Dimarahi Mak
Meski telah punya banyak anak, baru kali ini saya melihat Kati memarahi anaknya. Dati diseret dengan paruhnya ke pinggir sarang. Sepertinya Kati menyuruh Dati keluar.
Dati berumur sebulan saat Kati memarahinya siang itu. Biasanya anak merpati meninggalkan sarang pada usia sekitar 30 hari, terkadang lebih cepat. Beberapa anak aktif berlatih mengepakkan sayap dan belajar terbang, bahkan ada yang sampai terjatuh dari sarang. Dati bukan bagian dari anak-anak itu. Meski sayapnya sudah panjang, ia seperti enggan terbang. Dati memilih tetap berada di sarang.
Saya tidak tahu apa yang membuat Dati berbeda. Apa karena ia hanya sendiri? Umumnya merpati mengerami dua telur yang menetas dalam waktu berdekatan. Kala itu Kati juga mengerami dua telur tapi hanya satu telur yang menetas. Dati dibesarkan induknya sebagai anak tunggal. Bila 2 anak berebut mengejar mulut induk saat diberi makan, Dati mendapat lolohan dari dua induk tanpa perjuangan. Saya duga ia berkembang menjadi anak burung yang manja.
Kati sepertinya tahu bahwa sudah saatnya Dati terbang. Ia memaksa anaknya meninggalkan sarang. Dati tak punya pilihan. Ia duduk di luar. Namun tetap tak mau terbang. Dati hanya duduk saja di kandang. Apa ia tak berani terbang?
Keesokan harinya saya melihat Dati masih di kandang. Temboloknya kosong. Sepertinya dari kemarin ia tidak disuapi. Apakah Kati dan Putih benar-benar sudah tak mengacuhkan anak mereka? Saya berpikir bagaimana cara membantu Dati. Ia belum bisa makan sendiri. Sampai kemarin pagi Dati masih diloloh.
Saya masih memperhatikan tembolok Dati yang tampak rata ketika burung remaja itu mengeluarkan suara manja memanggil induknya. Rupanya Putih mendekat. Alhamdulillah. Saya melihat gelagat Putih akan menyuapi anaknya.
Saya tahu Putih sangat rajin memberi makan Dati. Di antara para jantan di kandang, Putih tergolong bapak yang sangat memperhatikan anak. Putih pernah menyuapi anaknya hingga burung kecil itu terguling karena temboloknya lebih besar dari badannya. 🙂
Dati menyambut Putih dengan penuh semangat. Sepertinya ia sangat lapar. Putih mendekati Dati tapi tidak membuka mulutnya. Putih tak menghiraukan rengekan Dati. Sejenak kemudian ia terbang menjauh. Dati mengejarnya. Ma syaa Allah. Dati terbang!
Putih berhenti menunggu Dati, kemudian terbang kembali. Ternyata Dati bisa terbang cukup tinggi. Putih membawanya ke tempat makanan di luar kandang.
Putih mulai makan. Dati mengikuti. Ia mematuk jagung dan kacang hijau yang ada di sana. Ma syaa Allah. Putih melatih Dati makan sendiri. Saya terharu melihat bagaimana Kati dan Putih berhasil membuat Dati mau terbang dan makan sendiri, sebuah kerjasama dan disiplin yang baik.
Kisah Dati membawa ingatan saya pada ibu yang tidak tega bersikap tegas seperti Kati, juga orang tua yang tak rela anaknya “kelaparan” seperti yang dialami Dati hari ini. Beberapa orang tua cenderung memenuhi semua kebutuhan anak dengan serta merta, tak suka mendengar rengekan dan tak tahan melihat air mata.
Anak-anak yang selalu mendapatkan sesuatu dengan mudah cenderung menjadi pasif dan tidak mau berusaha, laksana Dati yang enggan terbang meski sayapnya telah panjang. Diperlukan ketegasan dan rasa tega untuk memberi anak pengalaman yang dapat memotivasinya untuk berkembang lebih baik. Sore ini Allah menunjukkan hal ini pada saya melalui Kati dan Putih. Ma syaa Allah. Semoga tulisan ini menjadi ibrah. Semoga Allah senantiasa memberi hidayah bagi kita dalam mendidik anak-anak untuk menjadi mandiri dan berbahagia di jalanNya. Aamiin.
Mutiara, 4 Desember 2024 Dian L Izwar
“Seseorang mendidik anaknya itu lebih baik baginya daripada ia mensedekahkan (setiap hari) satu sha.”
HR At-Tirmidzi
