Sei Sapi

Ketika Argo Semeru mulai melaju dari stasiun Solo Balapan, pramugari kereta lewat di samping saya seraya mendorong troli.
“Sei sapi ada, Mbak?”
“Ada. Saya siapkan dulu ya.”
“Saya pesan satu ya.”
“Iya, Bu.”
Gadis manis berseragam batik itu pun berlalu ke arah gerbong restorasi.

Saya menunggu. Waktu telah lewat tengah hari. Teman duduk saya yang naik dari Surabaya sedang menikmati nasi ayam bakar, kuliner kereta juga.

Saya menanti kedatangan sang pramugari dengan penuh harap. Meski sudah beberapa kali menikmati perjalanan dengan Argo Semeru, saya belum pernah mencicipi Nasi Sei Sapi yang dalam bayangan saya sangat nikmat karena selalu habis saat saya memesan makan siang pada kesempatan sebelumnya. Senang rasanya membayangkan akan menikmati menu super laris di kuliner kereta ini.

Argo Semeru memasuki stasiun Tugu Yogyakarta, banyak penumpang naik. Bangku-bangku yang tadinya kosong kini terisi. Saya mengamati para penumpang yang sibuk mengatur barang bawaannya. Seorang ayah memberikan sekotak nasi ayam goreng pada gadis kecilnya. Ini memang waktunya makan siang. Mana Sei yang saya pesan? Sudah 45 menit berlalu, selama waktu tempuh Solo-Yogya.

Kereta melaju stabil meninggalkan stasiun Tugu. Rasa lapar mulai mengusik. Gerbong restorasi tepat berada di belakang gerbong 4 yang saya naiki, seharusnya tak butuh waktu lama untuk mengantarkan pesanan. Apakah sang pramugari lupa? Atau dia lupa tempat duduk saya? Ah, rasanya tidak mungkin, mereka kan sudah terlatih untuk melayani penumpang dengan baik. Saya kembali menunggu.

Menit demi menit berlalu. Sei tak kunjung datang. Sementara perut saya mulai berdendang. Saya memang tidak membawa bekal makan siang.

Berniat menikmati kuliner kereta, saya putuskan untuk mendatangi saja gerbong kereta yang dijadikan restoran. Gerbong itu hanya terpisah satu pintu dari posisi tempat saya duduk.  Bismillah. Semoga sei-nya masih ada, atau semoga ada menu lain yang juga nikmat.

Begitu saya berdiri dan membalikkan badan untuk melangkah ke arah gerbong restorasi, pramugari berseragam batik muncul di depan pintu.  Saya kembali duduk seraya tersenyum dalam hati.  Di batas sabar.  Kalimat ini menggema di relung hati. Beberapa kali pengalaman ini terjadi.  Bila saya menunggu sebentar lagi, menahan diri sesaat lagi, saya tidak perlu berusaha keras (bahkan terkadang tidak perlu berusaha) untuk mendapatkan apa yang saya tunggu.  Sabar memang tak berbatas.  Meski sabar juga tak berarti pasrah tanpa melakukan apa-apa. Wallahu’alam.

Argo Semeru, 19 Des 2024
Dian L Izwar


“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
QS. Al-Baqarah: 153


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *