Profesional
Ini kisah seorang sahabat. Ia adalah seorang yang cakap, ahli di bidangnya. Ia juga berdedikasi pada pekerjaannya. Integritasnya tak diragukan. Demikian pula keinginan belajar dan kesungguhannya untuk terus mengembangkan diri. Ia adalah seorang yang dapat diandalkan untuk melaksanakan profesinya dengan baik. Ia pun menyadari hal ini. Oleh karena itu, ia menetapkan standar harga yang tinggi untuk jasa yang diberikannya.
“Saya profesional,” dalihnya.
“Profesional adalah orang yang memiliki keahlian tertentu dan kompeten di bidang itu dan mendapatkan penghargaan yang setara dengan keahlian yang dimilikinya,” jelasnya panjang lebar.
Saya mengangguk. Teringat perbedaan antara petinju amatir dan petinju profesional.
“Kita harus menghargai profesi kita dan kita juga perlu menghargai diri kita sendiri,” sambungnya.
Benar juga.
“Saya tidak mau dibayar murah. Itu tidak profesional. Profesional mencakup 3 aspek. Sebuah profesi, memerlukan keahlian dan mendapatkan bayaran yang setara dengan keahliannya.”
Jika merujuk pada definisi profesional di Kamus Besar Bahasa Indonesia, apa yang disampaikan oleh sahabat ini benar. Salah satu ciri profesional adalah mendapatkan bayaran. Besarnya tidak ditetapkan. Jadi sah saja jika seseorang menetapkan harga tertentu untuk jasanya. Saya membayangkan pemain bola profesional yang honornya bisa luar biasa besarnya.
“Tidak mau dibayar murah bukan berarti selalu dibayar mahal lho ya.” Sang sahabat tersenyum.
Saya paham maksud senyumnya. Pada kegiatan-kegiatan sosial, ia memang tidak menetapkan harga. Gratis tidak masalah baginya dan ia tetap melakukan pekerjaannya dengan standar yang sama dengan pada saat ia mendapatkan honor tinggi.
Yang saya tuliskan di atas adalah kejadian beberapa tahun lalu, jauh sebelum pandemi. Akhir-akhir ini sang sahabat berubah. Ia tetap seorang profesional dengan kompetensi yang baik. Hanya, ia kini tak lagi menetapkan harga tertentu untuk jasa yang diberikan. Tentu saja ini mengundang tanya pada orang-orang yang kenal dekat dengannya.
“Buat aku, diberi kesempatan untuk mengamalkan ilmu itu rezeki. Semua pengetahuan yang kita miliki kelak akan ditanya dimanfaatkan untuk apa. Jadi kalau ada klien yang minta aku bantu dia, aku justru yang perlu berterima kasih. Dia sudah kasih aku kesempatan mengamalkan pengetahuan dan keterampilan yang Allah titipkan padaku.”
Ma syaa Allah, sebuah cara pandang yang berbeda. Saya merasakan perubahan orientasi dalam kalimatnya. Hal yang penting baginya saat ini tak lagi sama dengan konsep profesional yang dulu diagungkannya.
“Jadi nggak profesional, dong. Nggak dibayar?” usik saya usil.
Ia tertawa kecil. “Dibayar juga, hanya bukan aku yang menetapkan berapa jumlahnya.”
“Cukup?”
“Allah Maha Mencukupkan. Rezeki dari Allah toh, bukan dari klien.” Ia tertawa.
“Katanya mesti menghargai profesi dan menghargai diri sendiri?”
“Ini dalam rangka menghargai diri sendiri. Memberi yang terbaik pada diri.”
Waduh, sepertinya kalimat ini bermakna dalam. Saya masih mencerna saat ia melanjutkan.
“Gini. Balik ke profesional dulu ya. Setelah aku pikir, aspek ketiga dari profesional itu tidak harus imbalan dalam bentuk uang tapi penghargaan. Orang sering mengira bahwa yang namanya penghargaan itu bentuknya uang, padahal kan tidak selalu. Kepercayaan klien pada kita itu penghargaan, kan? Ketika mereka memilih kita, berarti mereka menghargai kemampuan kita.”
“Menghargai profesinya bagaimana?”
“Masyarakat jadi tahu bahwa profesi ini bukan sebuah profesi eksklusif yang hanya dapat dinikmati oleh orang-orang berduit. Masyarakat tahu bahwa ada profesional dalam profesi kita yang bisa mereka akses tanpa mereka harus memikirkan tentang berapa harus membayar. Buat aku, ini adalah penghargaan pada profesi, menunjukkan pada masyarakat bahwa ini adalah sebuah profesi mulia yang siap membantu siapa pun yang membutuhkan.”
Rasa haru menyelimuti saya.
“Dan aku menghargai diriku sebagai hamba Allah yang akan kembali padaNya. Aku berusaha untuk seluas mungkin memanfaatkan apa yang Allah telah amanahkan padaku. Profesi ini, dengan segala kemampuan yang aku punya. Saat aku menetapkan harga tertentu, hanya orang tertentu saja yang bisa aku bantu. Dulu aku berpikir, kalau aku tetapkan harga tinggi, dengan pekerjaan yang sedikit aku bisa punya cukup dana dan aku punya banyak waktu untuk hobi dan bersantai menikmati hidup. Sekarang, aku memandang klien adalah rezeki, tapi bukan dalam bentuk uang ya. Klien adalah kesempatan mengamalkan ilmu. Membantu orang yang membutuhkan. Dulu aku berpikir kenapa harus menangani banyak klien jika satu klien saja cukup untuk memenuhi kebutuhan finansial. Sekarang aku tidak berpikir soal finansial saja, bagiku rezeki itu termasuk kesempatan untuk mengamalkan ilmu. Semakin banyak aku bisa membantu klien, semakin banyak pula aku bisa mengamalkan ilmu. Itu aja sih, bedanya.” Ia menutup percakapan dengan sebuah senyuman.
Ma syaa Allah, bagaimana kita menjalani profesi sejatinya tergantung dari bagaimana kita memandang profesi tersebut. Rasa bahagia memang lahir dari rasa syukur. Sahabat yang saya ceritakan ini sekarang tampak lebih santai dan berbahagia, setidaknya dari pengamatan saya. Boleh jadi karena penghayatannya yang lebih luas terhadap tujuan profesi yang digelutinya. Baginya bekerja adalah memberi yang terbaik dengan memanfaatkan apa yang telah Allah titipkan padanya. Imbalan hanyalah konsekuensi, bukan tujuan dari pekerjaan. Saya rasa ini adalah salah satu makna yang dalam dari bersyukur. Wallahu a’lam.
Mutiara, 14 Maret 2023
Dian L Izwar
Siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, dan dia adalah mukmin, mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik. Tiap-tiap (golongan), baik (golongan) ini (yang menginginkan dunia) maupun (golongan) itu (yang menginginkan akhirat) Kami berikan anugerah dari kemurahan Tuhanmu dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami melebihkan sebagian mereka atas sebagian (yang lain). Sungguh kehidupan akhirat lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaannya.
QS. Al-Isra: 19-21
