Benang Biru Muda
Ahad kemarin saya menjahit baju seragam sekolah untuk gadis kecil kami. Selama pandemi, ia bersekolah menggunakan sistem pembelajaran jarak jauh sehingga baju seragam sekolah tidak terlalu menjadi prioritas. Ia cukup mengenakan baju dengan warna senada saat belajar daring dari rumah. Toh yang dominan terlihat hanya jilbabnya. 😊
Sejak tanggal 3 Januari 2022 Dinas Pendidikan DKI Jakarta mulai memberlakukan sistem pembelajaran tatap muka untuk sekolah-sekolah di DKI yang 80% guru dan tenaga pendidiknya telah menerima vaksin covid-19 dosis kedua. Sekolah tatap muka pun dimulai. Gadis kecil kami sangat senang bertemu dengan teman sekolahnya. Sejak Maret 2020 mereka hanya saling memandang melalui layar komputer. Dan saat kembali ke sekolah, teman-temannya mengenakan seragam! Ups.
“Bunda harusnya jahit baju sekolah Kakak waktu masih sekolah online,” ujarnya Ahad kemarin.
“Iya. Yuk kita bikin sekarang.”
Ia mengikuti saya dengan riang. Kami mulai mempersiapkan perlengkapan menjahit. Seperti biasa, saya melibatkannya dalam kegiatan-kegiatan di rumah. Murid TK itu memilih sendiri benang yang akan digunakan. Ia meneliti kotak penyimpanan benang jahit yang ada. Lalu memilih warna biru muda.
“Pakai benang ini, Bunda.”
Saya menerimanya, lalu melanjutkan menggunting bahan yang sudah saya gelar di lantai.
Gadis kecil saya kembali mengamati kotak berisi kumpulan benang. Setelah beberapa saat, “Ganti yang ini saja, Bunda,” ujarnya sembari mengulurkan benang biru tua.
Saya menaruh dua helai benang biru itu di atas kain yang akan dijahit. “Lebih cocok yang mana?”
“Yang ini!” Ia menunjuk benang biru tua dengan penuh semangat. Terkesan sangat bahagia dengan keputusannya untuk mengganti benang dengan warna yang lebih tua. Alhamdulillah. Saya bersyukur ia dapat mengevaluasi kembali keputusannya untuk kemudian sampai pada solusi terbaik.
Saya juga bersyukur bahwa saya dapat menahan diri untuk tidak mengatakan, “Ini benangnya terlalu muda,” saat ia mengambil benang yang pertama. Godaan untuk segera memperbaiki kesalahan atau langsung menunjukkan sesuatu yang “benar” terkadang membuat kita memutus rantai belajar si kecil. Proses belajar sejatinya membutuhkan kesabaran. Membiarkan sang buah hati melakukan eksplorasi, memutuskan dan mengevaluasi keputusan yang telah diambil in syaa Allah akan membuatnya menjadi pribadi yang cakap dalam memecahkan masalah. Tugas kita sebagai orang tua adalah menemani, mendampingi mereka berproses. Jika sesekali mereka memilih jalan mendaki, in syaa Allah mereka akan tetap belajar dari konsekuensinya. Wallahu a’lam.
Mutiara, 18 Januari 2022
Dian L Izwar
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”
QS. Ali ‘Imran: 200
