Insan Bahagia

“Orang yang bahagia adalah orang yang memperoleh taufik yang mendorong dirinya untuk memohon hidayah Allah subhanahu wata’ala.”  Kalimat ini terus berputar di ingatan hingga saya merasa perlu untuk menuliskannya.  Bahagia itu penting, kan? 🙂 

Bahagia banyak dikaji dan juga banyak dicari.  Hampir semua orang ingin bahagia.  Dalam sesi konseling, saya kerap mendapati klien yang tidak bahagia.  Rasa tidak bahagia dapat berujung pada kesehatan mental yang terganggu.  Mereka merasa hidupnya hampa.

Merumuskan makna bahagia bukan perkara mudah.  Ada definisi yang merujuk pada kesenangan tapi sering kali itu hanya sesaat.  Rasa bahagianya cepat sirna.  Ada yang mengaitkannya dengan pencapaian sebuah tujuan atau keinginan.  Namun hal ini pun tidak berlangsung lama.  Bahagia yang disandarkan pada sesuatu yang diperoleh sering hanya bertahan sebentar.  Terutama bila hal itu murni berkaitan dengan kebutuhan saat ini saja.

Ada juga bahagia yang didefinisikan sebagai proses, bukan keadaan.  Dalam pandangan saya, ini rumusan yang lebih “dewasa”.  Pertanyaannya, proses apa yang membuat seseorang bahagia?

Saya menemukan jawaban pertanyaan ini pada kalimat yang tertera di halaman 44 buku Tafsir Ibnu Katsir yang saya baca tadi pagi.  Di sana tertulis: “Orang yang bahagia adalah orang yang memperoleh taufik yang mendorong dirinya untuk memohon hidayah Allah subhanahu wata’ala.” Jadi, bahagia hadir pada saat memohon hidayah.  Bagaimana mekanismenya hingga seseorang bisa bahagia saat dia meminta?

Bahagia adalah rasa nyaman dan tentram yang dirasakan oleh seseorang.  Ia merupakan sebuah emosi positif yang membuat manusia merasa tenang.  Ketenangan inilah yang menjadi kunci kebahagiaan. 

Nah, saat seseorang senantiasa memohon hidayah berarti ia telah menyadari bahwa dirinya hanyalah hamba yang lemah.  Ia tak mempunyai kekuatan apa pun tanpa izin Allah subhanahu wata’ala.  Ia tahu hatinya pun dapat berbalik arah.  Oleh karena itu, ia membutuhkan bimbingan.  Ia pun paham bahwa satu-satunya tempat bergantung adalah Allah subhanahu wata’ala. 

Lalu bagaimana ia bisa tenang?  Hamba yang berserah diri yakin Allah mengabulkan doa.  Ia tahu bahwa Allah melihat usaha,  oleh karena itu ia berupaya.  Tugasnya adalah mengerahkan segenap daya.  Ikhtiar konsisten inilah yang memberikan ketenangan.  Keyakinan akan keadilan Ar-Rahman menghapus rasa cemas dari hatinya.

Setelah berusaha, seorang hamba mengembalikan semuanya pada yang Kuasa.  Ia tidak menentukan hasil.  Ia siap menerima apa pun yang akan Allah berikan.  Ia berharap tetapi tidak menargetkan sebuah kemestian.  Ia membuka diri pada ketidakpastian.  Di titik ini, ia telah membebaskan dirinya dari rasa kecewa. 

Kemudian, kesadaran akan posisi sebagai hamba membuatnya menjalankan semua perintah Rabbnya dengan hati rida.  Ia memohon petunjuk pada Al-Huda, kemudian menyerahkan diri pada ketentuanNya.  Dalam tawakal, ia yakin akan kasih sayang Allah Yang Maha Bijaksana.  Dari sinilah ia mendapatkan ketenangan.  Ia tidak takut dan tidak pula bersedih hati menghadapi esok hari.  Sandarannya adalah Al-Waliy.  Ma syaa Allah.  Alangkah indahnya. 

Semoga kita dapat menjadi insan yang berbahagia, Sahabat.  Di dunia ini dan di kehidupan abadi nanti.  Rabbana taqabbal minna.

Mutiara, 18 Maret 2024
Dian L Izwar


Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat.
Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.
Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
QS. Al-Baqarah: 186


Bahan bacaan:
Engkos Kosasih, DR. dkk, Mudah Tafsir Ibnu Katsir; Shahih, Sistematis, Lengkap. Maghfirah Pustaka, 2016. Jilid 1.

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *