Layer of the Soul

Jiwa merupakan bagian esensial dari manusia.  Bagaimana seseorang bersikap dipengaruhi oleh keadaan jiwanya.  Kondisi jiwa akan mewujud ke dalam perilaku seseorang. 

Menurut Dr. Bagus Riyono, jiwa manusia terdiri dari 4 lapisan.  Lapisan terluar adalah sensing, berikutnya reasoning, kemudian empathy dan yang terdalam adalah conscience.  Keempat lapisan ini memiliki fungsinya masing-masing tapi saling terkait.

Sensing adalah penghubung antara jiwa dan tubuh.  Melalui sensing, jiwa mengindera sensasi yang terjadi pada tubuh.   Tubuh merasakan sebuah pengalaman melalui lapisan sensing ini.  Pada saat kita memegang sebuah pensil, misalnya, sensing akan merasakan keberadaan pensil tersebut.  Kita tahu bahwa itu adalah sebuah pensil yang berbentuk silinder dan runcing di bagian ujungnya.  Kita juga bisa merasakan bahwa batang pensil itu cukup keras dan berwarna kecoklatan.  Pengetahuan mengenai keadaan pensil tersebut terjadi di lapisan sensing.  Pengetahuan ini juga dapat menimbulkan perasaan tertentu.  Misalnya rasa senang karena bisa memiliki pensil.  Pengalaman di lapisan sensing bersifat here and now, sesuatu yang berada di sini pada saat ini.  Lapisan terluar ini bersifat alamiah dan tidak terlalu membutuhkan banyak pengolahan. 

Lapisan kedua adalah reasoning.  Lapisan ini merupakan penghubung jiwa dengan tanda-tanda atau peristiwa yang telah dikenali keberadaannya melalui sensing.  Dengan reasoning jiwa mengolah pengalaman menjadi sesuatu yang lebih bermakna dari sekedar sensasi indra.  Pertanyaan mengapa, untuk apa, dan apa dampaknya adalah pertanyaan-pertanyaan dasar dalam proses reasoning. 

Mengetahui bahwa benda yang kita pegang adalah pensil terjadi di lapisan sensing.  Memahami bahwa pensil dapat digunakan untuk menulis berlangsung di lapisan reasoning.  Proses penalaran yang terjadi pada lapisan ini membuat kita memahami konsekuensi dari suatu tindakan.  Pensil dapat kita gunakan untuk menulis banyak hal.  Apa yang kita tulis akan memiliki konsekuensi tertentu, bagi pembaca dan penulisnya.  Pemilihan kata-kata yang ditulis dengan memperhatikan tujuan menulis, alasan membuat tulisan dan dampak dari tulisan tersebut merupakan proses reasoning.  Reasoning membuat semua tindakan kita bertujuan dan atau beralasan secara logis.  Kemampuan jiwa berproses pada tahap ini tidak terjadi dengan serta merta melainkan membutuhkan latihan.

Empathy merupakan lapisan ketiga.  Empathy menghubungkan jiwa antar manusia.  Di lapisan ini kita berusaha untuk memahami apa yang terjadi pada orang lain. Empathy membuat kita memperlakukan orang lain secara setara, mengetahui apa yang mereka butuhkan dan rasakan serta memahami alasan mereka melakukan sesuatu.  Lapisan inilah yang membuat kita terkoneksi dengan sesama, memunculkan rindu, cinta maupun emosi-emosi lainnya. 

Jika kita merindukan seseorang, misalnya, kita dapat menulis surat (menggunakan pensil yang telah kita ketahui keberadaannya melalui sensing dan melewati proses reasoning yang bertujuan untuk menyampaikan perasaan rindu yang akan memberikan rasa senang di hati kita dan orang yang kita rindukan).  Pada saat menulis dan memikirkan orang tersebut, jiwa kita terkoneksi dengannya.  Bisa saja orang tersebut akan teringat pada kita dan menulis surat juga, atau menelepon, bahkan datang berkunjung.  Saya teringat pengalaman saat memikirkan seseorang.  Saat saya memutuskan untuk meneleponnya, telepon yang saya tuju menjawab dengan nada sibuk.  Ternyata pada saat yang sama ia juga menelepon saya.  Empathy-lah yang bertanggung jawab terhadap hal ini. Empathy menghubungkan jiwa kita dengan jiwa yang lain. Emphathy membutuhkan latihan untuk dapat terus terasah.

Lapisan terdalam adalah conscience, kita dapat menyebutnya nurani.  Ini adalah lapisan yang menghubungkan jiwa dengan Allah.  Conscience merupakan bagian terkuat dari jiwa dan menentukan kualitas dari lapisan lainnya.  Ia bagaikan energi dalam jiwa seseorang.  Apabila bagian ini baik, maka ketiga lapisan lainnya pun akan bekerja dengan baik.  Sebaliknya, lapisan-lapisan yang lain akan ikut terganggu jika hubungan kita dengan Allah menjauh. 

Kembali pada aktivitas menulis surat dengan pensil, conscience akan membuat kita menuliskan hal-hal positif.  Kita akan mensyukuri perasaan rindu yang Allah hadirkan di hati, mengingat kebesaran Allah yang memberikan kemampuan bagi manusia untuk menulis dan hal-hal lain yang berkaitan dengan spiritualitas sehingga proses menulis surat tersebut akan makin mendekatkan kita pada Allah dan juga membawa pembaca untuk mengingat Sang Pencipta melalui tulisan kita.  Hal ini akan terjadi dengan sendirinya karena conscience yang baik akan mewarnai lapisan-lapisan yang lain.  Conscience perlu terus dipelihara.  Kita butuh untuk senantiasa bertazkia, mendekatkan diri pada Yang Maha Memelihara.

Kesehatan mental tercapai apabila keempat lapisan jiwa ini bekerja dengan optimal.  Dalam jiwa yang sehat, sensasi pada lapisan sensing akan diproses lebih lanjut oleh reasoning dan empathy untuk kemudian dimaknai oleh conscience sebagai bentuk dzikrullah, mengingat Allah dengan mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut.  Tidak berfungsinya salah satu lapisan berpotensi menimbulkan masalah psikologis pada individu. 

Masalah psikologis ini bisa berdampak buruk bagi diri sendiri mau pun orang lain.  Reasoning yang tidak berjalan dengan baik dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan yang “tidak masuk akal”.  Ketidakmampuan mengantisipasi konsekuensi bisa menjadi penyebab seseorang berbuat sesuatu yang akan disesali di kemudian hari.  Empathy yang tidak terasah bisa menjadi dasar seseorang memperlakukan orang lain dengan tidak semestinya.  Conscience yang meredup dapat membuat seseorang melakukan hal-hal yang dilarang. 

Saya merenung.  Tindakan promotif dan preventif merupakan hal mendasar yang perlu dilakukan dalam menjaga kesehatan jiwa.  Kita perlu mempertahankan kesehatan jiwa dan mengembangkan kompetensi di setiap lapisannya.  Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kita untuk melakukan hal ini.  Bismillah.  Mari mulai dengan mendekatkan diri pada Sang Pemilik jiwa.

Mutiara, 23 Maret 2022

Dian L Izwar

#Refleksi kuliah sesi kesebelas “The 126-hour program on Islamic Psychology as the science of human soul, cognition, emotion and behavior”.  Sabtu, 19 Maret 2022, 20.00-22.00 WIB oleh Dr. Bagus Riyono, MA, Psikolog


“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman).

dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat.”

QS. Al-A’la 14-15


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

2 thoughts on “Layer of the Soul”

  • July 21, 2022 at 10:49
    Permalink

    Maa sya Allah… tabarakallah…
    Sangat bermanfaat sharing catatannya, Ukhty Dian…

    Reply
    • July 21, 2022 at 11:00
      Permalink

      Alhamdulillah. Wa fiiki barakallah, Mbak Lila.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *