Di Titik Yang Sama
Berada di kereta api pagi ini membawa ingatan saya melayang ke beberapa tahun silam. Saat itu saya dan Ayah berkereta bersama, melaju menuju Cirebon. Perjalanan kami isi dengan rangkaian cerita. Diselingi kudapan kecil, kami berbincang riang.
Pemandangan di sepanjang perjalanan memicu berbagai kisah. Ada saja yang kami bicarakan. Ini adalah perjalanan Ayah pertama kali menuju kota udang. Senang sekali beliau kala itu. Saya pun demikian. Tiga jam perjalanan berlalu tanpa terasa. Tiba-tiba kami telah sampai di stasiun tujuan.
Saat tadi melintasi stasiun Cirebon, kenangan bersama Ayah menguat. Menggugah rindu yang sangat. Rasa yang memicu beragam asa. Saya memilih bahagia.
Di titik yang sama, saat kenangan meraja, pilihan kita ada dua. Terpaku dalam pilu mengharap yang telah berlalu atau bahagia penuh syukur atas kesempatan yang pernah ada. Bedanya tipis, memang. Bagaimana pun, semuanya tak akan mungkin terulang. Namun pilihan menentukan rasa hati.
Jika saya berpikir tak akan pernah lagi bisa duduk bersama Ayah di kereta, lara ‘kan tiba. Namun bila saya mengingat bahwa kami pernah menikmati perjalanan bersama, rasa syukur menggema. Alhamdulillah, saya pernah punya momen ini bersama Ayah. Alhamdulillah, saya pernah melewati hari bersama beliau. Alhamdulillah, kami pernah tertawa bahagia di kereta. Alhamdulillah, kami pernah menguntai cerita panjang yang saat ini saya kenang.
Dalam setiap keadaan, Allah selalu memberi kita pilihan. Semoga kita dimampukanNya memilih yang terbaik.
***
Ayah, rangkaian kereta ini bagaikan untaian cerita kita, semua menuju titik yang sama. Semoga akhir perjalanan kita adalah surga. Semoga Allah rida untuk kita dapat bercerita kembali di sana.
Allahumma firlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.
Argo Semeru, 22 Juli 2023
Dian L Izwar
“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga) maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).”
QS. Al-Lail: 5-7
