Kalung Biru Muda

“Ini untuk Bunda.”  Gadis kecil itu setengah berlari menuju saya.  Di tangannya tergenggam sebuah kalung dari benang wol berwarna biru muda dengan liotin bulat berwarna kuning. 

Saya menerimanya dengan bahagia.  Kalung yang indah dan istimewa.  Ah, bukan istimewa tapi sangat istimewa, karena merupakan hasil rajutan tangan seorang anak berusia 6 tahun. 

Gadis kecil itu keponakan saya.  Ibunya gemar merajut.  Awalnya sang ibu membuat boneka dari benang wol untuk anak-anaknya.  Mereka senang sekali dengan boneka itu dan minta dibuatkan lagi, lagi, dan lagi. 

Selama proses pembuatan boneka, si Sulung mulai memperhatikan bagaimana caranya mengatur benang menggunakan hakpen untuk menghasilkan sebuah bentuk.  Kemudian ia minta ikut serta.  Ibunya memberi jarum rajut besar dan benang yang juga besar.  Gadis kecil itu mulai belajar. 

Awalnya sang Ibu membuat simpul pertama pada benang yang akan dirajut dan si Sulung meneruskan.  Putri kecil itu senang sekali dengan rantai panjang hasil karyanya, ia menjadikannya bando.  Ada banyak bando yang dibuatnya, berwarna warni.  Terkadang ia meminta sang Ibu mengambil fotonya sedang mengenakan hiasan rambut tersebut.  Tergambar rasa senang di wajah cantiknya.

Setelah menghasikan banyak bando, ia mulai membuat kalung beserta liontinnya.  Termasuk kalung biru muda yang khusus dibuatnya untuk saya.  Saat ia sudah bisa membuat simpul awal sendiri, sang Ibu kerap menemukan putri sulungnya tengah merajut di kamar.  Asyik sekali murid TK itu dengan aktivitasnya.

Selanjutnya sang Ibu memperkenalkan cara membuat bunga. 

“Kakak mau bikin bunga matahari,” ujarnya bersemangat. 

Mulailah ia merajut bunga dengan kombinasi dua warna.  Ia sendiri yang memilih warnanya.  Bunga-bunga awal masih belum rapi tetapi makin lama tarikan benangnya makin konsisten sampai akhirnya ia bisa membuat sekuntum bunga yang cantik.  Gadis kecil itu makin mahir.  Ia tak lagi menggunakan jarum rajut yang besar tetapi memilih sendiri jarum yang sesuai dengan ukuran benang yang sekarang makin mengecil.

Beberapa hari yang lalu ia meminta untuk membeli beberapa benang lagi dengan uangnya sendiri – ia memang punya uang tabungan.  Murid taman kanak-kanak itu memilih sendiri warna benang yang akan dibeli dan tadi sore ibunya mengatakan bahwa sang putri ingin merajut cupcake.  Ma syaa Allah.  Kreativitas rajutannya makin bertambah padahal ia baru mulai berkenalan dengan benang dan jarum rajut di awal bulan Februari ini.

Membekali anak dengan keterampilan praktis seperti ini adalah sebuah tindakan bijak.  Merajut merupakan salah satu keterampilan yang dapat dikenalkan pada anak sejak dini.  Aktivitas ini akan melatih motorik halusnya, juga memberikan rasa berhasil dan menambah rasa percaya diri saat ia mampu menghasilkan sebuah rajutan.  Kegiatan merajut pun dapat mengembangkan kreativitasnya melalui pemilihan warna benang dan bentuk rajutan, melatih ketelitian dan ketekunan serta memperkenalkan konsep menuntaskan sebuah pekerjaan. 

Di samping itu, keterampilan merajut dapat menjadi sebuah hobi yang digunakan untuk mengisi waktu luang.  Semoga sang anak tak akan kebingungan dan ‘mati gaya’ jika suatu saat tidak punya aktivitas karena ia dapat menciptakan kegiatan sendiri dengan jarum dan benang rajutnya.  Keterampilan ini juga dapat menjadi sumber pemasukan, saya kenal beberapa orang yang hobi merajut dan mendapat penghasilan dari kegiatan ini.

Pertanyaan selanjutnya adalah: bagaimana membuat anak mau mempelajari sebuah keterampilan?  Ibu dari keponakan saya melakukannya dengan sangat baik.  Ia tidak menyuruh, tidak pula mengajari.  Sang ibu hanya memberi contoh. Ia menjadi model.  Ia merajut.  Si anak dengan sendirinya meniru.  Keponakan sayalah yang meminta untuk ikut memegang jarum.  Keinginan belajar muncul dari dalam dirinya, sang ibu hanya memfasilitasi.  Motivasi yang muncul dari dalam ini biasanya akan bertahan lama.  Sudah tiga pekan gadis kecil itu merajut dan ia ingin terus mengembangkan keterampilannya. 

Anak adalah peniru ulung.  Jika anda ingin mereka menguasai sebuah keterampilan, cobalah melakukannya secara konsisten di depan mereka.  In syaa Allah mereka akan belajar atas keinginannya sendiri.  Wallahu a’lam.

Mutiara, 25 Februari 2022

Dian L Izwar


“Seseorang mendidik anaknya, itu lebih baik baginya dari pada ia bersedekah (setiap hari) satu sha’.”

HR. At-Tirmidzi


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *