Puncak Karier
Waktu itu kami sedang berbincang mengenai acara Pengukuhan Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang tengah berlangsung di Balai Sidang Universitas Indonesia, Kampus Depok. Prof. Dr. Bagus Takwin, M.Hum, Psikolog yang akan dikukuhkan sebagai guru besar adalah kakak tingkat saya di Fakultas Psikologi UI. Kami turut senang dengan keberhasilan beliau. Sebagai seorang dosen, guru besar merupakan tingkat karier tertinggi yang dapat diraih.
“Sedang di puncak karier ya, ma syaa Allah,” tulis seorang teman dalam untaian percakapan kami di grup WhatsApp.
Saya sepakat. Prof. Bagus Takwin saat ini juga menjabat sebagai dekan Fakultas Psikologi UI, sebuah jabatan tertinggi di tingkat fakultas. Bisa dikatakan beliau memang sedang berada di puncak karier.
Di tengah perbincangan mengenai karier para guru besar, seorang sahabat melontarkan pertanyaan menarik.
“Puncak karier kalau untuk ibu rumah tangga kayak gimana ya?” Kemudian dia melanjutkan, “Penting nih, supaya ibu rumah tangga tak kehilangan makna.. hehehhe..”
“Memberi dukungan, cinta dan ketenangan untuk suami dan anak-anak dalam rida Allah,” jawab saya kala itu.
Ibu rumah tangga berkarier di rumah. Ketika ia menghadirkan ketenangan di dalam rumah, in syaa Allah anggota keluarga lain akan berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing. Ini adalah arah karier seorang ibu rumah tangga; menjadi sahabat bagi suaminya dan menjadi coach bagi anak-anaknya. Dua peran ini membutuhkan pengetahuan dan keahlian. Seorang perempuan perlu membekali diri dengan pengetahuan yang cukup dan terus berkembang seiring dengan perkembangan suami dan anak-anaknya. Ia perlu menjadi teman diskusi yang asyik bagi seluruh anggota keluarga.
Perempuan merupakan sumber daya terbesar di dalam keluarganya. Istri adalah tempat pulang suami yang mendambakan ketenangan setelah bergumul dalam hiruk pikuk dunia. Ibu adalah sosok yang dicari anak. Suara ibu membawa rasa nyaman, dekapan ibu mengalirkan kehangatan. Ibu juga madrasah utama anak. Ibulah yang pertama membimbing anak untuk dapat berjalan tegak menyambut tantangan dunia. Semakin bersinar seorang ibu, maka akan semakin bersinar pula keluarga itu. Karier utama ibu rumah tangga ada di dalam rumahnya.
“Dibalik suami dan anak-anak yang hebat, ada istri dan ibu yang hebat ya, Mbak,” komentar sahabat yang lain.
Saya merasa pepatah populer ini mempunyai makna yang dalam. Perempuan yang mendukung keberhasilan suaminya dan mengantarkan anak-anaknya meraih prestasi gemilang adalah perempuan hebat. Namun kehebatannya memang tak terlihat dari luar karena kiprahnya dilakukan di balik layar, bukan di atas panggung. Apakah dengan itu perempuan menjadi nomor dua? Apakah dengan itu peran seorang ibu rumah tangga menjadi kehilangan makna? Saya rasa tidak.
Perempuan dalam fitrahnya berkarier di ranah domestik. Ia memang diciptakan untuk menjadi penyeimbang laki-laki yang berkarier di luar. Perbedaan ranah karier ini menjadikan tolok ukur keberhasilan juga berbeda. Tidak ada employee of the month dalam karier ibu rumah tangga. Tidak ada promosi atau jabatan yang kian tinggi. Jika keberhasilan disandarkan pada hal-hal di atas, bisa jadi seorang ibu rumah tangga merasa tidak berprestasi. Ia merasa demikian bukan karena tidak ada prestasi, tetapi karena acuan yang dijadikan kriteria untuk menilai prestasinya tidak relevan.
Makna keberhasilan dari seorang ibu rumah tangga jauh lebih dalam dari apa yang terlihat oleh mata dunia. Pada saat seorang perempuan mengabdikan dirinya pada keluarga dalam upaya meraih rida Rabb-nya, puncak kariernya adalah rasa bahagia saat ia menjalankan peran yang telah dipilihnya. Wallahu a’lam.
=======
Selamat Hari Ibu, Sahabat. Semoga perempuan-perempuan Indonesia senantiasa berbahagia dalam kiprahnya masing-masing.
Menjelang siang di Jakarta berhujan, 22 Desember 2024
Dian L Izwar
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”
QS. An-Nahl: 97
