SEMPRO
Beberapa waktu yang lalu saya mendapat amanah untuk memberi umpan balik terhadap rancangan penelitian beberapa mahasiswa. Sebelas orang calon sarjana berbusana rapi dalam balutan jas almamater mempresentasikan rancangan tugas akhir mereka. Ada yang sangat menguasai meteri tapi ada juga yang terdiam lama saat saya bertanya mengenai tujuan atau manfaat dari penelitiannya.
Terlepas dari topik yang diteliti, sebuah penelitian harus mempunyai tujuan dan manfaat yang jelas. Dua hal ini adalah esensi dari sebuah riset. Boleh saja peneliti tertarik pada suatu hal atau ingin mengulik sebuah fenomena. Namun saat ingin menjadikannya sebuah penelitian ilmiah, tujuan dan manfaat dari penelitian itu harus dapat didefinisikan dengan benar. Manfaat penelitian harus terasa bagi pengembangan ilmu karena itulah yang menjadi dasar mengapa sebuah penelitian perlu dilakukan.
Apakah ide penelitian harus baru? Tidak selalu. Boleh melakukan replika dari penelitian yang sudah ada tapi penelitian yang akan dilakukan harus tetap memiliki keunikan agar dapat memperkaya hasil-hasil riset terdahulu. Bisa saja kekhasan itu pada sampel, metode, instrumen, atau bagian lain dari penelitian, sepanjang ada landasan teori yang menyatakan bahwa hal tersebut berpengaruh pada hasil. Banyak membaca dan mengamati akan sangat membantu dalam menentukan ide yang menjadi tujuan penelitian.
Setelah menetapkan tujuan penelitian, tahap yang paling substansial bagi seorang peneliti muslim adalah membaca Alquran dan mencari tahu bagaimana Alquran menjelaskan hal yang hendak diteliti. Meyakini kalam Allah sebagai sumber ilmu akan membantu peneliti merancang penelitian ke arah yang benar. Penting untuk menjadikan Alquran sebagai referensi pertama dalam daftar pustaka sebuah penelitian. Sayang sekali saya tidak menemukan hal ini pada 11 rancangan penelitian yang tersaji hari itu.
“Saya sedih nih,” ujar saya setelah menyampaikan umpan balik positif dan konstruktif pada akhir kegiatan kemarin.
Para peneliti muda di ruangan itu memandang dengan mata bertanya.
“Saya tidak menemukan Alquran di daftar pustaka,” lanjut saya.
Kelas hening. Sepertinya para mahasiswa tengah mencerna situasi, barangkali mereka tidak menduga pernyataan saya ini. Mungkin terdengar aneh bagi beberapa orang dari mereka.
Mengapa Alquran harus masuk ke dalam daftar pustaka? Apa hubungan agama dengan ilmu pengetahuan? Justru hal inilah yang ingin saya usik. Sudah saatnya menepis sekularisme. Sebuah ilmu perlu dikaji dengan sudut pandang Alquran, apa pun bentuk ilmu tersebut. Agama dan ilmu pengetahuan bukanlah dua hal terpisah. Setiap pengetahuan hendaknya berpijak pada Alquran sebagai sumber kebenaran hakiki.
Saya menunggu respon para mahasiswa yang selangkah lagi akan menjadi sarjana ini. Saya ingin mereka memahami esensi menjadi seorang cendekia. Ilmu yang bertambah semestinya membuat mereka lebih dekat pada Allah.
Sebuah tangan terangkat. Saya mengangguk.
Pemilik tangan itu pun bersuara, “Bu, kalau kita ingin memasukkan ayat Alquran dalam penelitian, kita menuliskannya di mana?”
Ma syaa Allah. Ini adalah pertanyaan terindah yang saya dengar hari itu. Hati saya melambung. Berkahilah anak-anak ini ya, Allah. Mudahkanlah urusan mereka dan bimbinglah mereka di jalanMu.
Jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan di atas adalah pada landasan teori. Namun saya tidak ingin membebani para peneliti pemula ini. Memasukkan Alquran ke dalam daftar pustaka saja sudah merupakan langkah yang baik dalam sebuah studi psikologi.
“Di mana saja boleh. Tuliskan di bagian yang paling sesuai menurut Anda. Boleh di bagian pendahuluan atau latar belakang penelitian, paling bagus di tinjauan teori. Di metodologi juga boleh atau di bahasan hasil penelitian. Di bagian yang mana saja boleh.”
Mereka tampak senang. Setelah saya menutup acara, para mahasiswa meminta untuk berfoto bersama. Alhamdulillah. Saya bersyukur sempat menjadi bagian dari satu proses tahap perkembangan tunas-tunas bangsa ini. Semoga Allah menjadikan mereka orang-orang yang mendapat petunjuk. Aamiin.
Mutiara, 26 Mei 2024
Dian L Izwar
Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,
QS. Al-Baqarah: 2
