The Dynamic of the Soul
Setiap manusia mempunyai potensi fujur dan takwa di dalam dirinya. Allah subhanahu wa ta’ala menghadirkan kedua sifat ini sebagai sebuah keseimbangan. Adanya potensi fujur dan takwa memberikan peluang pada manusia untuk mempunyai pilihan dalam berperilaku.
Fujur berarti sesuatu yang membelah, memancar, meluap dan juga perilaku durhaka kepada Allah. Fujur mengandung makna berlebihan dalam bertindak. Sifat fujur membuat seseorang dapat melampaui batas-batas yang telah ditetapkan, baik oleh dirinya sendiri, masyarakat, negara, bahkan aturan dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Sementara takwa bermakna hati-hati, memelihara dan taat pada semua perintah dan larangan Allah. Dalam takwa terkandung makna kepatuhan dan kewaspadaan untuk tetap berada dalam ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala.
Contoh sederhana sifat fujur dalam perilaku seseorang dapat dilihat pada kasus adiksi gawai. Kecanduan adalah sesuatu yang melampaui batas. Adiksi menunjukkan adanya sifat fujur yang dominan dalam pilihan perilaku. Sementara sifat takwa akan membatasi interaksi seseorang dengan gawai sehingga ia tidak jatuh ke dalam adiksi. Pilihan sifat fujur atau takwa sebagai landasan perilaku dilakukan melalui interaksi kapasitas akal dan moral yang juga dimiliki oleh setiap insan.

Di samping fujur dan takwa, Allah subhanahu wa ta’ala juga memberikan akal dan moral pada setiap individu. Akal merupakan kapasitas istimewa manusia yang memungkinkan seseorang melakukan analisa terhadap pilihan perilakunya. Demikian pula kapasitas moral yang telah terberi sejak lahir membuat setiap orang sejatinya mampu membedakan antara baik dan buruk. Potensi fujur dan takwa yang dikelola oleh kapasitas akal dan moral tersebut membentuk dinamika dalam jiwa manusia. Hasil dari dinamika ini adalah dua pilihan perilaku, yaitu tazkia dan tadsia.
Tazkia merupakan pilihan yang membersihkan dan menyucikan jiwa. Pilihan ini akan membawa manusia pada kesejahteraan. Jika kita kembali pada kasus penggunaan gawai, maka tazkia akan membuat kita menggunakan perangkat elektronik ini sebagai sarana untuk memudahkan perkerjaan dan makin mendekatkan kita pada Allah. Sementara tadsia adalah pilihan yang mengotori dan membenamkan jiwa. Pilihan ini akan membawa manusia pada penderitaan. Dalam kasus adiksi gawai, kecanduan akan membuat seseorang “melupakan” hal lain serta menghabiskan sebagian besar waktu dan energi hanya untuk gawai. Dampak terburuk adalah menjauhkannya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Tentunya ini bukanlah suatu keadaan yang ideal. Namun manusia selalu punya pilihan.
Sebagai makhluk pembelajar, manusia sejatinya mampu belajar dari setiap kesalahan, termasuk kesalahan saat mengambil pilihan ke arah tadsia. Menyadari bahwa tadsia bukanlah pilihan yang tepat membuka peluang bagi manusia untuk bertobat. Tobat yang sungguh-sungguh akan menghadirkan pilihan baru bagi manusia untuk berperilaku. Pilihannya adalah tazkia, in syaa Allah.
Mutiara, 23 Maret 2022
Dian L Izwar
#Refleksi kuliah sesi kesepuluh “The 126-hour program on Islamic Psychology as the science of human soul, cognition, emotion and behavior”. Ahad, 13 Maret 2022, 20.00-22.00 WIB oleh Dr. Bagus Riyono, MA, Psikolog
“…demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya,
maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,
sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu),
dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
QS. As-Syams 7-10
