Ecobrick
Ini cerita seorang sahabat. Putranya mendapat tugas dari sekolah untuk membuat ecobrick.
“Jadi anak-anak disuruh ngumpulin sampah plastik kering dan dimasukkan ke dalam botol plastik kemasan air minum 600ml,” jelasnya.
Saya membayangkan bata ramah lingkungan yang terbuat dari limbah plastik. Sebuah tugas yang bagus. Anak-anak dilatih untuk memanfaatkan sampah plastik yang sulit terurai jika dibuang begitu saja.
“Dikasih waktu 5 hari untuk bikinnya. Satu sudah jadi dan dibawa ke sekolah. Satu botol lagi akan dibuat di sekolah, jadi anak-anak diminta membawa botol kosong dan potongan sampah plastik yang akan diisiin ke dalam botol,” lanjutnya.
“Keren tugasnya,” puji saya sungguh-sungguh. Saya mendukung setiap hal yang bertujuan mendidik anak menjadi pribadi yang peka dan mandiri.
“Iya, yang kurang keren waktunya. Aku kan nggak punya limbah plastik sebanyak itu dalam waktu kurang dari sepekan. Banyak lho, isi botol 600 mili itu kalau dipadetin.”
“Jadi gimana?” tanya saya penasaran.
“Jadi aku bilang sama gurunya agar waktunya ditambah. Jangan terlalu mepet. Kadang sekolah suka ngasih tugas mepet-mepet. Nah, pas aku ngomong gitu, ada ortu murid yang bilang, ‘aku punya banyak limbah plastik, nanti aku kasih.’ Gurunya senyum aja, terus pergi.”
Ada nada kurang puas dalam nada bicara sang sahabat ini. Terkesan ia tak sepakat dengan tawaran solusi dari orang tua murid tersebut.
“Pas gurunya dah pergi, ada ortu yang kasih saran, ‘Beli aja permen atau apa, ambil bungkusnya, isinya bagi-bagi. Beres.’ Lha..?” Ia menampilkan ekspresi setengah tak percaya.
“Lebih parah lagi, ada yang bilang untuk beli aja ecobrick-nya. Banyak yang jual online. Duh, gemes banget aku. Ide untuk beli ini didukung pula sama ortu yang lain. Bahkan ada yang langsung koordinir. ‘Sini aku pesenin, siapa aja yang mau?’ Dan kelas anakku dipuji kompak sama kelas lain karena ortunya bisa langsung siapin ecobrick buat sekelas.” Sang sahabat melepaskan uneg-unegnya. Beberapa orang mungkin tidak paham dia gemas tentang apa.
Para orang tua teman anaknya tidak menangkap esensi tugas ini seperti yang dipersepsi oleh sang sahabat. Ibu yang sadar didik ini ingin mengajari anaknya untuk memanfaatkan limbah plastik. Jadi, ia berharap agar waktu pengumpulan tugas diperpanjang sehingga setidaknya dalam 2 pekan anaknya benar-benar dapat mengumpulkan sampah-sampah plastik dari rumah mereka.
Ia ingin ecobrick anaknya berisi plastik yang benar-benar merupakan limbah dari aktivitas sehari-hari di rumah. Dengan demikian anaknya menjadi terbiasa untuk menyimpan sampah plastik dan memanfaatkannya kembali. Esensi dari tugas ini adalah pembiasaan menggunakan kembali limbah plastik, bukan membuat ecobrick. Ecobrick hanyalah sarana. Terbentuknya kebiasaan ini tidak akan tercapai dengan membeli ecobrick yang sudah jadi atau menyediakan secara khusus plastik-plastik bekas untuk dimasukkan ke dalam botol lalu dibawa ke sekolah.
Saya mendengarkan cerita ini dengan hati bahagia. Senang mendapati orang tua yang paham mengenai makna mendidik. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Pendidikan berorientasi pada proses, bukan hasil. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian dari kita sebagai orang tua.
Pada zaman serba cepat ini, seringkali proses terabaikan. Orang berlomba-lomba menyelesaikan sesuatu secepat mungkin. Mendidik tidak dapat dilakukan secara instan, pendidikan memerlukan waktu dan membutuhkan proses. Siapkan anak untuk menjalani dan mengalami karena dari situlah mereka bejalar, in syaa Allah.
Mutiara, 24 Mei 2023
Dian L Izwar
“Muliakanlah anak-anak kalian dan didiklah mereka dengan budi pekerti yang baik.”
HR. Ibnu Majah
