Sayap yang Luka

Sekitar setahun yang lalu, seekor merpati terluka. Burung malang itu diselamatkan sepupu saya dari intaian kucing di samping rumah. Namun sayapnya terlanjur berdarah. Kepak lunglai itu tak sanggup membawanya terbang.  

“Tapi di rumah kita banyak kucing ya,” ujar sepupu saat itu.

Saya mengiyakan. Tak terpikirkan juga bagi saya untuk memelihara merpati. Pun tak ada sangkar di rumah kami.  

Seorang tetangga menawarkan diri untuk merawatnya. Alhamdulillah. Saya menarik napas lega. Semoga merpati itu cepat pulih dan dapat terbang pulang ke pemiliknya. Cincin di kakinya menandakan ia bukan burung liar. Ada nomor telepon tertulis di sana.

Beberapa hari berlalu hingga supir saya melaporkan ada seekor burung dara bersembunyi di sekitar tempat sampah.  

“Kayaknya dia nggak bisa terbang tinggi, sayapnya luka,” jelasnya. “Takutnya nanti ditangkap kucing,” lanjutnya, khawatir akan nasib si unggas. 

Saya bergegas, ternyata itu adalah merpati yang sama dengan yang dulu terluka.

Dari sepupu, saya memperoleh cerita. Saat tetangga menghubungi sang pemilik, ia malah menyerahkan burung itu pada si tetangga. Sang tetangga tak bisa merawat lama-lama. Melihat luka sayapnya sudah mulai mengering, merpati itu pun ia lepaskan. Burung itulah yang kini terdampar di samping rumah. Di sisi yang sama dengan tempat pertama kali kami menemukan ia terluka.  

Tak tega rasanya membiarkan merpati yang hanya bisa terbang rendah itu berkeliaran. Ia belum mampu mengamankan dirinya dari bahaya. Alhamdulillah supir saya berkenan mengurusnya. Burung itu ia buatkan kandang di taman belakang. Kami memberinya nama Mer.

Kehadiran Mer memberi warna tersendiri di taman kami. Tingkahnya bersama Mir -yang menjadi pasangannya- mengundang ceria. Sayapnya yang tak pulih sempurna meninggalkan bunyi kepak khas saat ia melintas. Mengamati tingkah mereka kerap menjadi momen yang mengasyikkan.  

Perlahan Mer bertambah jinak. Ia tak lagi segera terbang menjauh bila disentuh. Mer bahkan mau makan langsung dari tangan saya. Bila saya mendekati kandang, ia pun datang. Interaksi saya dengannya berbuah suka cita dan cinta.

Dua hari yang lalu, supir saya mengatakan Mer tak bisa terbang. Ia tak mampu mencapai pintu kandang yang memang dirancang agak tinggi. Sang supir membantu Mer memasuki sarang.  

Menjelang magrib kemarin, saya mendapati Mer masih bertengger di luar kandang. Sayapnya tampak berbeda. Kepaknya tak mampu mengangkat tubuh sang merpati. Saya memindahkan Mer dari tempatnya bertengger. In syaa Allah ia lebih aman di dalam kandang.  

Pagi ini, saya menemukan Mer mati di tempatnya bertengger semalam. Saya tidak tahu mengapa ia kembali berada di luar kandang. Beberapa helai bulu bertebaran di sisi Mer. Mungkin ia diganggu kucing atau binatang lain, entah. Yang jelas, sayapnya terluka.  

Kabut tipis hadir di hati. Setahun ini Mer telah mengisi hari-hari kami. Namun saya percaya ini adalah kehendak Yang Maha Tinggi.

Kisah Mer membawa saya pada renungan mengenai takdir. Bagaimana kita akan berakhir telah tertulis jauh sebelum kita lahir. Tujuan kita ada pun jelas tertera dalam Kitab yang Terpelihara. Hidup ini perjalanan mengikuti langkah takdir. Tugas kita adalah mengisi waktu dengan hal terbaik dalam menjalankan tugas yang ditetapkan Sang Pencipta.

Sayap yang luka adalah takdir Mer. Luka pertamanya terobati tapi luka di sayap yang sama tetap menjadi jalannya pergi. Mer pergi saat tujuan hadirnya telah tunai: melantunkan cinta dan untaian hikmah dalam kepak sayapnya.  

Mutiara, 22 Maret 2024 

Dian L Izwar


Tidak ada bencana (apa pun) yang menimpa di bumi dan tidak (juga yang menimpa) dirimu, kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah. 

QS. Al-Hadid: 22


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *