Lelah Hati
Hari itu pulang sekolah tidak ada ibu
Perut lapar tapi belum ada masakan
Aku nangis dan juga marah
Aku temukan ibu di rumah belakang, meringkuk ditutupi cucian yang belum dilipat
Ibu diam meski aku panggil, memejamkan mata meski tak tidur
Hanya diam, tidak melakukan apa-apa, tidak juga menangis
Aku gak paham apa yang terjadi sama ibu
Aku gak berani bertanya
Sekarang aku tahu jawabannya
Ibu capek, ibu depresi
Ibu butuh me time tapi gak tahu harus kemana
Ibu butuh curhat tapi gak tahu sama siapa
Ibu hanya bisa diam untuk kendalikan gejolak jiwanya
Kini aku tahu saat itu ibu tengah berjuang, ibu sedang berperang
Cuma bisa diam dan berharap orang di sekitar paham
Sedang ada badai besar di dalam diri
Yang memorak-porandakan akal sehat dan hati nurani
Ada keinginan dan kenyataan yang berlawanan, saling bertabrakan
Dan itu jauh lebih berat dari mengandung 7 anak
=======
Saya menerima kiriman tulisan di atas dari seorang sahabat. Ia tengah merasakan apa yang dulu dirasakan oleh ibunya, sesuatu yang ia tidak mengerti pada saat itu. Sebuah keadaan yang terasa sangat berat tapi tidak bisa dibagi dengan siapa pun. Bagaimana seorang ibu bisa sampai pada kondisi ini?
Tuntutan sosial terkadang membuat ibu harus menjadi wanita super. Ibu tak boleh lelah karena ia bertanggung jawab untuk segala urusan, mulai dari anak, suami, orang tua, mertua serta keluarga besar hingga menu di meja makan dan semua urusan rumah. Pada beberapa keluarga, harapan tinggi yang disandarkan padanya membuat ibu tanpa sadar harus selalu “bekerja keras”.
Terkadang ibu juga sering disalahkan (atau merasa bersalah) bila ada hal dalam keluarga yang tidak sesuai harapan. Anak nakal, anak sakit, anak tidak berprestasi di sekolah adalah salah ibu. Suami jarang pulang, juga salah ibu. Asisten rumah tangga tidak betah bekerja pun salah ibu. Tanpa sadar ibu dituntut untuk jadi “sempurna” dan ini bisa menjadi beban tersendiri baginya.
Pada beberapa kasus, ibu tidak punya tempat berbagi. Ia harus menanggung semuanya sendiri, terutama bila suami sangat sibuk di luar rumah dan pulang dalam keadaan letih. Alih-alih membantu ibu yang sedang kewalahan, malah sang suami yang butuh perhatian. Ini membuat ibu seakan tak punya jeda, tak punya ruang dan waktu untuk dirinya sendiri.
“Alhamdulillah ada anak saya yang sudah dewasa. Anak-anak bisa membantu saya untuk melawan apa yang saya rasakan, Alhamdulillah anak-anak bisa bantu ngerawat adiknya biar saya punya waktu untuk merawat diri, olahraga & bersantai.” Tulis sang sahabat.
Alhamdulillah, sang sahabat lebih beruntung dari ibunya. Anak-anaknya dapat memberikan dukungan emosi dan juga mengambil alih sebagian “beban”nya. Hal inilah yang dibutuhkan oleh seorang ibu atau siapa pun yang sedang berada dalam kondisi lelah secara psikologis.
Kepekaan kita dalam melihat perubahan emosi dan perilaku akan sangat berarti bagi mereka yang sedang mengalami kelelahan psikis. Kita perlu ADA untuk mereka.
ADA berarti hadir secara penuh. Amati apa yang terjadi padanya tanpa membuatnya terusik. Dengarkan ceritanya tanpa menilai atau memberi saran. Arahkan ia pada orang-orang yang dapat membantunya berdasarkan informasi yang diperoleh dari mengamati dan mendengarkannya. Mungkin kita bisa menghubungi atau memintanya bercerita pada pasangan, keluarga, sahabat, guru, ulama atau tenaga profesional kesehatan mental (psikolog, konselor, psikiater).
Yang mereka butuhkan adalah lingkungan aman tempat mereka dapat menjadi dirinya sendiri tanpa harus dibebani oleh hal-hal yang mereka persepsi sebagai sesuatu yang berat. Bisa saja apa yang dirasakan berat bagi seseorang adalah hal kecil bagi kita. Namun kita perlu menerima apa yang dirasakan sebagai sebuah kebenaran dari sudut pandang mereka. Bukankah bila tangan kita sedang sangat letih, untuk mengangkat sendok pun rasanya berat?
Empati merupakan langkah awal untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang mengalami kelelahan secara psikis. Sebuah pelukan atau genggaman erat bisa sangat berarti. Ada kalanya duduk diam di samping mereka saja sudah cukup. Tak perlu bertanya, temanilah tanpa kata. Jangan memaksa bicara atau kepo terhadap kisah mereka. Luruskan niat untuk membantu dan berilah waktu. Semoga Allah berikan ketenangan dan petunjuk pada jiwa mereka. Doakan dengan tulus tanpa mereka perlu tahu.
Bismillah, semoga Allah mudahkan kita untuk peka dan peduli pada saudara-saudara kita yang sedang mengalami ujian psikis dan semoga Allah anugerahkan kebaikan pada mereka yang tengah diuji. Semoga rahmat Allah senantiasa terlimpah bagi kita semua.
Mutiara, 11 September 2025
Dian L Izwar
“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Q.S. Al-Baqarah: 155-157
#Terima kasih untuk sahabat dapurhati yang telah berbagi cerita. Semoga Allah limpahkan kebaikan selalu untuk sahabat dan keluarga.
