Tombol Lift
Saat menaiki lift menuju kamar seusai sarapan, dua kakak beradik dan ibunya bergabung bersama saya.
Begitu pintu tertutup, si kakak langsung menekan tombol angka 9.
Sesaat kemudian si Adik merajuk, “Aku! Aku yang pencet. Abang terus!”
Sang ibu berkata lembut pada anak perempuannya, “Kan tinggi, jadi Abang yang pencet.”
Angka 9 memang berada pada posisi yang tak terjangkau oleh si Adik.
Balita itu diam saja.
Saat lift berhenti di lantai 9, sang Ibu berkata, “Sekarang Adik pencet tombol keluar.”
Gadis kecil itu pun menekan tombol open.
Meski tak dapat melihat wajahnya, saya kuat menduga ia keluar dengan keadaan emosi yang lebih baik. In syaa Allah.
Yang saya sukai dari sikap ibu muda tadi adalah responnya terhadap kebutuhan psikologis si Adik. Secara logika, pintu lift akan terbuka dengan sendirinya pada saat kita sampai di lantai tujuan tanpa harus menekan tombol apa pun. Namun kesempatan untuk juga bisa menekan tornbol seperti sang Kakak merupakan hal penting bagi si Adik. Ibu yang bijak ini memberikan kesempatan itu. Ma syaa Alah.
Dalam pengasuhan, ada kalanya kita perlu mendahulukan pemenuhan emosi daripada penjelasan Iogika. Saat anak berada dalam keadaan emosi yang kuat – sangat marah, sedih, kecewa bahkan gembira – kita perlu menenangkan dulu emosi ini sebelum memberi penjelasan logis. Informasi mengenai letak tombolnya tinggi sehingga tak terjangkau oleh adik, tidak akan dapat diolah secara optimal pada saat ia masih marah. Setelah tenang, kita dapat memberinya penjelasan dan in syaa Allah ia akan mengerti kenapa pada saat menuju kamar selalu Abang yang menekan tombol lift.
Selanjutnya pada saat turun ke restoran atau lobi, ibu bisa memberi kesempatan pada adik untuk menekan tombol L yang berada dalam jangkauan tangannya. Dengan melakukan hal ini, in syaa Allah anak-anak akan memahami bahwa adil itu tidak selalu berarti sama. Adil adalah memberikan kesempatan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan seseorang. Mereka pun dapat belajar bahwa setiap orang akan mendapatkan kesempatannya masing-masing. Mungkin tidak pada saat yang sama tapi kesempatan itu in syaa Allah ada. Keyakinan akan hal ini merupakan modal yang sangat baik apabila mereka menemukan kesulitan atau ketidakadilan dalam hidupnya di masa yang akan datang.
Semoga Allah senantiasa memberi hidayah pada ibu tadi dan juga kita semua dalam mendidik sang buah hati menjadi hambaNya yang bijaksana. Aamiin.
Medan Petisah, 25.05.2025
Dian L Izwar
Muliakanlah anak-anak kalian dan ajarkanlah mereka tata krama.
HR. Ibnu Majah
