Memaknai Indonesia Raya 3 Stanza

Sejak di sekolah dasar saya telah menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saat itu saya berpikir bahwa lagu tersebut hanya terdiri dari 1 stanza. Baru beberapa tahun terakhir ini saya mengetahui bahwa sesungguhnya Wage Rudolf Supratman menciptakan lagu Indonesia Raya dalam 3 stanza. Saat pertama kali mendengar keseluruhan lirik lagu kebangsaan ini, saya berpikir, ‘Wah, ada rima yang berbeda pada tiap stanza. Keren.’ Namun setelah saya simak betul arti kata-kata yang terkandung dalam bait-bait di stanza kedua dan ketiga, ma syaa Allah, maknanya sangat dalam. Saya kemudian mulai membaca sejarah terciptanya lagu kebangsaan ini, termasuk biografi dari penciptanya.
W. R. Supratman menciptakan lagu Indonesia Raya jauh sebelum Indonesia merdeka. Ia sungguh seorang pejuang dengan semangat kebangsaan yang kuat. Violis ini terus menciptakan lagu-lagu perjuangan dan “rela” hidup dalam pelarian karena penjajah Belanda tidak menyukai hasil karyanya yang menggugah semangat kebangsaan. Lagu Indonesia Raya yang pertama kali diperdengarkan pada acara Kongres Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 ini menimbulkan semangat persatuan di kalangan para pemuda, sebuah keadaan yang meresahkan Belanda.
Saat mencermati 3 lirik stanza lagu Indonesia Raya, saya berusaha membayangkan apa yang dipikirkan W. R. Supratman saat menuliskannya. Saya merasa stanza pertama yang bercerita mengenai Indonesia sebagai tanah tumpah darah (kampung halaman dari kita semua) disertai ajakan untuk bersatu adalah tahap pertama dalam pembentukan sebuah negara. Kita perlu bersatu dalam sebuah negara. Sebagai psikolog, saya terpesona dengan lirik bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya. Kebangsaan adalah rasa, karena itu jiwalah yang perlu dibangun terlebih dahulu untuk menciptakan rasa kebangsaan.
Lirik pada stanza kedua bercerita mengenai Indonesia sebagai tanah yang kaya dan merupakan pusaka yang kelak akan kita wariskan pada generasi berikutnya. Ini adalah sebuah karunia sekaligus tanggung jawab. Lirik marilah kita mendoa, Indonesia bahagia menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang religius, yang mengakui keberadaan yang Maha Kuasa dan senantiasa memohon kepadaNya. Di samping berdoa, untuk mencapai kebahagiaan Indonesia, kita perlu sadar hati dan sadar budi untuk Indonesia. Stanza kedua ini seolah bercerita mengenai apa yang harus kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan, kata kunci untuk kita yang saat ini telah menikmati Indonesia merdeka. Budi dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti alat batin yang merupakan panduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk, inilah yang perlu kita lakukan sebagai anak bangsa dalam membangun Indonesia. Apakah yang kita lakukan akan membawa kebaikan bagi bangsa ini?
Stanza ketiga bercerita mengenai Indonesia yang suci dan sakti disertai janji agar Indonesia abadi. Saya merasa ini adalah pesan bagi kita saat menemui masa yang sulit. Kita tidak boleh menyerah. Suci dan sakti mengandung makna sakral, sesuatu yang luar biasa. Kita perlu yakin bahwa kita akan mampu bangkit untuk mewujudkan Indonesia abadi, menjaganya agar tetap berseri.
Begitu dalam pesan dari lagu Indonesia Raya. Sangat sayang jika kita hanya memahami sebagian saja. Semoga semangat yang dimiliki W. R. Supratman saat menuliskan lirik-lirik lagu ini dapat menjadi teladan untuk mengisi kemerdekaan dengan kompetensi kita masing-masing. Seperti wasiat sang maestro:
“Nasibkoe soedah begini. Inilah jang disoekai pemerintahan Hindia Belanda. Biarlah saja meninggal, saja ichlas. Saja toch sudah beramal, berdjoeang dengan tjarakoe, dengan biolakoe. Saja jakin Indonesia pasti merdeka.”
Beliau berpulang 7 tahun sebelum lahirnya Republik Indonesia, negara yang dicita-citakannya. Namun hingga kini, karyanya abadi.
…
Indonesia, tanah berseri
Tanah yang aku sayangi
Marilah kita berjanji
Indonesia abadi
…
Mutiara, 17 Agustus 2021
Dian L Izwar
“Diriwayatkan dari sahabat Anas; bahwa Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat dinding-dinding madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkannya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah.”
(HR. Bukhari, Ibnu Hibban, dan Tirmidzi)
