Memilih Saat Tak Ada Pilihan
Tadi pagi seorang sahabat menulis, “Padahal cuti…kok tetap diminta join meeting… hiks..”
Ia memang sedang cuti. Kantor menginginkan ia ikut rapat di hari cutinya. Meski hanya diminta hadir secara daring, tetap saja ia merasa terganggu. Akan tetapi ia tak kuasa menolak. Statusnya masih karyawan, harus patuh pada perusahaan. Ia tak punya pilihan. Benarkah?
Sahabat lain menimpali pesan di atas dengan kalimat, “Tandanya dibutuhkan.” Nah, inilah pilihannya! Pada saat dihadapkan pada situasi yang tidak berada di bawah kendali kita, pilihan berada di dalam pikiran kita.
Sang sahabat harus ikut rapat, hal itu tidak bisa ditawar. Mangkir rapat akan membawa konsekuensi tertentu bagi karirnya. Ia tidak punya kendali untuk membebaskan diri dari rapat tersebut. Pada situasi ini, pilihannya ada 2. Yang pertama adalah mengikuti rapat dengan rasa terpaksa dan berat hati. Yang kedua adalah mengikuti rapat dengan rasa bangga dan penuh semangat. Kedua pilihan ini akan memberikan hasil yang berbeda terhadap kesehatan mental dan produktivitasnya. Bagaimana ia sampai pada salah satu dari kedua pilihan ini tergantung dari apa yang dipikirkannya terhadap perintah menghadiri rapat yang diberikan oleh perusahaan.
Jika ia berpikir bahwa perusahaan tidak fair karena masih memaksanya mengikuti rapat di saat cuti, maka ia akan menghadiri rapat dengan berat hati. Rasa terpaksa dapat membuatnya merasa tidak nyaman dan berujung pada rasa enggan berpartisipasi aktif. Ia hanya hadir secara fisik, sekedar memperlihatkan bahwa ia patuh pada instruksi perusahaan. Rapat akan terasa membosankan dan waktu berjalan amat pelan.
Sebaliknya ia juga dapat berpikir bahwa ia dibutuhkan oleh perusahaan dan merasa bangga karenanya. Meskipun sedang cuti, perusahaan terpaksa memintanya hadir karena pendapatnya penting untuk didengar di rapat tersebut. Ia akan merasa dihargai, kemampuannya diakui. Rasa bahagia akan menghiasi hatinya dan mendorong untuk turut serta secara aktif di dalam pertemuan tersebut. Hasilnya adalah produktivitas dan kesehatan mental yang lebih baik, in syaa Allah.
Makna yang kita berikan pada sebuah peristiwa mempunyai pengaruh kuat terhadap rasa yang tercipta berkenaan dengan peristiwa itu. Dalam situasi yang berada di luar kendali pun, kita tetap mempunyai pilihan untuk menciptakan ketenangan di dalam diri pada saat menjalani situasi tersebut. Menentang dalam hati dan marah-marah sendiri karena harus melakukan hal yang tidak diinginkan adalah pilihan pertama dan sering terjadi secara spontan. Menerima dan menikmati situasi yang telah terberi adalah pilihan kedua yang lebih positif dan perlu dilatih.
Pilihan kedua akan membuat kita merasa lebih ringan dalam menjalani sebuah situasi dan tidak menguras energi. Menerima adalah langkah awal bagi sebuah pengalaman baru yang menyenangkan. Pilhan untuk menikmati apa pun yang telah terberi akan membuat hidup terasa lebih mudah dan indah. Anda punya pengalaman serupa? Silakan berbagi di kolom komentar. Semoga hikmahnya dapat menggugah sahabat lain untuk melakukan hal yang sama.
Semangat berbagi, Sahabat. Salam sehat & bahagia.
Mutiara, 6 Desember 2022
Dian L Izwar
“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
QS. Al-Baqarah: 126
