Cinta di Ramadan

Waktu masih berseragam putih merah, bulan Puasa adalah momen yang saya tunggu.  Kala itu murid-murid libur serentak sehingga saya dan sepupu dapat berkumpul di rumah Nenek hampir sebulan lamanya.  Sahur dan berbuka bersama keluarga besar di tengah rumah yang lapang memberi pengalaman tak terlupakan.  Ramadan sangat menyenangkan, penuh cinta dan kehangatan.

Tarawih ke masjid mencipta pengalaman sukacita.  Shalat bersama teman-teman, mencatat isi ceramah yang menjadi tugas sekolah, kemudian mengantri minta tanda tangan ustad di buku catatan, menjadi kegiatan mengasyikkan di sepanjang Ramadan hingga seragam saya berganti.

Pesantren Ramadan memberi pengalaman baru sebelum saya berseragam putih abu-abu.  Ramadan kala itu diisi dengan belajar agama, membaca Alquran dan shalat.  Para santri dibangunkan dini hari, shalat malam dulu sebelum makan sahur.  Kami mendirikan banyak shalat sunah, bukan hanya tarawih dan witir.  Sebuah kegiatan yang seru dan menambah ilmu, sedikit lelah karena banyak terjaga tapi hati gembira. 

Ada masanya Ramadan saya penuh dengan jadwal buka puasa bersama.  Berbuka bersama teman sekolah, teman kuliah, teman seprofesi, teman kerja, sampai dengan klien.  Pada waktu itu buka puasa bersama menjadi semacam tradisi.  Terkadang gegap gempita tradisi membuat kita seakan lupa esensi.

Sempat pula saya sahur sendiri di kamar hotel karena harus bertugas di luar kota.  Rasanya biasa saja melewati Ramadan sambil bekerja jauh dari rumah.  Tarawih sendirian juga tak masalah.  Saat saya renungkan sekarang, banyak ibadah yang saya lewatkan di Ramadan kala itu.  Mengejar deadline pekerjaan seakan lebih penting, prioritas Ramadan saya bergeser.

Seiring waktu, rindu saya pada Ramadan turun naik.  Kadang terasa begitu kuat tapi pernah juga Ramadan seperti berlalu begitu saja.  Kesibukan kerja dan aktivitas sosial terkadang membuat saya tak mengistimewakan Ramadan.  Padahal ia hadir untuk mengembalikan manusia pada orientasi utamanya, mengingatkan pada tujuan hidup yang sesungguhnya. 

Dua tahun terakhir semua kegiatan Ramadan saya lakukan di rumah.  Pandemi melahirkan aturan untuk tidak ke masjid dan membatasi kontak dengan orang lain.  Alhamdulillah, Allah menggerakkan hati.  Di tengah pembatasan interaksi sosial, saya mulai mendalami psikologi Islam dan bahasa Arab Alquran sebagai upaya untuk lebih memahami Al-Furqan.

Dalam salah satu perenungan makna kalam mulia, saya sempat bertanya mengapa Allah menghadirkan Ramadan.  Jawaban yang saya temukan adalah karena cinta.

Ramadan ada karena Allah mencintai hambaNya.  Ramadan merupakan sarana bagi manusia untuk kembali pada fitrah.  Kita datang ke dunia dalam keadaan suci dan Allah ingin kita kembali padaNya dalam keadaan suci pula.  Untuk itulah Sang Maha Pemelihara menyediakan seperangkat sarana dan tuntunan bagi manusia.  Ramadan adalah salah satunya. 

Ramadan hadir untuk membawa manusia pada kesucian.  Semua aktivitas di bulan penuh ampunan ini mengarah pada proses pembersihan jiwa.  Puasa, shalat, zakat, tobat, membaca Alquran dan bersedekah yang dilakukan dengan tujuan mengharap ridaNya in syaa Allah akan membawa kita kembali pada keadaan seperti saat baru dilahirkan. 

Ma syaa Allah.  Betapa sayangnya Allah pada manusia.  Kita yang sering alpa diingatkan untuk kembali, disediakan pula sarananya.  Semoga Sang Maha Pemberi Petunjuk membukakan hati kita untuk mengisi Ramadan sesuai dengan pesan cinta dariNya sehingga kita dapat menjalani bulan mulia ini dengan sepenuh cinta padaNya.  Bismillah.  

Selamat menyambut Ramadan, Sahabat.  Semoga kita menjadi hambaNya yang lebih taqwa.  Aamin.

Mutiara, 29 Maret 2022/26 Sya’ban 1443 H

Dian L Izwar


“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur..”

QS. Al-Baqarah: 185 


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *