Surat Cinta
Tadi pagi saat membuka akun media sosial, saya mendapati sebuah pesan dari seorang sahabat. Pesan itu sangat menyentuh hati. Melayangkan ingatan pada puluhan tahun silam. Saat itu seorang gadis sedang jatuh cinta.
Cinta hadir dengan berjuta warna. Baru merasakan gayung bersambut, takdir membentangkan jarak. Saya di ibukota sementara ia mengabdi di pelosok negeri.
Terpisah ribuan kilometer sungguh membuat rindu. Jangankan telepon pintar, jaringan kabel telkom pun belum masuk ke desa. Kabar datang melalui amplop tebal dengan lipatan-lipatan kertas di dalamnya. Surat menjadi saluran komunikasi utama.
Saya menanti-nanti surat darinya. Melihat amplopnya saja sudah membuat bahagia, apalagi membaca isinya. Hati saya menghangat hanya dengan memandang tulisan tangan yang bertuliskan nama saya di sampul surat. Seakan-akan terdengar ia memanggil nama saya.
Berbagai rasa bercampur saat membuka amplop yang selalu berwarna putih itu. Hati bergetar waktu mulai membaca. Ada kalanya senyum hadir dengan sendirinya, terkadang lamunan menerawang membayangkan kisah yang disampaikan atau gelak kecil terlontar spontan. Seakan ia hadir bersama kata-katanya, memberikan kabar gembira tentang dirinya dan mendoakan saya baik-baik saja.
Lembaran kertas itu menjadi sangat berharga. Ia punya tempat spesial di kamar dan juga di hati saya. Tak jarang surat-surat itu saya baca lagi, lagi dan lagi. Apabila rindu menyapa, saya menulis surat mencurahkan rasa. Setelah itu saya baca surat yang datang dari si dia. Tak bosan saya membaca tulisan yang ada. Rasa nyaman menyeruak dari kata-kata yang tertangkap mata.
Mengingat semua ini saya tersenyum sendiri. Masih terasa indahnya mendapatkan surat cinta. Untaian-untaian kalimat di setiap lembarnya sungguh sangat berarti.
Pesan yang dikirimkan sahabat pagi ini benar-benar menggugah kesadaran saya. Pesan itu berbunyi:
“When lovers are unable to meet, the best thing is to send a book or letter – the lover reads it over and over. That is what the Quran is, a book, a letter from Allah. From the beloved, to you. Because you love Allah, you read it over and over.”
Syaikh Hamza Yusuf
Astagfirullah. Apakah saya bisa mengaku mencintaiNya? Apakah surat cinta dariNya telah saya baca berulang-ulang? Lagi dan lagi tanpa bosan? Sudahkah perasaan nyaman menyelimuti hati ini saat membaca kalamNya? Ya Allah, bimbinglah hamba untuk mencintaiMu. Aamiin.
Mutiara, 19 Juni 2021
Dian L Izwar
Sungguh, Kami telah mendatangkan Kitab (Al-Qur’an) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
QS. Al-A’raf ayat 52
