Tas Baru

Beberapa waktu yang lalu, saya berniat memberi hadiah untuk seorang kerabat.

“Mau yang ini?” tanya saya saat kami berbelanja bersama. Meski cukup mengenal seleranya, saya rasa akan lebih menyenangkan bila mengajaknya untuk memilih langsung.

Beliau mengambil tas yang saya sodorkan, meneliti dan mengenakannya.  Tas itu ringan dan tampak kecil tetapi sesungguhnya bisa memuat banyak benda.  Saya suka modelnya.  

“Bagus, kan? Bisa muat banyak lho. Ada sekat-sekatnya juga.” Saya tahu beliau biasa membawa berbagai benda di dalam tasnya.

“Bagus.”

“Kita ambil yang ini?”

Beliau melihat label harga, “Terlalu mahal.”

“Gak apa-apa, kan ditraktir,” ujar saya seraya tersenyum.  Saya telah mengalokasikan dana untuk hadiah ini.  Saya ingin memberi yang terbaik.

“Nggak usah. Kita cari yang lain aja.”

“Dananya ada kok. Memang agak mahal, tapi kan bagus. Bisa dipakai lama juga, in syaa Allah.” Saya berusaha meyakinkan.  Saya suka bahannya dan mereknya pun cukup terkenal.

“Bagus kan nggak harus mahal. Kita cari yang lain aja,” tegas beliau sembari mengembalikan tas itu ke tempatnya dan melangkah menjauh.

Saya menyusul dengan perasaan sedikit kecewa.  Tas itu bagus dan saya membayangkan beliau akan tampak keren saat mengenakannya.  Tapi ini kan hadiah untuk menyenangkan hati, tak elok bila saya memaksa.  Tak perlu juga saya kecewa, toh masih banyak pilihan lain.  Namun sampai pulang, kami tidak menemukan toko tas lagi.  Misi membeli tas pada hari itu tidak sukses.

Kemarin saya kembali berkesempatan pergi bersama beliau.  Kami hanya berencana berjalan-jalan. Akan tetapi, sebuah tas seperti memanggil-manggil dari rak pajangan. Saya memasuki toko dan mengamati benda persegi yang menarik perhatian itu.  Bahannya bagus dan modelnya sederhana.  Saya rasa sang kerabat akan menyukainya.

“Bagus.” 

“Kita beli?”

Beliau melihat harganya. “Boleh.”

Akhirnya saya mendapat jawaban yang membawa saya menuju kasir.  Alhamdulillah, keinginan saya memberi hadiah telah terpenuhi.  Beliau tampak senang dengan tas buatan dalam negeri yang harganya sekitar sepertiga dari tas yang saya pilihkan beberapa waktu lalu.  Saya juga amat senang.

“Membeli barang itu yang penting fungsinya. Tidak harus mahal dan tidak harus merek terkenal.”

Saya mengangguk, saya pun berpendapat demikian. Hanya karena ini adalah hadiah, saya ingin membelikan yang agak istimewa – mahal pun tak mengapa – tapi ternyata beliau lebih menyukai kesederhanaan.  Ma syaa Allah.

“Kalau benda itu kita perlukan dan harganya memang segitu, walau mahal kita beli. Tapi kalau mahal hanya karena ia bermerek, tidak perlu.  Yang penting kualitasnya baik dan sesuai dengan kebutuhan kita.”

Saya sepakat.  Tak perlu menyandarkan identitas pada benda yang dikenakan.  Bukankah pakaian takwa itu yang terbaik?  Tak mesti pula kita menghias diri dengan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.  Dana yang tersedia bisa dialokasikan untuk hal lain.

Ma syaa Allah.  Percakapan kami mengingatkan saya pada prinsip zuhud: mengambil hanya yang dibutuhkan, secukupnya saja. Alangkah indahnya bila hati tak terikat pada harta benda.  Bismillah.  Semoga saya bisa tak mengisi hati dengan segala atribut dunia, biarlah dunia hanya berada di genggaman.  Semoga Allah mudahkan.  Semoga Allah juga senantiasa membimbing beliau dalam limpahan rahmatNya.  Aamiin.

Mutiara, 6 Mei 2024
Dian L Izwar


“Barangsiapa yang meninggalkan (menjauhkan diri dari) suatu pakaian (yang mewah) dalam rangka tawadu’ (rendah hati) karena Allah, padahal dia mampu (untuk membelinya/memakainya), maka pada hari kiamat nanti Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, lalu dia dipersilahkan untuk memilih perhiasan/pakaian (yang diberikan kepada) orang beriman, yang mana saja yang ingin dia pakai”
(HR. Tirmidzi)


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *