Proyek Roro Jonggrang

“Habis berkebun ya?” tanya suami saya pekan lalu saat membuka pintu depan.  Tampaknya ia mengamati perubahan pada taman kecil di depan rumah kami.

“Iya,” saya menjawab sambil tersenyum.

Suami pun tersenyum maklum.  Ia tahu bahwa saya baru saja mendapatkan proyek “Roro Jonggrang” – sebutan kami untuk permintaan klien dengan tenggat waktu yang super ketat.  Ia juga tahu kebiasaan saya untuk “melarikan diri” sejenak pada saat mengalami stres.  Taman kami adalah salah satu tempat pelarian saya.

Saya sedang membantu klien menulis sebuah buku dengan tenggat waktu penyelesaian akhir tahun ini.  Setelah beberapa kali diskusi, buku tersebut hampir jadi.  Pada saat mendekati tahap final, sang klien berubah pikiran.  Saya sebut berubah pikiran karena target pembaca dan format bukunya berubah.  Wow, ini bukan revisi tetapi menulis sebuah buku baru.  Yang membuat saya stres adalah tenggat waktunya tetap!  Fiuh.  Saya butuh waktu untuk menenangkan diri. 

Seusai rapat saya tidak langsung menulis tetapi mengambil peralatan berkebun lalu merapikan taman di depan rumah.  Beberapa orang menganggap kegiatan ini membuang-buang waktu.  Bukankah waktu yang tersedia terbatas?  Mengapa malah menghabiskannya untuk hal yang tidak berhubungan dengan penulisan buku?  Hmm… Benarkah tidak berhubungan?

Saat mendengar permintaan untuk membuat perbaikan dalam waktu sepekan, saya stres.  Tujuh hari bukanlah waktu yang optimal untuk menulis sebuah buku tapi tuntutannya demikian.  Saya perlu memenuhi permintaan ini.  Dalam keadaan stres, saya tidak bisa berpikir jernih.  Oleh karena itu saya perlu menenangkan diri.  Salah satu caranya adalah melakukan hal yang tidak berhubungan dengan sumber stres.  Saya memilih berkebun.  Ini adalah kegiatan yang saya senangi.  Saya bisa asyik merapikan tanaman di taman.  Pada saat asyik ini, proyek “Roro Jonggrang” yang menimbulkan stres tersebut “terlupakan”.  Dampak dari lupa ini adalah hormon-hormon stres menurun, tubuh saya kembali pada keadaan seimbang.  Dalam keadaan nyaman ini, fungsi berpikir kembali optimal. 

Setelah berkebun sekitar 30 menit, saya merasa lebih tenang dan ide-ide tulisan berloncatan di pikiran.  Saya menulis dengan lebih mudah.  Alhamdulillah, proyek “Roro Jonggrang” saya selesai tepat waktu.  Allah mudahkan saya untuk menulis ulang buku tersebut dan menyerahkannya pada klien kemarin siang.  In syaa Allah saya tetap bisa melanjutkan rencana liburan akhir tahun.

Terkadang, sesuatu tampak sulit karena pada saat itu kita sedang tidak berada pada keadaan yang optimal.  Tuntutan yang tinggi membuat kita tertekan dan akhirnya tidak bisa berkarya dengan baik.  Jika dipaksakan, kita akan menghabiskan banyak waktu untuk berpikir atau memperbaiki kesalahan.  Sementara pada saat berada dalam kondisi optimal, pekerjaan terasa lebih mudah dan bisa dikerjakan lebih cepat. 

Saya teringat seorang coachee yang menghubungi saya beberapa hari yang lalu.  Saat itu ia juga sedang mengerjakan proyek “Roro Jonggrang”.  Tugasnya adalah membuat artikel yang harus dikumpulkan esok pukul 8 pagi.  Ia mengirim pesan sekitar pukul dua siang bahwa ia sudah memiliki 20 referensi untuk membuat artikel tersebut tetapi tidak bisa menuangkannya ke dalam bentuk tulisan.

“… gak bisa mikir apa-apa rasanya..,” demikian ia menulis dalam pesan singkat.

“Coba jalan kaki keluar rumah 30 menit,” saran saya.

“Saya takut nggak selesai, Mbak” ia menjawab disertai emoticon berurai air mata.

“Ya, nggak akan selesai jika masih stres.”

Ia sepertinya menurut.  Sekitar 20 menit kemudian, saya kembali menerima pesan singkat darinya, “Saya sudah sampai di rumah lagi.”

“Alhamdulillah.  Mandi dulu, lalu bikin teh manis yang enak.”

“Nanti nggak terkejar.  Saya takut banget.  Minimal 10 lembar, saya satu lembar aja belum.”

Tampaknya ia langsung mengerjakan tugas artikel tersebut karena sekitar pukul 17.30 ia mengirim pesan, “Saya sudah nggak bisa.  Masih belum 1 lembar.  Saya takut.  Mbak, saya harus apa?”

Saya kembali menyarankan beberapa aktivitas untuk melupakan sejenak sumber stresnya.  “Istirahat dulu, bikin susu hangat, makan coklat.  Shalat.  Tenangkan diri, otak kita tidak bisa diajak berpikir kalau sedang cemas dan takut.”

Dua jam kemudian sang coachee berhasil menyelesaikan artikelnya.  Ia mengirimkannya pada saya.  Yang membuat saya senang adalah pada pukul 7 pagi esok harinya, ia kembali mengirimkan sebuah artikel dengan kalimat pengantar. “Saya bikin baru, Mbak.” 

Artikel yang baru ini jauh lebih baik dibandingkan dengan artikel yang pertama.  Bagaimana itu bisa terjadi?  Saya rasa karena setelah berhasil membuat sebuah artikel, stresnya menurun.  Dampaknya adalah ia bisa berpikir dengan lebih jernih dan menghasilkan karya yang lebih baik. 

Penting untuk mengusahakan keadaan mental kita dalam kondisi optimal pada saat akan melakukan sesuatu.  Stres akan selalu ada.  Kita hanya perlu mengelolanya.  Kadang kala pada saat mengalami stres kita benar-benar tidak punya waktu untuk melakukan aktivitas yang mengasyikkan atau kita bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan.  Jika sampai pada keadaan ini, saran saya: berwudhu kemudian shalat.  Shalat dengan khusyuk in syaa Allah akan mengembalikan tubuh pada kondisi yang optimal karena selama shalat kita akan sejenak “lari” dari hingar bingar dunia.  Saat konsentrasi tertuju pada aktivitas shalat, kita akan “melupakan” sumber stres kita.  Dengan demikian,  selepas shalat tubuh kita akan kembali berada dalam keadaan seimbang dan kita dapat berpikir dengan lebih jernih, in syaa Allah.  Wallahu a’lam.

Mutiara, 25 Desember 2022
Dian L Izwar


“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
 QS. Al-Baqarah: 153


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *