Satu Koin
“Bagaimana cara melupakan hal-hal negatif, Bu?” tanya seorang peserta Senior Development Program Bank Syariah Indonesia pada pelatihan Living with Stress di Jakarta beberapa hari lalu. Saya menjawabnya melalui sebuah cerita.
Alkisah, seorang raja sangat senang melihat bunga yang bermekaran kala berjalan-jalan di taman istana. Tukang kebun yang bekerja merawat bunga-bunga itu pun dipanggil.
“Seratus koin emas. Hadiah untuk ketekunanmu merawat bunga-bunga ini,” ujar Sang Raja.
Setelah raja belalu, tukang kebun itu melompat-lompat kegirangan. Dipandanginya kantung kecil pemberian Sang Raja. Belum pernah ia memiliki koin emas sebanyak itu. Seratus koin emas! Ia merasa benar-benar beruntung, sangat-sangat bahagia. Bergegas ia pulang untuk berbagi kebahagiaan dengan istrinya.
Sambil bersenandung kecil ia melangkah riang menuju rumah. Sesekali meraba balutan kain di pinggang tempat ia menyimpan kantung hadiah pemberian raja. ‘Tapi, apa benar isinya 100 koin?’ Pikiran ini terlintas tiba-tiba. Agar merasa pasti, ia memutuskan untuk menghitung jumlahnya.
Pada saat mengeluarkan isi kantung, sebuah koin terjatuh dan menggelinding jauh. Tukang kebun itu panik. Sebuah koin emas sangat berharga. Ditelusurinya semua kemungkinan arah koin itu menggelinding, diulanginya berkali-kali. Namun yang dicarinya tak kunjung tampak.
Remang senja memaksanya pulang. Ia tak lagi bisa melihat dengan jelas. Sebuah koin emas hilang dibalik rerumputan jalan setapak yang ia lalui. Kegundahan meraja di hatinya. Rasa bahagia berganti nestapa.
Dengan murung ia bercerita, “Raja memberiku 100 koin emas, tapi aku menghilangkan 1 koin. Sekarang hanya ada 99 koin.”
“Sembilan puluh sembilan koin ini sangat banyak. Tidak usah pikirkan 1 koin yang hilang itu,” ujar istrinya.
“Seharusnya kita punya 100 koin,” ia tetap bersedih hati.
“Kemarin kita tidak punya 1 koin pun. Sekarang kita punya 99 koin. Ini sudah lebih dari cukup.” Istrinya mencoba membuka mata sang suami.
“Andai saja aku tidak menghitungnya di jalan. Kalau saja aku sabar menunggu hingga tiba di rumah, kita masih punya 100 koin.” Penyesalan dan rasa bersalah pun hadir menyertai kekecewaan yang ada.
“Itu sudah terjadi. Kau sudah berusaha mencarinya. Biarkan saja, mari kita pikirkan apa yang akan kita beli dengan 99 koin emas ini,” istrinya mencoba mengalihkan perhatian sang suami.
“Tidak. Aku akan mencarinya lagi besok. Satu koin emas terlalu berharga untuk dihilangkan. Aku harus menemukannya kembali.” Tukang kebun itu bersikeras.
Saat mentari muncul keesokan hari, sang tukang kebun pun mulai mencari koinnya yang hilang. Hari demi hari ia habiskan mencari satu koin itu hingga tak lagi sempat menikmati 99 koin yang ia miliki.
Kembali pada pertanyaan bagaimana cara melupakan hal negatif? Kita tidak perlu dengan sengaja berusaha melupakan atau menganggapnya tidak pernah terjadi. Yang perlu dilakukan adalah memindahkan fokus. Bila terlintas hal negatif, terimalah hal itu apa adanya. Akui rasa yang ada. Terima ia sebagai sebuah pengalaman, kemudian pindahkan fokus pada hal-hal yang lebih positif.
Dalam kasus-kasus di ruang konseling, saya menemukan banyak klien memilih mencari satu koin yang hilang dibandingkan memanfaatkan 99 koin yang mereka miliki. Mereka terus merasa kurang, lelah dan tidak bahagia. Padahal mereka dianugerahi limpahan rahmat yang mereka tidak lihat.
Dengan memindahkan fokus pada hal positif, in syaa Allah suasana hati akan berubah. Rasa senang dan tenang in syaa Allah hadir menggantikan sedih dan gelisah. Saya melihat ini pada klien-klien yang datang dengan mata berbinar pada kunjungan berikutnya, tentunya setelah mereka secara konsisten mengerjakan ‘pekerjaan rumah’ untuk mengalihkan fokus.
Salah satu pekerjaan rumahnya adalah menuliskan minimal 1 hal yang disyukuri setiap hari. Penelitian menunjukkan bahwa menulis jurnal syukur secara rutin bermanfaat bagi kesehatan mental. Hal ini merupakan salah satu bentuk latihan memindahkan fokus. Mengarahkan perhatian pada hal baik yang kita alami, memanfaatkan apa yang kita miliki dan menghargai sekecil apa pun progres yang kita lakukan adalah langkah awal menuju kesehatan mental. Saya rasa hal ini menjelaskan mengapa pribadi yang bersyukur akan merasakan nikmat yang kian bertambah, sementara kepedihan akan menyertai mereka yang memilih untuk hanya melihat apa yang kurang. Wallahu a’lam.
Mutiara, 15 Oktober 2025
Dian L Izwar
(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”
Q.S. Ibrahim: 7
