Dua Ekor Kucing Kecil

Dua ekor kucing kecil tiba-tiba muncul di garasi.  Entah dari mana, mereka tiba-tiba saja sudah berada di sana.  Saya memberi mereka nama Tisi dan Tibel.  Keduanya tampak kurus.  Tisi berbulu lebih panjang dan lebih putih sementara Tibel memiliki eyeliner di kedua matanya. 

Keduanya segera menyadari kehadiran saya.  Matanya menatap curiga, sikap tubuhnya waspada.  Waktu saya mendekat, spontan Tibel melompat.  Ia bersembunyi di balik kayu.  Tisi sesaat menatap dari tempatnya berdiri lalu menyusul saudarinya.  Saya biarkan kucing-kucing kecil itu berada di area nyaman yang mereka pilih.  Naluri membimbing keduanya untuk menjauh dari obyek yang tak dikenal.

Saya letakkan makanan di dekat tempat mereka bersembunyi lalu berjalan menjauh.  Beberapa saat kemudian Tibel muncul, dia memang terkesan lebih cekatan.  Diikutinya arah bau hingga ia menemukan makanan yang saya sediakan.  Ia pun makan, Alhamdulillah.  Tisi muncul tak lama kemudian, ia juga ikut makan.  Saya memandang dari kejauhan.  Bertambah dua ekor lagi pasukan berbulu di rumah kami.  Sekitar sebulan sebelumnya Adelta dan Adelti datang persis seperti mereka. 

Hari kedua Tibel dan Tisi sudah menjelajah hingga ke taman belakang.  Mereka tahu di mana biasanya para anggota lama makan.  Keduanya mengamati dari jauh saat saya memberi makan kucing-kucing yang telah lebih dulu hadir.  Mereka mendekati makanannya saat saya telah berlalu.

Hari ketiga Tibel dan Tisi mulai bergabung dengan kucing lainnya.  Epen si pemarah tetap saja pemarah meski pada kucing yang lebih kecil.  Tibel dan Tisi menerima seringai tak suka darinya.  Kedua kucing kecil itu mundur dengan badan merendah.  Alip sang pemimpin tampaknya tak terlalu peduli dengan kehadiran dua anggota baru di kawasannya.

Saya senang Tibel dan Tisi mulai menjadi bagian dari kelompok.  Meski mereka lebih sering main berdua, Adelta dan Adelti sudah mulai mengajak keduanya bercanda.  Yang menjadi perhatian saya adalah tubuh mereka tetap kurus, terutama Tibel, padahal mereka makan dengan bersemangat.

Dua hari yang lalu Tibel tampak tidak selincah biasa.  Saya sudah berniat untuk memberinya perhatian istimewa tetapi kegiatan saya hari itu menyebabkan saya baru bertemu dengannya malam hari.  Ia dan Tisi mendekat pada saat saya datang memberi makan, sama seperti kucing-kucing lainnya.  

Kemarin pagi Tibel hanya tidur meringkuk tidak menghampiri saat saya memberi makanan.  Ia tampak lemah.  Saya menyodorkan makanan namun dia seperti tak berselera.  Minum pun ditolaknya.  Saya mengangkatnya, ia diam saja.  Padahal sebelumnya ia tidak mau saya sentuh.  Saya menyuapinya minum, Tibel menelannya.  Alhamdulillah. Saya senang, berharap ia segar kembali. 

Pada saat saya menyuapi Tibel, Tisi makan di samping saya.  Dia menghabiskan separuh makanannya lalu mencuci mulut dengan gaya khas kucing selesai makan.  Saat saya meninggalkan mereka, Tisi mengikuti dari belakang.  Saya menyadari hal ini saat mendengar suaranya.  Ia memanggil saya.  Saya berbalik dan mengelus tubuh kecil berbulu putih itu.  Tisi mengeluarkan dengkuran kecil tanda senang.  Saya pun senang.  Tisi tampak menikmati belaian saya. Saya juga bertambah sayang padanya.  Kami bermain sebentar.

Saya menyuapi Tibel minum lagi.  Senang sekali saat dia mau menelan meski saya agak cemas karena ia tidak tampak membaik secepat yang saya harapkan.  Tisi masih mau makan namun kurang lahap.

Saya mengkhawatirkan Tibel.  Setelah memberinya minum, saya letakkan dia ke dalam kotak lalu menyelimutinya dengan kain.  Ia tidur dengan nyaman.  Setelah tiga kali disuapi minum, Tibel mulai bersuara.  Ia juga mengeluarkan dengkuran halus saat saya berada di dekatnya atau mengusap kepalanya.  Alhamdulillah, saya merasa ini pertanda baik.

Menjelang tidur malam, saya kembali memberi minum Tibel. Ia mendengkur halus saat saya mengangkatnya keluar kotak.  Ia sudah lebih kuat.  Alhamdulillah.  

Pagi-pagi saya mengecek keadaan Tibel.  Saya panggil dia diam saja, tampak sangat lemah.  Saya suapi minum ia tak mau menelan.  Saya teringat Tisi, saya lihat ia tak menyentuh makanannya.  Saya segera menghubungi dokter hewan langganan.  Tibel butuh pertolongan dari yang lebih ahli.  Tisi juga, saya tidak ingin kedaannya bertambah lemah seperti saudarinya.  Petugas dari klinik hewan mengkonfirmasi akan segera datang menjemput.  Saya berharap kedua kucing kecil ini akan kembali sehat.  Dalam shalat saya memohon kesembuhan bagi mereka. 

Petugas datang menjemput menjelang siang.  Seperti biasa, Tisi mendengkur lembut saat saya mengangkatnya.  Sedih rasanya saat melepas ia pergi tapi ini untuk kebaikannya.  “Cepat sembuh, Tisi,” bisik hati saya.

Tibel tidak ikut dibawa karena ia telah pergi sebelum petugas klinik datang.  Malaikat maut menjemputnya lebih dahulu.  Saya sempat berpikir seharusnya saya membawanya ke dokter hewan dari kemarin.  Hal yang menghibur saya adalah suara dengkuran Tibel saat saya mengelus kepalanya.  Setidaknya ia merasa nyaman di saat-saat terakhirnya.  Saya membayangkan ia merindukan induknya yang entah ada di mana.

Satu jam berlalu sejak Tisi pergi.  Dokter hewan mengirimkan foto ia sedang diinfus.  Mukanya tampak lebih tirus.  Saya berdoa agar Tisi segera membaik.  Bella juga pernah diinfus dan dirawat inap di klinik karena tak mau makan.  Alhamdulillah ia pulang dalam keadaan sehat dan setia menemani saya hingga sekarang.  Saya membayangkan saat kembali nanti badan Tisi lebih berisi karena mendapat perawatan yang optimal, tentu dia akan tampak lebih cantik. 

Pukul 19.15 saya menerima pesan singkat dari dokter hewan yang merawat Tisi.  Kucing kecil saya sudah pergi menyusul saudarinya.  Ia menyatakan bahwa Tisi terinfeksi virus dan mungkin Tibel juga.  Saya tidak menduga akan mendapat kabar sedih ini.  Bayangan Tisi berlari kecil mengikuti saya saat beranjak pergi melintas di ingatan.  Suaranya memanggil dengan lembut kembali terngiang.  Dengkuran halus saat saya berbalik dan mengelus tubuh mungil itu seolah kembali terdengar.  Apakah Tisi merindukan saya saat ia sendirian di sana?

Saya menyerahkan perawatan Tisi pada orang yang lebih ahli.  Belajar dari pengalaman merawat Tibel, saya berupaya agar ia mendapat pertolongan yang lebih baik.  Saya berharap dapat segera bermain lagi dengannya namun Allah menentukan lain.  Foto dari klinik adalah gambaran terakhir yang saya peroleh tentangnya.  Saya tak dapat lagi membelainya, tak akan pernah lagi mendengar suaranya.

Saya menyadari apa pun yang kita lakukan adalah usaha.  Hasil akhir sepenuhnya tidak berada dalam kendali kita.  Allah berkehendak kedua makhluk mungil itu pergi hari ini, setelah mengajari satu alif lagi pada saya dalam memaknai kehidupan.  Tidak ada yang terjadi secara kebetulan, maka bukan kebetulan pula mereka hadir sesaat dalam hidup saya.  Selamat jalan, sahabat kecil.

Mutiara, 25 November 2020

Dian L Izwar


“… Jika sesuatu menimpamu, maka janganlah mengatakan, ‘Seandainya aku melakukan ini, niscaya akan demikian dan demikian.’ Tetapi ucapkanlah, ‘Sudah menjadi ketentuan Allah, dan apa yang dikehendakiNya pasti terjadi’…”
(HR. Muslim)


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *