Siap-Siap
“Minta ukuran bajunya ya, biar bisa dipesan sekarang. Penjahitnya lama libur Lebarannya.”
Demikian permintaan seorang kerabat dalam menyambut sebuah acara pernikahan. Acaranya masih 3 bulan lagi, tapi semua dipersiapkan jauh-jauh hari.
Sibuknya sudah terasa dari sekarang. Hari yang penting memang perlu persiapan maksimal. Rapat keluarga digelar, panita dibentuk, daftar undangan hingga jadwal acara di hari H dipersiapkan dengan detil. Semua berusaha agar jangan sampai ada yang terlewat karena ini hari yang sangat istimewa.
Rasanya senang terlibat dalam kesibukan seperti itu. Menanti hari yang penting menimbulkan semangat di hati. Ada rasa harap bercampur cemas. Harap akan semua berjalan sesuai harapan dan cemas bila nanti ada yang kurang pas. Deg-degannya bikin seru. Ini sesuatu yang besar. Sebuah hari yang ditunggu-tunggu. Ma syaa Allah. Saya rasa kita semua pernah mengalami ini.
Di hari ke-19 Ramadan ini saya merenung. Bila hari pernikahan, hari wisuda, hari ulang tahun, hari wawancara kerja dan hari-hari penting lainnya kita persiapkan sedemikian rupa, bagaimana dengan lailatul qadar? Di 10 hari terakhir Ramadan ini ada sebuah malam yang lebih baik dari 1000 bulan, sejauh mana persiapan kita?
Saya membaca bahwa orang-orang saleh terdahulu biasa mengambil “cuti” selama bulan Ramadan. Mereka hanya fokus beribadah selama bulan mulia ini, mempersiapkan diri menyambut lailatul qadar. Ma syaa Allah. Saya belum bisa seperti mereka, saya tetap praktik, tetap mengajar, tetap bekerja. Namun marilah berusaha semampu kita untuk menyambut malam terbaik ini dengan persiapan yang terbaik pula.
- Mari mengatur jadwal agar kita bisa menghidupkan malam di 10 terakhir Ramadan. Butuh strategi agar dapat terjaga di malam-malam mulia ini.
- Mari susun rencana agar semua urusan tetap berjalan lancar sementara kita sedang mengisolasi diri untuk mendekat pada Sang Pemilik Hidup. Apa yang bisa kita delegasikan? Apa yang bisa kita tunda?
- Mari niatkan untuk melakukan amal saleh secara optimal di malam-malam mulia ini. Ulama mengatakan amal tergantung niat. Bila sudah diniatkan tapi ada hambatan pada saat akan melakukan, in syaa Allah akan tetap tercatat sebagai amal saleh.
Selamat menyambut lailatul qadar, Sahabat. Semoga Allah rida pada usaha kita. Semoga Allah mudahkan kita untuk mendekat padaNya. Allahumma balighna lailatul qadar wa ibadatan fiiha.
Cempaka Putih menjelang Dhuha di 19 Ramadan 1446 H
Dian L Izwar
Dari ‘Aisyah radhiyallahu anha, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam: jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menjawab: Berdo’alah
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni“
Ya Allah, Engkau Maha Memberi Maaf dan Engkau suka memberikan maaf, karenanya maafkanlah aku (hapuslah dosa-dosaku).”
HR. Tirmidzi
