Kenapa Harus ke Psikolog
“Kenapa harus ke Psikolog? Suami saya bilang begitu, Bu,” ujar sang istri di awal sesi kedua pertemuan kami.
Pada proses konseling pernikahan, saya memang meminta klien untuk mengajak pasangannya turut hadir di ruang konseling. Saya ingin mendapatkan sudut pandang dari pasangan mengenai masalah yang sedang melanda. Di samping itu, saya juga berharap dapat menggali harapan kedua belah pihak terhadap pernikahan serta kendala yang mereka rasakan dalam membina relasi rumah tangga yang sehat.
Pada kasus-kasus yang saya jumpai di ruang praktik, masalah rumah tangga sering berawal dari komunikasi yang kurang selaras dan pemaknaan yang bias terhadap apa yang sedang dihadapi. Kita tahu persepsi seseorang dipengaruhi oleh banyak hal. Terkadang pesan tidak disampaikan dengan baik atau tidak tertangkap sesuai dengan makna yang diinginkan pemberi pesan. Akibatnya adalah persepsi yang keliru terhadap pasangan dan berujung pada konflik.
Dalam sesi konseling, saya berusaha memetakan masalah yang ada seobyektif mungkin sehingga pihak-pihak yang terlibat dapat melihatnya dengan jernih. Untuk itulah saya membutuhkan masukan dari semua pihak, dalam hal ini klien dan pasangannya.
“Dia merasa kalau ke psikolog itu cengeng, Bu. Kayak nggak bisa nyelesein masalah sendiri,” lanjut sang istri.
Saya tersenyum. Mengakui adanya masalah dan mau menerima bantuan membutuhkan keberanian tersendiri. Sebenarnya, setiap manusia telah Allah bekali dengan nurani dan kemampuan berpikir untuk menghadapi tantangan hidup.
Namun adakalanya awan emosi memenuhi pikiran sehingga kemampuan akal untuk berpikir menjadi tidak optimal, pengambilan keputusan tidak lagi disandarkan pada pertimbangan yang logis. Sayangnya tidak semua orang dapat menyadari keberadaan awan emosi ini dan tidak semua pula dapat menghalaunya secara mandiri. Pada saat inilah bantuan orang lain diperlukan.
Jadi kenapa harus ke psikolog? Tidak harus selama kita dapat menyelesaikan masalah secara mandiri. Psikolog hanyalah profesional yang diberikan sedikit anugerah untuk memahami perilaku manusia. Dalam sesi konseling, psikolog berusaha membantu klien untuk mengikis awan emosi, melihat peluang yang mungkin tak tampak, meluaskan pilihan-pilihan penyelesaian masalah dan mengenal diri sendiri dengan lebih baik. Sesungguhnya penyelesaian masalah datang dari Allah. Tugas kita adalah berusaha mencari jalan keluar melalui sarana-sarana yang telah Allah sediakan, baik dari dalam diri mau pun yang berada di luar diri kita.
Kembali pada kasus di atas, bila pasangan hidup kita sedang membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan masalahnya, tidak mau kah kita membantu? Bukankah sebaik-baiknya suami adalah yang paling baik pada keluarganya?
Mutiara, 24 Oktober 2024
Dian L Izwar
Sungguh, Kami telah menurunkan ayat-ayat yang memberi penjelasan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk).
QS. An-Nur: 46
