The Purpose
Sebelum mempelajari Alquran, ada 2 hal penting yang perlu dilakukan. Yang pertama adalah mensucikan diri atau bertazkiyah dan yang kedua adalah memilih metode yang tepat. Tazkiyah akan mengantar pada pemahaman yang lurus terhadap Alquran karena kita telah membersihkan diri dari niat yang kurang baik, kepura-puraan atau agenda-agenda tertentu yang dapat “mempengaruhi” interpretasi kita terhadap ayat-ayat Alquran.
Setelah bertazkiyah, kita perlu memilih metode untuk menelusuri Alquran dengan tujuan menambah pengetahuan dalam rangka lebih mendekatkan diri pada Allah subhanahu wata’ala. Dr. Bagus Riyono memperkenalkan metode maqasid yang dikembangkan oleh Prof. Jasser Auda. Maqasid bermakna maksud atau tujuan. Dalam pendekatan ini, yang pertama harus ditetapkan dalam mempelajari sesuatu adalah tujuan dari proses belajar tersebut. Mempelajari sesuatu hanya karena rasa ingin tahu belumlah cukup. Kita perlu bertanya lebih lanjut, untuk apa pengetahuan tersebut akan digunakan setelah kita mengetahuinya. Tujuan utama tentunya adalah sebagai bentuk ibadah pada Allah. Dalam psikologi, hal ini dapat dilakukan salah satunya dengan menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat untuk membantu manusia dan memperkenalkan kontribusi Islam dalam dunia psikologi.
Prof. Jasser Auda memperkenalkan 5 tahap yang saling terkait dalam metodologi maqasid untuk mengarahkan peneliti dalam menetapkan langkah, isi, keterkaitan dan referensi yang sesuai dengan tujuan penelitian.
Kelima elemen tersebut adalah:
1. Penetapan tujuan: untuk apa hal ini dipelajari? Apa manfaatnya?
2. Lingkaran refleksi: bagaimana Alquran dan hadis memandang masalah ini? Bagaimana refleksi peneliti setelah mencermati Alquran dan hadis membahas masalah tersebut?
3. Kerangka kerja (framework), yaitu sebuah struktur konseptual yang berusaha untuk menangkap sudut pandang Islam dan menghubungkannya dengan tujuan penelitian. Kerangka kerja ini merupakan alat utama yang nantinya akan dibandingkan atau berinteraksi dengan kerangka kerja yang ada di lapangan untuk kemudian menghasilkan teori atau prinsip yang menjadi tujuan penelitian.
4. Studi literatur dan realitas yang dilakukan secara kritis: membandingkan kerangka kerja pada poin 3 dengan kerangka kerja yang telah ada.
5. Membentuk teori dan atau prinsip-prinsip yang sesuai dengan tujuan penelitian.
Berkenalan dengan metode maqasid ini membuat saya mendapatkan gambaran mengenai sebuah kerangka kerja yang lengkap dalam melakukan penelitian. Sebuah metode yang mempertimbangkan banyak aspek. Saya membayangkan butuh banyak sumber daya untuk melakukannya. Bismillah, in syaa Allah saya akan mulai dengan memahami konsep maqasid ini secara lebih menyeluruh. PR saya adalah membaca buku Prof. Jasser Auda. Semoga Allah mudahkan.
Mutiara, 26 Februari 2022
Dian L Izwar
#Refleksi kuliah sesi kelima “The 126-hour program on Islamic Psychology as the science of human soul, cognition, emotion and behavior”. Sabtu, 26 Februari 2022, 20.15-22.15 WIB oleh Dr. Bagus Riyono, MA, Psikolog
Referensi: Jasser Auda, 2021, Re-Envisioning Islamic Scholarship: Maqasid Methodology as a New Approach, Claritas Book, United Kingdom.
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk.
QS Az-Zumar: 23
