Harapan

Tadi pagi saya membaca status media sosial seorang sahabat. Tulisannya berbunyi: “Kenapa Engkau begitu yakin dengan pundakku ya, Allah? Padahal aku tak sekuat itu.”

Pada saat membaca, saya merasa ada yang janggal. Ada yang terasa aneh. Saya membacanya sekali lagi dan menemukan bahwa kalimat itu terbalik. Ya, terbalik. Bagaimana bisa seorang hamba mempertanyakan pada Sang Pencipta mengenai kemampuan dirinya? Manakah yang lebih tahu, Yang Mencipta atau yang diciptakan?

Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Kalimat ini jelas tertera dalam Kitab Mulia. Allah Maha Tahu, Maha Penyayang. Bila Allah membebankan sesuatu pada hambaNya, pastilah sesuatu yang mampu dipikul olehnya.

Jadi perkara pun yang Allah berikan pada kita, dengan izinNya, akan mampu kita kelola. Pemahaman yang benar mengenai hal ini penting. Mengapa? Karena keyakinan akan janji Allah bahwa kita tidak akan terbebani dengan sesuatu kecuali kita sanggup menanggungnya akan menumbuhkan harapan. Harapan adalah kunci kehidupan. Harapan adalah cahaya.

Harapan membawa pada keyakinan bahwa persoalan akan selesai. Seberat apa pun masalah yang tengah dihadapi, jalan keluar pasti ada.  Kita hanya perlu terus berusaha. Harapan menghidupkan semangat dan menyehatkan mental.

Pada beberapa kasus depresi, penderita kehilangan harapan dan merasa tak sanggup memikul beban. Mereka merasa tak mampu bertahan. Diliputi rasa tak berdaya, mereka memilih mengakhiri hidupnya. Padahal perjalanan manusia tak berakhir di dunia. Masih ada kehidupan abadi yang menanti. Kehilangan harapan membuat mereka tak kuasa menimbang keputusan dengan jernih. Untuk menghindari hal inilah, kita perlu yakin akan kasih sayang dan keadilan Allah. Ia yang Maha Memelihara pasti mempunyai rencana yang lebih baik.

Tentu saja boleh merasa lemah karena manusia sejatinya memang makhluk yang lemah. Bersandarlah pada Yang Maha Kuasa. Bermanjalah padaNya, mohon kekuatan dariNya. Mintalah pertolonganNya. Bukankah Allah menjawab segala doa?

Bicara tentang doa, saya teringat cerita seorang sahabat. Saat ia sangat terpuruk, ia bahkan tak banyak berkata-kata.

“Saking nyeseknya dada, cuma bisa bilang, ‘Ya, Allah, tolong.’ Allah pasti ngerti apa yang sebenarnya pingin aku aduin.”

Ma syaa Allah. Demikian keyakinannya pada Sang Huda. Ia percayakan semua pada Rabbnya. Sikap ini menimbulkan harapan dan menciptakan sikap mental yang lebih sehat, in syaa Allah.

Penting untuk meyakini bahwa pertolongan Allah sangat dekat. Kita hanya perlu mendekat padaNya. Pada saat kita mendekat dengan berjalan, Allah akan mendekati kita dengan berlari. Ma syaa Allah, betapa sayangnya Allah pada hambaNya.

Semoga kita selalu berada dalam inayah dan hidayahNya. Aamiin.

Mutiara, 23 Mei 2023
Dian L Izwar


“Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya..”

QS. Al-Baqarah: 286


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *