Bunda Jangan Ajari Dulu
Beberapa hari yang lalu, saya melipat baju-baju yang baru diangkat dari jemuran. Bidadari kami turut dalam aktivitas itu. Sedari kecil ia senang dengan kegiatan melipat pakaian. Biasanya ia akan langsung melipat baju-bajunya, jika telah selesai ia akan beralih melipat pakaian kecil-kecil lainnya. Ia sudah sangat terampil melakukan semua ini. Hasil lipatannya rapi.
Melipat pakaian yang besar adalah bagian saya. Biasanya si Cantik akan membantu melepas baju-baju dari gantungan lalu memberikannya pada saya. Namun kali ini ia ingin juga melipat baju yang besar. Sehabis melepas baju dari gantungan, murid taman kanak-kanak itu tidak memberikannya pada saya.
“Kakak mau lipat ini,” ujarnya sembari memegang daster merah muda bergambar bunga-bunga dengan panjang hampir dua kali tinggi badannya.
Sebelum saya memberi respon, gadis kecil itu berkata, “Bunda nggak usah ajarin dulu. Biar aku sendiri aja.”
Ia lalu berdiri dan membentangkan daster besar itu di atas tempat tidur, kemudian mulai melipat dengan penuh kesungguhan.
Saya menghargai keinginannya untuk tidak diajari, jadi saya melanjutkan pekerjaan sembari memperhatikan dengan sudut mata. Saya ingin tahu bagaimana cara gadis kecil itu melipat baju yang jauh lebih besar dari jangkauan tangannya.
“Lengannya nggak rapi,” gadis kecil saya menunjukkan hasil lipatannya. “Diapain, Bunda?” tanyanya kemudian. Ia telah mencoba dengan caranya dan tampak kurang puas dengan hasilnya, jadi ia bertanya cara yang lebih baik.
Saya mengambil satu daster lain dan menunjukkan cara melipat. Ia membongkar lagi hasil lipatannya dan mengikuti tahapan yang saya contohkan.
“Rapi!” ujarnya senang. Saya memberinya kecupan dan kami melipat lagi.
Trial error adalah satu tahapan penting dalam proses belajar anak. Pada saat melakukan proses coba salah, anak belajar banyak hal. Kegiatan ini merangsang kreativitas, menumbuhkan inisiatif, memberi peluang melakukan evaluasi, meningkatkan rasa percaya diri dan melatih keberanian untuk mengakui kesalahan. Lima hal yang sangat bermanfaat bagi pembentukan karakternya di masa yang akan datang.
Terkadang sebagai orang tua kita cenderung langsung menunjukkan cara-cara yang telah terbukti efektif dan efisien, anak tinggal meniru. Kita kurang sabar menunggu anak menenemukan sendiri cara yang tepat. Akibatnya, anak terbiasa menunggu arahan dan suka meniru. Ia kurang berani mencoba, tidak mau mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas pilihan perilakunya. Sebuah sikap yang kurang menunjang proses pendewasaan mental.
Alhamdulillah, bidadari saya tadi mengingatkan akan pentingnya proses trial error ini. Keinginan anak untuk mencoba sesuatu dengan caranya sendiri adalah suatu hal yang perlu kita apresiasi. Terima kasih, Cantik, telah mengajari Bunda cara untuk menemanimu berkembang. Semoga Sang Maha Bijaksana senantiasa membimbing kita untuk berkembang di jalanNya.
Sandubaya, 19 Mei 2022
Dian L Izwar
“Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah pendidikan mereka”
(HR. Ibnu Majah)
