan dinyatakan kompeten sebagai instruktur pembelajaran jarak jauh.  Alhamdulillah.  Energi dan upaya maksimal yang dilakukannya untuk mempersiapkan diri berbuah manis.  Fitrahnya, usaha memang akan sejalan dengan hasil.

Saat mengamati suami saya sibuk mengejar deadline selama dua hari kemarin, terlintas sebuah pertanyaan di pikiran saya.  Kira-kira apa yang akan saya lakukan apabila deadline saya untuk mengumpulkan bukti hanya tinggal 2 hari lagi?  Bukan bukti untuk ikut uji kompetensi BNSP tapi bukti bahwa saya adalah hambaNya yang taqwa.  

Mutiara, 20 Februari 2021

Dian L Izwar


 “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu keselamatan dalam beragama, kesehatan badan, limpahan ilmu, keberkahan rezeki, taubat sebelum datangnya maut, rahmat pada saat datangnya maut, dan ampunan setelah datangnya maut.  Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, berikanlah kami keselamatan dari api neraka, dan berilah ampunan pada saat hisab”


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *