7 Indikator Kesehatan Mental

Alhamdulillah semalam saya berkesempatan mengikuti salah satu kuliah dari International Lecture Series yang diselenggarakan oleh International Students of Islamic Psychology (ISIP).  Topik The Seven Indicator of Mental Health yang diulas oleh Dr. Bagus Riyono ini bagi saya sangat menarik.  Presiden dari International Association of Muslim Psychology ini membahas indikator kesehatan mental dari perspektif Alquran, sebuah pendekatan yang berbeda dari definisi kesehatan mental versi WHO yang selama ini kita kenal. 

Sebelum memulai sesi, Dr.  Bagus menyampaikan bahwa apa yang akan beliau presentasikan merupakan hasil telaah Alquran berdasarkan pendekatan maqasid methodology.  Head of Islamic Psychology Study Group di Universitas Gadjah Mada ini mengungkapkan bahwa Alquran tidak menyebutkan secara spesifik istilah kesehatan mental, tetapi Alquran membahas mengenai penyakit hati.  Selanjutnya beliau menekankan bahwa dalam menggali sebuah konstruk psikologi dari Alquran, kita perlu memahami konstruk tersebut secara menyeluruh untuk kemudian mengeksplorasi ayat-ayat Alquran yang berkaitan dengan konstruk yang ingin kita gali.

7 Indikator Kesehatan Mental dalam perspektif Psikologi Islam yang dikembangkan oleh Dr. Bagus Riyono

Dalam telaahnya hingga saat ini, Dr. Bagus menemukan 7 indikator yang merujuk pada keadaan kesehatan mental yang baik.  Ketujuh indikator ini berkaitan dengan kondisi hati seseorang, yaitu hati yang Tenang (Peaceful Heart), Utuh (Solid Heart), Penuh (Full Heart), Selaras (Coherent Heart), Seimbang (Balance Heart), Tangguh (Resilient Heart) dan Terus Berkembang (Ever-growing Heart).  Dalam psikologi Islam, keadaan hati seseorang mempengaruhi keadaan mentalnya.

Hati yang tenang merupakan tujuan dari kesehatan mental. Ke-6 kondisi hati lainnya mendukung tercapainya keadaan ini.  Hati yang tenang adalah hati yang damai.  Individu sehat mental mampu berdamai dengan dirinya, orang lain dan juga lingkungannya. 

Ketenangan hati bukanlah sebuah keadaan menetap, hati bisa saja terguncang oleh sebuah peristiwa.  Individu sehat mental akan terus berusaha mengembalikan ketenangan di dalam hatinya dengan menciptakan ketergantungan hanya pada Allah.  Semua hal ia kembalikan pada Sang Maha Pemelihara, yakin akan rahmat dan kasih sayangNya.  Percaya akan adanya hari akhir juga merupakan salah satu jalan untuk membuat hati menjadi tenang.  Apa yang kita alami sekarang in syaa Allah merupakan bekal untuk kehidupan abadi kelak, Allah akan membalasnya dengan adil.  Hati yang tenang menerima semua hal yang telah ditakdirkan Allah untuknya.  Iman adalah kunci utama kesehatan mental.

Hati yang utuh adalah hati yang tidak retak, pecah atau terluka. Individu sehat mental memiliki hati yang tak mudah tergores.  Ia tidak terlalu risau oleh perlakuan orang terhadap dirinya.   Ia tidak mudah terluka.  Hati yang utuh juga tidak menyimpan dendam, sakit hati atau trauma dalam jangka waktu lama.  Memaklumi dan memaafkan merupakan jalan untuk menjaga keutuhan hati. 

Hati yang penuh adalah hati yang tidak memiliki kekosongan di dalamnya. Individu sehat mental tidak merasa kesepian meski ia sedang sendirian.  Ia juga jauh dari rasa hampa dan kehilangan makna hidup.  Kekosongan hati dapat menyebabkan kebimbangan dan keraguan dalam melangkah.  Hati akan penuh bila diisi dengan ilmu dan kesadaran akan kehadiran Allah.

Hati yang selaras adalah gambaran dari tidak adanya pertentangan dalam jiwa seseorang. Individu sehat mental memiliki pikiran, ucapan dan perilaku yang selaras.  Salah satu penyakit hati yang paling berbahaya adalah sifat munafik, yaitu pada saat seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ada di dalam hatinya.  Untuk menjaga keselarasan hati, seseorang perlu jujur pada dirinya dan lingkungannya.

Hati yang seimbang adalah hati yang seluruh komponennya berkembang dengan baik. Dr. Bagus mengemukakan bahwa hati (jiwa) manusia terdiri dari 4 lapisan, yaitu sensing, reasoning, empathy dan conscience.  Keempat komponen ini harus berkerja seimbang.  Individu sehat mental menyadari bahwa hati manusia bisa berbolak-balik.  Bisa saja pada satu saat kita sangat kuat pada aspek reasoning sehingga melupakan empathy atau sebaliknya.  Terkadang kita butuh bantuan orang lain untuk mengingatkan mengenai hal ini.  Kita perlu terbuka untuk mendengarkan pendapat orang lain dan senantiasa mengevaluasi diri.

Hati yang tangguh adalah hati yang tidak mudah patah. Apabila mengalami keadaan tidak menyenangkan, ia menerima keadaan tersebut dan bangkit kembali.  Individu sehat mental selalu memiliki harapan dan kesabaran dalam menjalani hidup, ini adalah kunci dari ketangguhan hati.

Hati yang terus berkembang adalah hati yang selalu ber-tazkiya. Individu sehat mental senantiasa membersihkan dan mengembangkan dirinya.  Hal ini hanya dapat dilakukan melalui ilmu.  Hati yang terus berkembang adalah hati yang senantiasa belajar.  Individu sehat mental terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih bijaksana dari hari ke hari.

Ma syaa Allah, memiliki ketujuh indikator ini tentu tidak mudah.  Namun mengupayakan ketenangan hati dengan terus belajar dapat kita lakukan dan jadikan sebagai sebuah kebiasaan.  Kesehatan mental kita adalah tanggung jawab kita sendiri.  Tentu saja kita tidak akan bisa selalu berada dalam keadaan mental yang optimal tetapi kita dapat berusaha untuk mencapainya.  Semoga Allah mudahkan.  Salam sehat mental, Sahabat.

Mutiara, 29 September 2024
Dian L Izwar


Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.  Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).
QS. Al-baqarah: 155-156


Catatan:

Tulisan ini merupakan rangkuman dari kuliah The 7 Indicator of Mental Health (28 September 2023), buku A Practical Guidebook for Tazkiya Therapy (Bagus Riyono, 2023) dan pemahaman saya dari kuliah-kuliah Dr. Bagus yang pernah saya ikuti sebelumnya.

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *