Kabur
“Pernah mondok?” Saya bertanya saat membaca lembar isian yang ditulisnya.
“Iya, tapi nggak betah,” pemuda di hadapan saya menjawab santai.
“Aku nggak suka boarding school. Jadi, aku kabur aja,” lanjutnya.
“Kabur?”
“Iya. Bilang nggak betah sama orangtua, disuruh sabar. Minta jemput, nggak dijemput. Jadi aku kabur aja.” Ia bercerita dengan ringan.
“Jadi pesantrennya nggak tamat?” Saya mengkonfirmasi catatan yang ada.
“Nggak lah. Kan kabur… kabur pertama, balik lagi. Yang kedua nggak..” Ia tertawa kecil.
Karena tidak suka dengan sistem yang ada, ia memutuskan untuk meninggalkan pesantren yang dipilihkan orangtuanya. Ia pergi begitu saja. Fasilitas belajar yang ada ditinggalkan. Ia memilih tak menyelesaikan pendidikan karena situasi sekolah berbeda dengan yang biasa ia temui di rumah.
Di penghujung Ramadan ini, kisahnya hadir di ingatan saya. Saya terbayang peluang belajar yang hilang dan aneka fasilitas pilihan yang tidak dimanfaatkan. Orangtuanya telah menyediakan sarana belajar terbaik tapi ia memilih pergi. Kesempatan dalam genggaman dilepaskannya dengan ringan. Apakah kita juga demikian?
Bagi saya Ramadan adalah pesantren. Saya meyakininya sebagai bentuk kasih sayang Allah. Ramadan dihadirkan dengan janji balasan berlipat atas kebaikan yang kita lakukan. Ramadan hadir dengan janji ampunan bila kita memohon. Ma syaa Allah. Kita hanya perlu mengoptimalkan ibadah di bulan ini. Melakukan hal terbaik di hari-hari mulia demi Allah semata. Tentu iramanya akan berbeda dengan keseharian di bulan lain, karena Ramadan memang berbeda.
Lailatul qadar hanya ada di bulan ini. Sebuah kesempatan emas untuk membersihkan diri dan memperoleh ampunan ada di 10 malam terakhir Ramadan. Allah berikan lailatul qadar agar ibadah semalam bernilai lebih dari 1000 bulan. Agar kita yang usianya tak sepanjang umat-umat terdahulu dapat juga kesempatan beribadah dalam bilangan panjang. Ma syaa Allah. Betapa sayangnya Ar-Rahman pada kita, betapa adilnya Sang Maha Pencipta.
Semoga kita dapat optimalkan sisa hari yang masih ada. Tak berpikir “bolos” karena di 10 hari terakhir banyak “kelas malam”. Ramadan tak memaksa. Ia juga tak memberi ijazah. Ia hanya tak bisa menunggu. Ramadan hadir berbatas waktu. Bagi yang tak terpacu, Ramadan akan berlalu tanpa meninggalkan rindu.
Mari kuatkan hati seraya memohon petunjukNya agar kita dapat optimalkan semua peluang dan fasilitas premium yang disediakan Ramadan. Semoga kita dapat mengisi malam-malam spesial ini dengan ibadah terbaik. Allahumma ballighna lailatul qadr.
Rabbana taqabbal minna.
Mutiara, 15 Maret 2026/ 25 Ramadan 1447 H
Dian L Izwar
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu? Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan.
QS. Al-Qadr: 1-3
