Jatuh
Beberapa waktu yang lalu seorang sahabat terjatuh. Mungkin karena terlalu lelah atau kurang konsentrasi, ia tidak melihat anak tangga terakhir. Kakinya tak menapak dengan sempurna.
“Sakitnya minta ampun. Rasanya seperti mau pingsan,” ujarnya saat bercerita.
Saya bisa membayangkan nyeri yang ia rasa. “Jatuhnya gimana?”
“Alhamdulillah waktu itu pegangan ke railing tangga. Jadi badannya nggak ikutan jatuh. Tertahan sama tangan.”
Ia biasa naik turun tangga dengan cepat tanpa berpegangan. Namun saat itu ia menuruni tangga dengan memegang pagar pengaman yang berada di sisi tangga. Hal ini membuat ia tidak jatuh tersungkur, pegangannya menahan tubuhnya.
“Alhamdulillah jatuhnya di rumah sakit, jadi langsung dibawa ke IGD, bisa langsung di rontgen. Alhamdulillah nggak ada yang patah.”
Lalu ia menyebut sebuah istilah yang kurang lebih berarti otot yang teregang atau robek.
“Alhamdulillah, dokter ortopedinya datang lebih awal dari jadwal praktiknya jadi bisa langsung diperiksa kakinya, dibalut dan dikasih obat, dikasih teh manis juga waktu di IGD,” ia tertawa kecil.
“Alhamdulillah bawa supir, jadi bisa langsung pulang habis minum teh manis,” ujarnya menutup cerita.
Biasanya ia menyetir sendiri tapi saat itu ia memutuskan untuk diantar supir karena akan mengunjungi seorang kerabat yang sedang dirawat di rumah sakit. Keberadaan supir ini membuat ia dapat pulang ke rumah tanpa “merepotkan” meski kakinya sedang cedera.
Yang membuat saya menulis kisah ini adalah ucapan alhamdulillah dalam cerita sang sahabat. Ia terjatuh, kakinya cedera. Namun awal kalimat yang disampaikannya adalah pujian bagi sang Maha Tinggi. Dalam kesulitannya, ia bisa melihat banyak sekali kemudahan dan pertolongan Allah.
Sang sahabat percaya tidak ada kebetulan dalam hidup. Allah yang menggerakkan hatinya minta diantar supir. Allah yang membuatnya berpegangan saat turun tangga, karenanya ia tetap bersyukur meski sedang tak mampu melangkahkan kaki. Ma syaa Allah. Sebuah penghayatan yang dalam akan kasih sayang dan pertolongan Allah.
Saya teringat kisah yang lain. Seorang anak muda berkendara dan mengalami lakalantas. Ia cedera parah. Ponsel dan dompetnya tidak ditemukan. Keluarganya bersyukur bahwa Allah menggerakkan hati seseorang untuk meletakkan kartu tanda pengenal si pemuda di atas perutnya. Alhamdulillah ada pengendara baik hati yang membawa pemuda tak sadarkan diri itu ke rumah sakit. Alhamdulillah ada orang yang mendatangi rumahnya berdasarkan alamat yang tertera di KTP. Tak terbayang bila sang pemuda – yang saat sadar belum mampu mengenali siapa dirinya – terbaring sendirian di rumah sakit tanpa diketahui keluarga. Dalam musibah ini, keluarga bersyukur dapat menemani sang pemuda melewati hari hingga ingatannya berangsur pulih.
Sejatinya di setiap kesulitan ada kemudahan. Demikian yang Allah janjikan. Bila satu kesulitan menimpa, banyak kemudahan menyertainya. Hanya terkadang kita terlalu fokus pada musibah hingga tak menyadari banyaknya pertolongan Allah yang datang bersama ketidaknyamanan itu. Kita sering menghitung yang hilang hingga lupa merasakan betapa banyak yang masih kita miliki. Kita lupa menghitung nikmat yang ada.
Kemampuan melihat nikmat ini penting dalam proses melewati musibah. Menyadari banyaknya kemudahan, mendatangkan ketenangan dan rasa syukur. Meyakini banyaknya kebaikan, memupuk sikap optimis dalam menyambut masa depan. Percaya bahwa segala hal yang Allah berikan adalah bentuk kasih sayangNya, membuat hati lebih lapang dalam menjalani semua ketetapanNya, in syaa Allah.
Semoga dua sahabat dalam kisah di atas segera Allah pulihkan dengan sempurna dan semoga Allah mudahkan kita semua untuk selalu mengucap alhamdulillah dari hati untuk setiap ketentuanNya. Aamiin.
Mutiara, 13 Agustus 2024
Dian L Izwar
“Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.
Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain) dan hanya kepada Tuhanmu, berharaplah!”
QS. Al-Insyirah: 5-8
