Tazkiyah as Self Care
Tazkiyah as Self Care. Kalimat singkat ini sering melintas di pikiran saya seusai mengikuti workshop Tazkiyah Therapy di Yogya pada tanggal 16-17 Desember 2023 yang lalu. Lokakarya dengan pembicara utama DR. Bagus Riyono ini memang diperuntukkan bagi para psikolog yang akan membantu klien mengatasi masalahnya melalui pendekatan Psikologi Islam. Namun sejatinya Tazkiyah dapat diterapkan oleh setiap insan, tidak hanya oleh terapis dan tidak perlu menunggu terjadinya hal yang “tidak optimal” dalam kesehatan mental seseorang.
Tazkiyah berasal dari bahasa Arab yang berarti menjadi lebih murni dan berkembang. Melalui tazkiyah, seseorang memurnikan jiwanya dan berkembang menuju pribadi yang lebih baik. Jika diibaratkan dengan proses menanam, maka tazkiyah diawali dengan membersihkan lahan yang akan ditanami dari segala gulma dan rumput liar. Dalam konteks jiwa, proses ini berarti membersihkan hati dari segala kesalahan yang pernah dilakukan. Hal ini dapat dilakukan melalui istigfar dan tobat. Ini adalah 2 langkah awal dalam proses tazkiyah.
Selanjutnya, tanaman yang disemai pada lahan yang bersih ini perlu dipelihara agar tumbuh subur dan berkembang menjadi pohon yang kuat. Ia perlu disirami dan diberi pupuk. Demikian pula dengan jiwa, untuk dapat berkembang, jiwa membutuhkan asupan yang tepat. Nutrisi terbaik bagi jiwa adalah mengingat Allah. Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan zikir, membaca Alquran, memperbanyak shalat dan doa.
Kemudian tanaman yang telah tumbuh subur ini perlu dilindungi dari hama. Ulat yang dibiarkan merajalela dapat menghabiskan daunnya hingga tak bersisa, kumbang dapat menggerek batangnya hingga patah. Dalam konteks jiwa, kita perlu secara sadar melindungi jiwa dari hal-hal yang akan membuatnya menjadi kelam dan ternoda. Setiap dosa akan meninggalkan satu titik yang dapat menutupi kebeningan jiwa. Pengetahuan yang baik mengenai hal-hal yang dilarang dan pengendalian diri untuk tidak melakukan semua hal tersebut merupakan langkah berikutnya dalam proses tazkiyah. Ketiga langkah ini perlu dilakukan secara berkesinambungan untuk menjaga kemurnian jiwa. Dengan senantiasa membersihkan hati, mengingat Allah dan mengendalikan diri untuk selalu berada dalam koridor takwa, kemurnian jiwa in syaa Allah akan terjaga.
Di dunia kesehatan, baik kesehatan fisik maupun mental, mencegah penyakit selalu lebih baik dari pada mengobatinya. Preventif dan promotif lebih diutamakan daripada kuratif dan rehabilitatif. Dalam lingkup kesehatan mental, langkah preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif dapat dilakukan melalui tazkiyah. Dengan demikian, proses tazkiyah bisa dilakukan kapan saja. Jiwa yang sehat pun membutuhkan nutrisi untuk berkembang. Oleh karena itu, mulailah bertazkiyah dari sekarang. Apalagi Ramadan telah menjelang.
Bulan Ramadan adalah saat yang paling tepat untuk memahami dan menghayati proses tazkiyah. Pada bulan ini kita disarankan untuk memperbanyak istigfar, bertobat dari segala dosa dan memohon ampunan Allah. Pada malam-malam Ramadan kita diajak untuk mendirikan shalat sunah, memperbanyak doa dan meningkatkan interaksi dengan Alquran. Selama Ramadan kita juga diwajibkan berpuasa yang merupakan latihan terbaik dalam pengendalian diri. Semua ini adalah proses tazkiyah. Ma syaa Allah. Dengan kasih sayangNya, Allah menyediakan Ramadan bagi kita.
Menjalani Ramadan dengan kesungguhan hati in syaa Allah akan membiasakan kita melakukan tazkiyah, sebuah kebiasaan yang diharapkan terus berlangsung hingga Ramadan berikutnya. Alangkah indahnya bila di setiap Ramadan kita dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih sehat mental. Syawal yang secara bahasa berarti peningkatan seakan mengisyaratkan meningginya keadaan jiwa setelah bertazkiyah dan meningkatnya kebiasaan baik dalam menjalani hari selama Ramadan. Wallahu’alam.
Selamat menyambut Ramadan, Sahabat. Semoga Allah mudahkan kita untuk beribadah untukNya dan hanya karenaNya.
Mutiara, 10 Maret 2024/29 Sya’ban 1445
Dian L Izwar
“Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan ingin mendapatkan pahala, maka diampuni semua dosanya yang telah lewat.”
HR. Bukhari & Muslim
“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadan kemudian Ramadan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni”
HR. Ahmad & Tirmidzi
