Tutup Lebih Awal
Kemarin sore saya mengajak gadis kecil kami berenang. Ia sangat antusias untuk menutup liburannya dengan olah raga air ini. Ia sudah mulai bisa berenang dan ingin mempraktikkan pelajaran renang yang didapatnya selama liburan sekolah.
“Maaf, Bu. Hari ini kami tutup lebih cepat karena akan ada acara gathering di pinggir kolam renang,” ujar petugas yang ada di sana.
Wah. Tidak ada pengumuman sebelumnya bahwa hari ini jadwal penggunaan kolam renang akan berakhir lebih awal. Tiga puluh menit adalah waktu yang sangat berharga bagi bidadari kami. Ia telah bersabar menunggu suami saya menyelesaikan kegiatan pelatihannya agar dapat berenang bersama sore ini.
“Acaranya mulai jam berapa?” Saya bertanya. Memang di samping kolam renang sekarang ada live music dan beberapa orang tampak sibuk mengatur beberapa hal.
“Jam 19.00, Bu.”
“Sekarang baru jam 17.30. Belum mulai, kan? Kami berenang dulu sampai jam 18.00 ya. Dia besok sudah sekolah, jadi paginya nggak akan sempat berenang lagi.” Saya menjelaskan bahwa ini adalah kesempatan berenang terakhir bagi siswi SD kami di liburan sekolahnya kali ini.
Petugas itu memandang gadis kecil yang telah siap dengan pakaian renangnya.
“Di sebelah sini aja, ya.” Ia menunjuk ke salah satu sisi kolam, lalu melanjutkan, “soalnya makanan sudah kita set di pinggir kolam.”
Sepertinya aturan memajukan akhir jam berenang ini untuk menghindari agar makanan tidak terpercik air dari kolam.
“Baik. Terima kasih, Mas.” Ucap saya dengan hati bahagia.
Alhamdulillah petugas yang masih muda ini cukup bijak dalam menangani masalah yang ada. Gadis kecil kami sangat menikmati 30 menit itu dan menutup liburannya dengan bahagia. Tawa riangnya mewarnai senja. Hanya ia bersama pelatih renang kesayangannya yang menikmati kolam di penghujung hari itu. Alhamdulillah.
Hal yang sederhana bagi kita, bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi anak. Kebijakan dalam mengambil keputusan adalah sebuah seni yang perlu dilatihkan. Benar bahwa aturan perlu ditegakkan tanpa pandang bulu. Namun yang membedakan manusia dengan robot adalah kebijaksanaannya dalam menilai situasi.
Petugas yang bijak ini menimbang rasa kecewa anak kecil yang tak jadi berenang dengan risiko makanan terkena percikan air (yang dalam pandangan saya risikonya sangat kecil karena makanannya juga ditempatkan dalam wadah berpenutup). Sang petugas meminimalkan risiko ini dengan meminta kami berenang di sisi yang jauh dari makanan. Ini adalah keputusan yang muncul dari pertimbangan humanis. Sesuatu yang tidak standar tetapi juga tidak sepenuhnya salah karena jam berenang yang ditetapkan adalah pukul 06.00 hingga 18.00.
Terkadang hidup membawa kita pada situasi-situasi yang memerlukan pertimbangan lebih dari sekedar menerapkan aturan hitam putih. Semoga Allah mudahkan kita untuk mengambil keputusan-keputusan yang bijak. Sebuah keputusan yang didasarkan pada kepentingan seluruh pihak yang terlibat dan bersandar pada prinsip keadilan.
Pondok Bambu, 13 Juli 2023
Dian L Izwar
“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.”
QS. An-Nisa’: 58
