Lingkaran Kebaikan

Hari Jumat kemarin tukang yang sedang merenovasi rumah saya menginformasikan bahwa pada hari Minggu dia berjanji untuk membantu tetangga saya menebang pohon.  Bagi saya tidak masalah. Sesuai kesepakatan, hari Minggu adalah hari libur.  Ia tidak harus berkerja pada hari itu.

Yang menarik adalah lanjutan ceritanya.  Ia mengatakan bahwa sebelum diminta membantu menebang pohon, ia juga diminta untuk memperbaiki bagian yang bocor di rumah tetangga tersebut. 

“Sudah 4 tukang yang benerin masih bocor juga,” ujarnya menirukan ucapan sang tetangga. 

“Mungkin tukangnya belum pinter, ngaku tukang tetapi ilmunya belum banyak,” komentar saya mengacu pada pengalaman berinteraksi dengan beberapa tukang bangunan yang lain.

“Saya dulu juga gitu.  Saya jadi kenek beberapa kali.  Saya lihatin kayaknya kerjaan tukang gitu-gitu aja.  Proyek berikutnya, pas ditanya: tukang atau kenek? Saya jawab: tukang!  Mandornya percaya aja,” ujarnya sambil tertawa.

“Tapi kan kamu belajar gimana caranya jadi tukang,” pancing saya. 

Dalam pandangan saya, ia mempunyai keterampilan yang baik sebagai tukang bangunan.  Hasil kerjanya pun rapi.  Tidak hanya satu dua tetangga yang memintanya membantu mengatasi masalah bangunan rumah mereka.   Para tetangga itu mengatakan cara kerjanya bagus. 

“Saya banyak belajar dari Pak Dokter.  Bapak yang ngajarin sebelum kerja harus dipikirin dulu.  Gimana caranya supaya kuat, supaya lurus, gimana supaya nanti hasilnya bagus.”  Dia berhenti sejenak.  Singkat cerita, sekitar 20 tahun yang lalu ia ikut mandor yang merenovasi rumah ayah saya.  Setelah renovasi selesai ia masih ikut mandor yang sama untuk satu pekerjaan lagi.  Kemudian sang mandor kehabisan proyek.  Pada saat sedang tidak ada perkerjaan, atasannya yang baik itu memintanya menghubungi ayah saya. 

“Kata mandor saya, Pak Dokter pernah bilang kalau pas lagi nggak ada kerjaan,  Bapak mau ngasih saya kerjaan.  Jadi saya ke rumah Bapak.  Bener dikasih kerjaan, lanjutin renovasi yang dulu.  Selama kerja saya dimandorin sama Pak Dokter.  Bapak ilmunya bagus.  Saya nurut aja disuruh begini begitu, sekalian belajar.  Saya matengnya ya habis kerja sama Pak Dokter itu.”  Tukang saya bercerita panjang lebar. 

Setelah menyelesaikan pekerjaan renovasi yang kedua, sesekali ia masih mengunjungi Ayah.  Saat memiliki ponsel, ia memberikan nomor kontaknya pada Ayah.  Itulah sebabnya Ayah masih bisa menghubunginya pada saat saya membutuhkan tenaga untuk renovasi rumah.

Setelah ia selesai bercerita tiba-tiba terlintas di pikiran saya mengenai kebaikan yang mengalir.  Cerita ini seolah mengkonfirmasi janji Allah bahwa tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.  Ayah memberinya pekerjaan dan kesempatan berlatih hingga ia menjadi tukang yang terampil.  Sekarang ia menggunakan keterampilan itu untuk merenovasi rumah saya. 

“Ayah ngajarin kamu. Ternyata ilmunya kepake buat renov rumah anaknya.  Balik lagi deh manfaat ilmunya.” Saya menyimpulkan ceritanya.

“Bener.  Orang baik, dapetnya baik lagi.  Di kampung ada juga yang suka nolongin orang, eh, anak-anaknya juga pada ditolongin orang,”  ia menceritakan pengamatannya mengenai hal yang sama.

Saya tersenyum mengiyakan.  Semoga pahala kebaikan selalu mengalir pada Ayah.  Semoga kita pun mempunyai kesempatan untuk melakukan kebaikan.

Mutiara, 8 November 2020

Dian L Izwar


“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)..”

(QS.Ar-Rahman ayat 60)


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *