Self Love: Perlu atau Tidak?
Self-love saat ini menjadi sebuah istilah yang kerap dibicarakan, terutama dalam kaitannya dengan kesehatan mental (mental health). Dikatakan bahwa self-love dibutuhkan agar seseorang dapat menjadi pribadi yang sehat mental. Apakah benar demikian?
Dari segi bahasa, self-love berarti cinta diri. Istilah ini merujuk pada sikap seseorang yang mencintai dirinya sendiri. Pada perkembangannya banyak hal kemudian dikaitkan dengan sikap mencintai diri ini. Saya akan mulai dengan makna awal dari istilah self-love.
Sebenarnya kemampuan untuk mencintai diri sendiri telah terberi pada setiap individu. Secara naluri, setiap orang akan melakukan hal terbaik bagi dirinya. Seseorang akan mencintai dirinya sendiri secara alamiah.
Kita sering mendengar kata-kata bijak yang merujuk pada diri sendiri sebagai standar. Misalnya: perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan atau cintailah saudaramu seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Kalimat-kalimat ini menjadikan diri sendiri sebagai acuan karena secara otomatis seseorang akan mencintai dan bersikap baik pada dirinya sendiri. Sikap baik inilah yang juga perlu dilakukannya pada orang lain. Oleh karena itu dahulu self-love bukan termasuk istilah yang dipopulerkan dalam bahasan kesehatan mental. Seseorang tidak perlu dianjurkan untuk mencintai diri sendiri karena secara naluri ia akan melakukannya tanpa diminta.
Lebih jauh, self-love bahkan dianggap berkonotasi negatif karena dikaitkan dengan sikap narsistik. APA Dictionary of Psychology mendefinisikan self-love sebagai (1) regard for and interest in one’s own being or contentment (2) excessive self-regard, or a narcissistic attitude toward one’s body, abilities, or personality. Pribadi dengan kecenderungan narsistik sangat mementingkan diri sendiri dan mempunyai empati yang rendah terhadap orang lain. Mereka cenderung menganggap dirinya lebih baik dan terlalu memprioritaskan diri sendiri. Tentu saja ini bukanlah sikap mental yang sehat.
Lalu bagaimana self-love dapat menjadi sebuah istilah yang dianjurkan dalam konteks kesehatan mental? Mulanya self-love dikaitkan dengan depresi. Orang-orang yang berada dalam keadaan depresi cenderung mempunyai penghargaan yang rendah terhadap dirinya, memiliki keinginan untuk menyakiti diri sendiri (self-harm) bahkan mengakhiri hidup. Untuk merekalah istilah self-love diperkenalkan, dengan harapan keinginan untuk menyakiti diri dan mengakhiri hidup akan berkurang. Jadi, awalnya konsep self-love ditujukan bagi individu yang sedang berada dalam keadaan tidak sehat mental. Mengapa? Karena pada kondisi tidak sehat mental, persepsi seseorang terhadap dirinya dapat terganggu. Oleh karena itu, ia perlu diingatkan untuk kembali mencintai dirinya.
Pada perkembangan selanjutnya istilah self-love diperluas maknanya sehingga tidak hanya berarti mencintai diri tetapi juga menerima dan mengembangkan diri. Istilah ini menjadi berkonotasi positif dan mulai dipopulerkan untuk meningkatkan kesehatan mental pada masyarakat.
Jadi, perlukah self-love? Tentu saja perlu apabila kita merujuk pada batasan mencintai diri sebagai penerimaan dan pengembangan diri. Namun karena ini merupakan istilah yang diperluas, beberapa konselor menemukan bahwa pada sebagian orang konsep mencintai diri sering rancu dengan memanjakan diri. Memanjakan diri membuat seseorang menjadi kurang tangguh atau malah cenderung menjadi narsistik. Alih-alih sehat mental, yang terjadi malah sebaliknya. Kerancuan ini dapat terjadi karena persepsi masyarakat terhadap self-love terkadang belum seluas makna pengembangan konsepnya sebagai penerimaan dan pengembangan diri. Beberapa orang masih menerjemahkan self-love dalam makna sempit sebagai bentuk kecintaan terhadap diri sendiri. Mereka jadi memanjakan diri dengan berbagai hal untuk menyenangkan dirinya sendiri, padahal bukan itu tujuan dari self-love.
Nah, untuk menghindari kerancuan ini, saya lebih senang menggunakan istilah yang lebih netral dalam mempromosikan kesehatan mental yaitu self-acceptance yang diiringi dengan mental self-care. Seseorang perlu menerima dan merawat dirinya menuju pribadi yang senatiasa berkembang. Jadi, tujuan dari self-acceptance dan mental self-care adalah self-growth. Individu yang sehat selalu berkembang, hari ini lebih baik dari hari kemarin. Bagaimana caranya?
Self-acceptance berarti menerima diri. Individu dengan self-acceptance yang baik akan menyadari kemampuan dan potensi yang dimilikinya sekaligus menerima kelemahan yang ada. Ia menyadari bahwa setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan, baik itu dari segi fisik, kemampuan, bakat dan hal lainnya. Ia juga menerima setiap emosi yang dirasakan sebagai sebuah hal yang wajar untuk kemudian dikelola secara tepat. Rasa bersalah, sedih, kecewa, marah adalah emosi yang sama dengan rasa suka, senang, gembira dan bersemangat. Semua ini adalah emosi yang perlu diterima pada saat ia hadir dalam hidup kita. Dunia bergerak, manusia berubah. Demikian pula dengan emosi, kita tidak perlu larut dalam penyesalan panjang, kesedihan yang lama atau eforia berlebihan. Self-acceptance adalah aspek penting dalam kesehatan mental.
Setelah menerima diri dengan segala perasaan, pemikiran, prestasi, kegagalan, ambisi dan keinginannya, seseorang perlu merawat dan mengembangkan diri. Disinilah pentingnya mental self-care. Kemampuan untuk peduli dan merawat diri perlu dipelajari, terutama pada aspek yang berkaitan dengan mental. Tidak semua orang tahu bagaimana cara merawat jiwa dengan optimal.
Jiwa manusia mempunyai 4 komponen. Komponen terluar berkaitan dengan tubuh. Oleh karena itu penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Mens sana in corpore sano, jiwa yang sehat terdapat di dalam tubuh yang sehat. Cukup makan, cukup istirahat, cukup gerak dan menghindari paparan zat berbahaya in syaa Allah akan membuat tubuh kita sehat.
Komponen berikutnya dari jiwa berhubungan dengan penalaran. Ini merupakan aspek yang perlu dilatih. Salah satu caranya adalah dengan terus belajar. Pepatah belajarlah selama hayat masih dikandung badan sangat sesuai dengan mental self-care. Mempelajari hal baru akan membuat kita senantiasa berkembang dan merasa lebih baik secara mental. Bertanya mengapa dan untuk apa adalah langkah awal untuk mempelajari sesuatu.
Komponen jiwa yang ketiga berkaitan dengan emosi yang dirasakan bersama dengan kehadiran orang lain. Memahami orang lain serta mencintai dan merasa dicintai adalah bagian penting dalam kesehatan jiwa. Dengan mengasah sikap empati dan altruisme, komponen emosi dari jiwa kita akan makin berkembang. Demikian juga dengan memaafkan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Orang yang pemaaf lebih sehat mental.
Bagian terdalam dari jiwa berkaitan dengan Allah. Jiwa yang sehat selalu terhubung dengan Penciptanya. Ini adalah komponen yang paling sulit diukur dari jiwa manusia. Hanya kita sendiri yang mengetahui kualitas hubungan kita dengan Sang Pencipta. Religiusitas tidak dapat dinilai dari jumlah ritual atau penampilan seseorang. Ia merupakan rahasia antara seorang hamba dengan Al-Malik. Beberapa orang terkadang lalai memperhatikan komponen keempat dari jiwa ini. Mereka merasa ada yang kosong dalam segala kelimpahan hidup yang didapat. Koneksi dengan Sang Pemilik Hidup adalah satu-satunya cara untuk mengisi kehampaan dalam hidup. Jiwa yang dekat dengan Allah adalah jiwa yang sehat, in syaa Allah.
Mari menerima dan mengembangkan diri menuju ridaNya. Salam sehat mental.
Mutiara, 28 November 2022
Dian L Izwar
dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.
QS. Asy-Syams: 7-10

Self love munculnya karena kita “kenal diri kita” sebagai mahluk ciptaan-NYA. Benar sekali ibu psikolog jika self love tdk didasarkan pada kondisi “kenal diri kita” maka akan berkembang jd pribadi yg narsis. Kenalilah dirimu maka engkau akan mengenal pencipta Mu…
Ma syaa Allah. Sepakat, Bu Guru. Semoga kita makin mengenal diri dan Sang Pencipta ya. Terima kasih sudah berbagi, Ri.
interesting article
Alhamdulillah. Thank you for the appreciation.